Hitam dan Putih

Image courtesy of meepoohfoto/Freedigitalphotos.net
Apakah setiap orang di dunia ini dibedakan menjadi hitam dan putih, baik dan buruk? Apakah sudah ditetapkan adanya bahwa seseorang itu akan berlaku baik, dan orang lain menjadi penjahat? Itulah mungkin yang berada di pikiran Dr. Zimbardo saat menjalankan eksperimen kontroversialnya, Stanford Prison Experiment. Sebuah eksperimen dimana para mahasiswa yang menjadi subyek penelitian dibagi secara acak menjadi dua kelompok, kelompok sipir penjara dan kelompok narapidana, lalu mereka berdiam selama dua pekan di ruang bawah tanah di Stanford University yang dirancang menjadi sebuah penjara.

Yang terjadi pada eksperimen tersebut adalah, mereka yang menjadi sipir penjara melakukan tindakan kekerasan verbal dan fisik terhadap para “narapidana”. Ada narapidana yang menunjukkan gejala depresi, dan dua orang memutuskan keluar dari penelitian sebelum masa eksperimen selesai. Di tengah-tengah penelitian, saat situasi mulai berada di luar kendali, Zimbardo memutuskan untuk mengakhiri penelitiannya.

Sekelompok orang baik mungkin akan menganggap bahwa dirinya tidak akan pernah melakukan kekerasan kepada orang lain, sama seperti mahasiswa yang berperan sebagai sipir penjara dalam penelitian Zimbardo. Namun ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi orang yang pada dasarnya baik melakukan kekerasan terhadap orang lain.

Pertama, bahwa ada sisi gelap dari diri kita yang dapat muncul ke permukaan saat kita berada dalam kondisi di bawah tekanan. Dalam berperilaku, kita mengenakan topeng yang disesuaikan dengan lingkungan dimana kita berperan. Saat kita menjadi orang tua di rumah, karyawan di kantor, anak yang baik, kita menunjukkan sikap dan tingkah laku yang berbeda. Tidak menutup kemungkinan, saat kita berada dalam kondisi di bawah tekanan, atau dalam kondisi dimana kita menganggap bahwa tidak ada orang yang mengawasi kita, kita melakukan tindakan yang dapat menyakiti orang lain.

Kedua, tidak ada orang di sekeliling kita yang mengingatkan kita, bahwa apa yang kita lakukan itu salah. Seorang mahasiswa yang berperan sebagai sipir penjara, menyatakan hal yang membuatnya heran adalah bahwa tidak ada satupun, orang-orang di sekelilingnya, yaitu sesama sipir penjara, yang mengatakan bahwa apa yang dilakukannya itu adalah salah. Pada saat tidak ada orang yang menyatakan demikian, maka menjadi pembenaran bagi dirinya untuk melakukan tindakan kekerasan tersebut, lagi dan lagi.

Ketiga, orang yang kita harapkan menjadi figur otoritas, tidak mengatakan apapun saat kita melakukan tindakan kekerasan. Guru, orang tua, atau orang yang kita hormati, berdiam diri dan tidak mengemukakan opini apapun saat kita menyakiti orang lain. Kita seakan diberitahu bahwa yang kita lakukan itu benar.

Keempat, orang yang menjadi korban, tidak melakukan perlawanan. Kita awalnya melakukan tindakan kekerasan verbal terhadap seseorang, lalu ia tidak melawan. Kita lalu meningkatkan tindakan kekerasan tersebut menjadi kekerasan fisik, sedikit hukuman untuk push up, sedikit pukulan, atau mengurungnya di dalam ruangan. Secara tidak sengaja, target kekerasan kita menjadikan kita figur otoritas yang berada di atas dirinya dan berhak melakukan apapun.

Kelima, lingkungan sekitar memberikan dukungan atas situasi kekerasan yang kita lakukan. Suasana di malam hari dimana orang lain beristirahat, sudah pulang dari kantor, dan tidak ada siapapun di sekitar, membuat kita merasa aman saat melakukan tindakan kekerasan terhadap orang lain. Rasa lapar, kondisi mabuk setelah minum minuman keras, dan kegembiraan setelah pesta juga dapat memicu kita untuk menjadi mudah marah terhadap orang yang terlihat tidak berdaya. Ruangan yang sempit dan pengap membuat kita kekurangan hawa segar dan oksigen, membuat kita tidak dapat berpikir jernih.

Dengan menyadari bahwa ada hal-hal yang dapat memicu orang yang biasanya baik untuk melakukan tindakan kekerasan, maka kita dapat menjaga diri untuk menghindari kondisi tersebut, dan memastikan ada kelompok pendukung berisi teman-teman dan lingkungan sekitar yang senantiasa mengingatkan, apabila kita akan melakukan tindakan menyakiti orang lain, baik itu kekerasan verbal, maupun kekerasan fisik.

Referensi:

Stanford Prison Experiment https://en.wikipedia.org/wiki/Stanford_prison_experiment

Zimbardo, P.G. (2007). The Lucifer Effect: Understanding How Good People Turn Evil. New York: Random House

hesti 2013

Hesti Farida Al Bastari, adalah Sarjana Psikologi dari Universitas Padjadjaran, bekerja part time sebagai associate untuk Konsultan HR di Jakarta. Dengan rekan-rekannya sesama alumni, tahun 2013 ia mengembangkan blog psikologi Psychologythoughts.com.

(Visited 29 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments