Kursus Bersyukur

Image courtesy of tawatchai/FreeDigitalPhotos.net

Beberapa waktu lalu, di sebuah grup Whatsapp, seorang bapak bernama Paulus Tri Wahyudi memberikan kursus bersyukur bagi para anggotanya. Saya termasuk salah satu yang ikut di dalamnya.
Alasan saya mengikuti kursus ini adalah karena saya mencoba menyelami pergulatan batin saya dalam mencari kebahagiaan. Suatu ketika, saya pernah melakukan penelitian mengenai apa yang membuat orang bahagia. Hasilnya adalah beberapa orang merasakan kebahagiaan dari mensyukuri hal-hal yang ada di sekitar mereka dan sebagiannya merasakan kebahagiaan dari hal-hal besar yang lebih abstrak.
Mensyukuri hal-hal yang ada di sekitar mencakup dapat melihat anak kita bertumbuh besar setiap hari, dapat menyelesaikan pekerjaan di kantor, maupun menikmati hidangan yang tersedia di rumah.
Sedangkan hal-hal besar yang lebih abstrak misalnya bisa membahagiakan orang lain, atau bahkan tercapainya perdamaian dunia.
Saya pernah merasakan ketidakbahagiaan. Pada saat melihat terjadinya peperangan, konflik, atau ada orang yang kelaparan, saya merasa sedih. Hal ini menyebabkan saya tidak bahagia. Saat merasa kesepian, saya juga merasa tidak bahagia.
Kemudian saya mengikuti kursus bersyukur dari PTW. Kursus ini dibagi menjadi tiga tahapan, dan dalam setiap tahapannya kita seakan mengasah inderawi kita untuk mensyukuri setiap hal yang kita terima setiap harinya. Saya baru menyadari, bahwa selalu ada hal yang bisa disyukuri setiap hari. Selalu ada alasan yang membuat kita dapat merasa bersyukur.
Penelitian menunjukkan bahwa jika kita dikelilingi oleh orang yang sering mengeluh, berpikir negatif, maka kita juga akan turut berpikir negatif. Apabila kita dikelilingi oleh orang-orang yang berpikir positif dan senantiasa bersyukur, maka kita akan mulai melihat hal-hal yang lebih positif.
Setiap agama mengajarkan kita untuk mensyukuri nikmat yang diberikan Sang Pencipta. Syukur itu bukan hanya diucapkan dalam perkataan, tapi juga dalam bentuk apresiasi kita terhadap karunia yang diberikan oleh-Nya.
Setelah menjalani kursus bersyukur selama 21 hari, saya merasakan adanya penerimaan atas diri saya, atas apa yang sekarang saya jalani, dan lingkungan di sekitar saya.
Terima kasih pak PTW, karena telah membimbing kami untuk menjalani kursus bersyukur.

hesti 2013

Hesti Farida Al Bastari, Sarjana Psikologi dari Universitas Padjadjaran, melanjutkan pendidikannya di Magister Sains Psikologi Sosial Universitas Indonesia. Ia adalah associate Konsultan SDM di Jakarta. Pada tahun 2013, bersama rekan komunitas, mengembangkan blog psikologi Psychologythoughts.com.

(Visited 13 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments