Konsep Diri Positif melalui Tatanan Rambut Anak

Mendidik Anak untuk Mencintai Diri Sendiri melalui Tatanan Rambut

Image courtesy of nenetus at FreeDigitalPhotos.net

“Ah kawaiiii!!!”
(Ah! Imutnya!!)
Ujar beberapa orang saat kami menumpang sebuah lift di sebuah pusat perbelanjaan.

“Nan sai desuka? Kawaii desune… kaminoke ha totemo kawaiii! Mama ha jouzu desune”
(Berapa usianya dek? Kamu imut banget! Rambutnya bagus sekali. Mama jago ya)

Biasanya Oshin (panggilan sayang si kecil) hanya tersenyum malu-malu sambil memeluk saya. Lalu saya menjawab sambil tersenyum, “Arigatou gozaimashita. Iie, amari jouzu dewanai desu.”
(Terimakasih. Ah tidak, saya tidak mahir)

Sebetulnya apa yang saya lakukan tidaklah istimewa. Hanya memakaikan pakaian yang bersih dan serasi, lalu memastikan agar rambut si kecil tertata rapi.  Namun yang sering mengundang apresiasi adalah tatanan rambut/ kepangan si kecil. Saya memang cukup detail ketika menata rambutnya. Walaupun pada awalnya tidak terlalu mahir, saya berupaya berlatih sedikit demi sedikit mengandalkan berbagai sumber (thanks to youtube).  Tentu saja dengan melibatkan sang model, yaitu putri saya sendiri.

Pernahkah si kecil ngamuk, tidak sabaran, berlari kesana kemari, atau bahkan tertidur saat sedang ditata? Jawabannya PERNAH. Sebagai balita berusia 3,5 tahun yang sehat dan aktif, putri saya awalnya tidak betah duduk berlama-lama tanpa melakukan apapun. Tapi kok akhirnya bisa? Tentu saja! Karena anak pada prinsipnya adalah tabula rasa yang menyerap apapun yang diajarkan padanya. Semua tergantung caregiver dalam hal ini orang tua sebagai pendidik.

Pertanyaan selanjutnya yang mungkin terdengar:

“Kok mau repot-repot menata rambut si kecil sampai segitunya? Toh, nanti juga acak-acakan lagi”

Nggak usah didandani juga udah lucu. Kan ngabisin waktu, Bun. Lagian nyiksa anak itu Bun disuruh diem nggak ngapa-ngapain”

“Bun, nanti malah jadi seneng dipuji dan seneng pamer lho anaknya kalau terbiasa dipuji begitu”

Ups, saya tidak mendidik si kecil untuk menjadi pribadi yang haus pujian atau tukang pamer kelebihan fisik. Lalu apa manfaatnya? Kan cuma kepang-kepang rambut saja. Terlihat sepele namun inilah manfaat yang bisa diperoleh :

1. Meningkatkan kepercayaan diri anak.
Pernah dengar istilah “Dress for success”? Ya, penampilan memiliki pengaruh positif pada tingkat kepercayaan diri seseorang sehingga memberi energi untuk melakukan suatu hal.

2. Membuat anak selalu merasa dicintai, diperhatikan oleh sang ibu.
Bonding dan keterikatan akan terbangun saat melalukan aktivitas berdua bersama si kecil. Saat-saat inilah ibu bisa menanamkan nilai-nilai moral dan etika pada si anak (karena si anak berada pada kondisi yang rileks)

3. Menciptakan kedekatan psikologis antara ibu dan anak.
Anak perempuan mana yang tidak senang didandani ibunya? Hanya dengan komitmen untuk meluangkan waktu dan perhatian tulus ibu ketika mendandani buah hatinya, sesederhana apapun bentuknya, anak akan merasa hanya ibunyalah yang bisa melakukan hal sederhana namun indah ini kepadanya. Sampai kapan pun, dimanapun berada si anak akan selalu terkenang akan jari jemari hangat sang ibu ketika menyisir, mengikat, mengepang, dan memakaikan aksesoris ke rambutnya.

4. Melatih dan membiasakan anak merawat, merapikan, dan membersihkan diri
Mengajarkan anak self hygiene dan personal care sejak dini adalah investasi terbaik bagi si anak ketika tumbuh nanti. Anak yang pakaian dan rambutnya tertata akan terbiasa menjaga kebersihan dirinya. Ia tidak ingin pakaian atau rambutnya rusak dan kotor sehingga akan segera membersihkan diri ketika mengetahui ada sesuatu yang mengotori tubuhnya.

5. Melatih self regulation dan tingkat kesabaran anak.
Dalam kasus saya, mengepang dan mendandani anak membutuhkan waktu minimal 20 menit. Anak akan terbiasa duduk tenang, tanpa melihat gadget ataupun melakukan hal lain walau terkantuk-kantuk karena merasa terlalu nyaman saat rambutnya diutak-atik oleh ibunya.

6. Melatih anak untuk mencintai dan menghargai dirinya sendiri
Dengan membiasakan anak merawat dan menata diri, sang anak meyakini bahwa dirinya indah dan berharga. Jika anak telah merasa berharga, ia akan mencintai dirinya sendiri

7. Mendandani dan menata rambut anak adalah sebuah seni dalam bentuk yang sederhana.
Jiwa yang mengenal seni, adalah jiwa yang peka, sensitif dan mudah berempati. Untuk mengenal seni, sang anak harus memahami konsep keindahan. Dengan menata dan mengepang rambut anak, menerima apresiasi atas tatanan rambutnya, anak sedikit demi sedikit belajar mengenai konsep keindahan.  Dalam kasus saya, Oshin selalu senang saat rambutnya dikepang/didandani ibunya karena ia sering mendapat apresiasi dari orang lain. Dengan kata lain ia mendapat reward atas kesabarannya. Ia menjaga rambutnya sepenuh hati agar tidak rusak.

8. Ketika si anak telah mengenal konsep keindahan dan seni, ia akan menjaga sepenuh hati agar hal yang ia anggap indah tersebut tidak rusak. Dalam hal ini, Oshin berupaya menjaga agar tatanan rambutnya tidak rusak (termasuk oleh tangan jahil ayahnya).
Untuk jangka panjang si anak akan lebih mudah dididik untuk mencintai dan menjaga keindahan alam dan lingkungan.

9. Menciptakan kedekatan psikologis antara ibu dan anak.
Mendidik dan  menunjukkan kasih sayang kepada anak tidak selalu harus melalui media yang mahal atau rumit. Ketika ibu menunjukkan kasih sayang dan perhatiannya dengan tulus melalui media apapun, niscaya si anak bisa merasakan bahasa cinta ibunya.

Saat anak mencintai dirinya sendiri, ia akan memiliki self concept yang positif sehingga bisa mencintai lingkungan dan orang lain dengan lebih baik pula. Self concept yang positif akan meminimalisir potensi pembully-an yang dilakukan oleh anak lain yang biasanya terpancing karena “mencium” aroma ketidakpercayaan diri si anak.

Setiap orang tua memiliki gaya dan caranya dalam mendidik anak. And this is my style, to teach them to love and care of them self first.

Sushan Bomeykawaty Sugiarto, mahasiswa pasca sarjana jurusan Psikologi Sosial di Tohoku University, Sendai, Miyagi Jepang. Lulus dari program sarjana Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, Ibu dari seorang putri ini berprofesi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Badan Kepegawaian Negara dan juga bekerja paruh waktu sebagai Academic Tutor di Tohoku University.

(Visited 31 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments