Tag Archives: anak

… And They Will Live Happily Ever After (A Branding Strategy for Our Kids)

1 Mei 2012

Image courtesy of scottchan/ Freedigitalphotos.net

Image courtesy of scottchan/ Freedigitalphotos.net

No.

It’s not a fairy tale.

Tadi siang, saya berada di suatu pusat perbelanjaan mewah yang berada di kawasan bisnis Jakarta. Saya menikmatinya. Saya jarang berada di suasana kerja yang formal. Lingkungan pekerjaan saya tidak mengharuskan setelan kerja resmi, berdasi, atau bersepatu hak tinggi. Jadi, tadi saya benar-benar menikmati pemandangan menjelang makan siang. Para eksekutif berkelompok berjalan lalu lalang. Pasti mereka orang-orang pilihan sehingga bisa berada di sentra bisnis utama di negara ini. Lalu saya berpikir, kualifikasi apa yang mereka miliki sehingga terpilih? Setelah terpilih, bagaimana caranya untuk bisa menjadi unggul dan mendapatkan posisi yang baik sehingga bisa menikmati hidup? Continue reading

Menambah Masa Cuti Mengurangi Resiko Depresi Pasca Melahirkan

12 Desember 2013

mom with baby work

Image courtesy of franky242/ Freedigitalphotos.net

Sciencedaily.com pada akhir 2013 lalu mengungkapkan hasil penelitian dari University of Maryland, yang dilakukan oleh Dagher, McGovern, dan Dowd, perihal implikasi kebijakan cuti melahirkan terhadap terjadinya depresi pasca melahirkan (Post Partum Depression). Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa semakin lama masa cuti melahirkan yang diambil oleh seorang wanita setelah ia melahirkan, akan menurunkan resiko wanita tersebut mengalami apa yang disebut depresi pasca melahirkan. Dr. Rada K. Dagher merupakan asisten profesor administrasi pelayanan kesahatan di University of Maryland School of Public Health. Continue reading

Belajar “Bangga” dari Si Franklin….

 

Franklin the turtle YT

Image courtesy of Youtube

Empat tahun yang lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk diskusi intensif dengan seorang teman yang telah melakukan penelitian mengenai pengenalan emosi pada anak. Salah satu hasil penelitiannya adalah, bahwa anak-anak yang menjadi sampel penelitiannya “tidak biasa” atau “kurang mengenali” emosi “bangga”. Mungkin karena orang dewasa di Indonesia jarang mengekspresikan kata “I’m proud of you…” seperti yang biasa kita dengar dalam adegan-adegan percakapan ibu/guru dengan anak di film barat. Atau mungkin juga karena dalam kultur Indonesia, “bangga” dikonotasikan dengan “sombong”.

Continue reading

Cara Menjadi Ayah yang Berkualitas bagi Anak

dad with kid in the park

Image courtesy of Jade Brookbank/ Gettyimages.com

Seorang ayah memiliki peran yang penting dalam tumbuh kembang anaknya. Baik menurut agama, menurut akal sehat, dan kini, secara empiris terbukti melalui beragam penemuan ilmiah. Karena itulah, pemahaman “aku harus melibatkan diri dalam pengasuhan anak” sudah dimiliki banyak ayah sekarang, terutama ayah-ayah muda. Namun demikian, tak dapat disangkal ada sekian banyak faktor yang menjadi pertanyaan serta hambatan yang dirasakan ayah, yang membuat niat untuk terlibat menjadi tak benar-benar terwujud secara nyata. Continue reading

Alasan Orang Tua Marah pada Anak

angry son

Image courtesy of David Castillo Dominici/ FreeDigitalPhotos.net

Oke, jadi sebetulnya perilaku anak yang umumnya menjadi alasan orangtua untuk marah adalah perilaku yang wajar ya? Yes, tampaknya begitu. Lalu mengapa orangtua akhirnya menjadi marah walaupun semua anak lainnya berperilaku yang sama dengan anak mereka? Sebagian besar alasan orangtua kira-kira sebagai berikut: Continue reading

Apakah Perlu Marah Pada Anak?

mother angry son

Image courtesy of David Castillo Dominici/ FreeDigitalPhotos.net

Akhir-akhir ini saya tergelitik dengan pola umum pengasuhan anak pada keluarga muda di ibukota tercinta, Jakarta. Mengapa? Karena hampir setiap saya berjalan-jalan ke tempat umum, selalu terlihat orangtua yang melakukan sejumlah kekerasan pada anak. Setidaknya sejumlah perilaku ini yang saya lihat: membentak anak dengan keras di depan umum; mengancam akan melakukan/melarang sesuatu jika anak tidak menuruti; menggerutu atau mengejek anak tentang perilaku yang tidak disukai; dan sesekali ada perilaku fisik seperti cubitan di tangan. Continue reading

Internet dan Anak: Steril? Atau Smart?

29 April 2013

Internet seakan telah menjadi oksigen dalam kehidupan sehari-hari kita. Tak hanya selalu ada di sekitar kita, tapi juga memang kita butuhkan. Sekarang ini, mana tahan hidup sehariiiii aja tanpa internet. Ada yang perlu untuk kirim imel bisnis yang harganya ratusan juta, ada yang butuh internet untuk mencari referensi ilmiah yang sangat signifikan untuk kualitas penelitiannya, ada yang menderita kalau gak ada internet karena gak bisa apdet status, hahaha….

Tak hanya pada orang dewasa, paparan internet terhadap anak-anak kita pun tampaknya semakin sulit untuk dihindari. Ada warnet, bb, ipad, wifi di banyak tempat…itulah realitanya sekarang. Apalagi di kota besar. Apalagi di Bandung.

Continue reading

“Critical Periods” VS “Sensitive Periods”

 

mother and daughter

Image courtesy of Ambro/ FreeDigitalPhotos.net

8 Nov 2012

Dalam dunia perkembangan manusia, kita mungkin sering mendengar frase “critical periods”  atau “masa kritis” (biasanya paling sering kita denger di iklan ya..;). Secara umum, biasanya frase ini dimaknai sebagai “waktu dimana stimulasi untuk aspek tertentu perlu dilakukan. Jika waktu tersebut sudah terlewati, ya sudahlah……”. Misalnya, diyakini bahwa usia 0-5 tahun adalah waktu kritis untuk daya ingat anak, sehingga di rentang usia ini, ibu-ibu yang ingin anak-anaknya menjadi hafidz, harus mulai program menghafal AlQur’an bagi anak-anaknya. Karena kalau sudah lewat usia 5 tahun, sudahlah….

Continue reading