Manfaat dan Bahaya Musik

boy-and-music

Image Courtesy of Serge Bertasius Photography/Freedigitalphotos.net

Stephen Malloch (1999) dari University of Western Sydney MacArthur Australia, mengemukakan istilah Communicative Musicality, yaitu komunikasi manusia yang dibangun dari unsur-unsur musik. Komunikasi ini bertumbuh kembang antara ibu dan anak sejak dalam kandungan. Setelah lahir, kita melihat bayi ‘berbicara’ dengan suara tangisan.

Seorang ibu terlatih untuk mengetahui arti tangisan bayi yang berbeda-beda, apakah karena lapar, buang air, atau merasa tidak nyaman. Tangisan bayi berbeda dari volume, warna suara, tinggi nada, dan unsur-unsur musik lain. Bayi pun terlatih untuk membedakan suara ibunya, ayahnya, atau orang lain.

Unsur-unsur musikal menjadi media komunikasi pertama manusia. Oleh karena itu, musik memiliki kekuatan untuk ‘membedah’ manusia hingga ke alam bawah sadar. Melalui kegiatan mendengarkan dan memainkan musik tertentu, terapis musik berlandaskan Psikoanalitik, membantu individu untuk mengakses akar permasalahan di alam bawah sadar, seperti trauma atau kemarahan yang tertahan.

Dengan penanganan yang sesuai, musik memang bermanfaat. Mendengarkan musik dapat membuat mood positif dan produktif dalam bekerja. Meski begitu, terkadang mendengarkan lagu tertentu juga membuat kita jadi baper. Tidak jarang suatu lagu membangkitkan memori-memori di masa lalu yang tidak menyenangkan, membuat mood negatif, kehilangan konsentrasi, hingga berperilaku agresif. Pada situasi ini, musik justru berbahaya.
Mari mengenali batas-batas diri kita dalam mendengarkan dan memainkan musik. Pilihlah musik yang akan membuat kita produktif. Musik yang membangkitkan memori atau perasaan yang tidak menyenangkan sebaiknya digunakan dalam situasi terapi dengan pendampingan profesional oleh psikolog dan musik terapis.

roswita
Roswita Amelinda, psikolog, peneliti terapi musik, praktisi angklung, direktur IndoLecture

(Visited 99 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments