Belajar Bekerjasama dari Bermain Angklung

2016817112642

Pemain Angklung / Image courtesy of Roswita Amelinda (dok.istimewa)

Angklung, alat musik dari bambu, lahir dari daerah pegunungan di Jawa Barat. Angklung tergolong dalam folk music atau musik rakyat. Ciri khasnya adalah dimainkan bukan untuk menonjolkan keindahan karya seni atau keahlian seseorang. Musik rakyat sangat fungsional, seperti untuk meramaikan upacara adat atau menjaga nilai-nilai suatu masyarakat seperti gotong  royong. Oleh karena itu, musik rakyat cenderung dimainkan bersama-sama.        
Ciri khas ini melekat erat pada permainan angklung. Dengan landasan kebersamaan dan gotong royong, nada-nada pada angklung disebar pada setiap instrumen, sehingga satu instrumen hanya menghasilkan satu nada. Kondisi ini mendorong orang-orang untuk memainkan angklung di dalam kelompok.

Dalam pengalaman penulis sebagai praktisi musik angklung sejak tahun 2002, menggetarkan angklung saja memang sederhana. Tidak perlu keterampilan khusus yang harus diasah dalam waktu lama seperti memainkan piano, gitar, dan sebagainya. Tantangan terberat adalah menjadikan lagu yang utuh dengan angklung. Hal ini karena ada ketergantungan antar setiap nada yang dimainkan setiap pemain. Misal, untuk menjadikan sebuah lagu dibutuhkan 20 buah nada. Satu orang pemain saja tidak hadir, maka setidaknya akan kehilangan satu nada, dan lagu menjadi tidak utuh. Lagu juga sulit terbentuk jika pemain tidak bersedia untuk mengetahui nada yang dipegang masing-masing lalu bekerjasama mengolah nada-nada tersebut.

Orkestra angklung yang produktif adalah wujud dari sebuah kerjasama tim yang mumpuni, dimana anggota-anggota tim memiliki kesediaan untuk 1) saling peduli, 2) saling memahami, 3) saling mendukung, 4) saling mempercayai dan 5) memiliki kesamaan tujuan.

roswita

Roswita Amelinda, Psikolog mayoring Psikologi Kerekayasaan Unpad, praktisi angklung, peneliti terapi musik, direktur IndoLecture

(Visited 50 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments