Ketika Anda Putus Cinta

Mengapa Putus Cinta Bisa Membuat Hancur Sebagian Orang dan Begitu Mudah Bagi Lainnya: Tiga alasan kita terjebak di masa lalu dan cara keluar dari situ

oleh Mariana Bockarova

broken heart

Image courtesy of cuteimage/Freedigitalphotos.net
Sudah tiga tahun lamanya Sabrina, 29 tahun, putus cinta dengan laki-laki yang dipacarinya selama setahun, dia tetap patah hati dan tidak mampu melanjutkan hidup. Meskipun teman dan keluarga menasihatinya untuk melupakan sang mantan, diam-diam ia berharap bahwa satu hari nanti mantannya akan kembali. Namun kenyataannya, mantannya langsung melanjutkan hidup setelah putus dan terus berkencan tanpa terlalu memikirkan Sabrina.

Dari sudut pandang neurobiologis, sebagaimana yang kita tahu, perasaan cinta di otak sama dengan perasaan kecanduan. Ketika kita jatuh cinta, otak kita dibanjiri dengan neurokimia ‘rasa senang’, yang mencakup adrenalin, dopamin, norepinephrin, serotonin,  dan jika kita memiliki ikatan yang kuat dengan pasangan kita, oksitosin. Zat-zat kimia ini membuat kita sangat bersemangat begadang semalaman berbincang dengan orang terkasih itu, memikirkan dirinya tiap menit tiap hari, dan tentunya, melakukan berbagai hal yang tidak mungkin kita lakukan ke orang lain. Ada syair lagu terkenal dari band Proclaimers, “I would walk 500 miles and I would walk 500 more, just to be the man who walked a thousand miles to fall down at your door (aku rela berjalan 500 mil dan berjalan 500 mil lagi, hanya untuk menjadi pria yang menempuh 1000 mil yang tersimpuh jatuh di pintumu)”

Namun, seiring dengan berjalannya hubungan dan kita mulai menjalani hidup sehari-hari dengan pasangan kita, unsur neurokimia tadi juga cenderung mereda. Dan memang seharusnya seperti itu: Repot sekali menjalani hidup jika kita hanya memikirkan pasangan kita sepanjang hari, karena kita tidak akan bisa melakukan pekerjaan apapun. Namun, ketika putus cinta, otak kita mundur kembali ke perasaan cinta berbunga-bunga yang pernah kita rasakan. Penyebabnya adalah saat kita sudah terbiasa dengan cinta dan tiba-tiba berpisah, pusat reward di otak kita justru mencari umpan balik yang dulu pernah ada,  dan terus melepaskan neurokimia kita yang mengharuskan kita melekatkan diri kembali. Tanpa pasangan, tidak ada reward. Dan hasilnya, kita merasakan rasa sakit hati yang mendalam, yang tidak dapat dibedakan otak dari rasa sakit fisik.

Mengapa proses ini begitu menyakitkan? Dari sudut pandang evolusi, kita dibentuk untuk membangun ikatan, yang membantu kita bertahan diri sebagai spesies. Dan meskipun kita telah berevolusi, ada bagian yang begitu mengakar di dalam otak kita yang tidak berubah. Kehilangan hubungan begitu menyakitkan dan kita terdorong untuk menghindari rasa sakit, melekatkan diri kepada orang lain, dan membangun ikatan lagi. Namun,  sudut pandang neurobiologis tidak menjelaskan mengapa ada orang dengan mudah melanjutkan hidup dari hubungan yang berakhir, tapi yang lain tetap kecanduan dan patah hati meskipun melalui proses perpisahan yang sama.

Jika hubungan yang berakhir adalah hubungan tanpa siksaan, trauma atau sakit mental, maka satu penghambat utama mengapa kita tidak dapat move on adalah keyakinan yang diromantisir bahwa hanya ada satu “cinta sejati” untuk Anda di dunia. Dari sudut pandang ini, cinta terjadi pada pandangan pertama dan cinta dapat menaklukkan semuanya.  Jika Anda menganut gagasan bahwa hanya ada satu orang di luar sana untuk Anda, dan jika Anda menganggap pacar yang baru saja putus dengan Anda adalah jodoh Anda, akan sulit mengalahkan keyakinan yang sudah berakar ini. Yang mungkin menyakitkan sebenarnya adalah ketidakmampuan untuk memahami bahwa mantan pasangan kita mungkin memiliki keyakinan yang berbeda tentang cinta,  mereka tidak terlalu melihatnya sebagai konsekuensi takdir namun lebih dari proses berkembang, mencari kecocokan, dan memenuhi kebutuhan satu sama lain.

Jika Anda menganut keyakinan yang diromantisir, salah satu cara untuk memulai proses penyembuhan setelah putus adalah untuk mengakui jika mantan pasangan memang  jodoh Anda, maka dia tidak akan memutuskan hubungan. Anda juga bisa mengkaji ulang keyakinan Anda yang diromantisir tentang cinta sebagai proses yang bisa dialami beberapa kali dengan sejumlah orang dalam hidup Anda.

Satu alasan mengapa kita tidak mau melepaskan perasaan lama kita tergantung dengan gaya kelekatan (attachment style) kita. Dari tiga cara kita bisa melekatkan diri dengan orang lain secara romantis, orang dengan gaya kelekatan cemas (21 persen dari populasi di Amerika Serikat) cenderung untuk tergantung kepada pasangannya selama berhubungan dan paling sulit untuk melanjutkan hidup. Bahkan  jika hubungannya sudah tidak sehat, orang dengan gaya kelekatan cemas lebih cenderung membayangkan dan bahkan membuntuti mantannya, terutama jika mereka yang diputuskan cintanya. Hal ini menghambat move on, karena jarak psikologi penting untuk benar-benar putus. Anda dapat menghapus foto, email, sms, dan informasi kontak mantan pasangan Anda, dan menghindari tempat yang mengingatkan dirinya. Bertemu teman lama, dan berkenalan dengan teman baru (apalagi yang sudah memiliki gaya kelekatan yang lebih aman dan bisa menjadi sosok panutan) dapat membantu Anda menyesuaikan gaya kelekatan, yang menurut riset dapat berubah seiring waktu.

Yang terakhir, karena efek Zeigarnik (Di mana orang lebih ingat tugas yang tidak selesai atau terpotong dibanding tugas yang sudah selesai) urusan yang tidak selesai dapat menyulitkan proses move on. Apalagi jika Anda pernah membahas pernikahan, anak-anak, rencana masa depan secara mendalam dengan mantan Anda,  wajar ada perasaan untuk ingin merampungkan tugas itu.
Pemutusan hubungan secara psikologis bisa dilakukan dengan menulis surat “selamat tinggal” terakhir untuk mantan pasangan dan mengirimnya tanpa mengharapkan balasan, atau membuangnya setelah selesai ditulis.

Putus cinta sulit untuk diterima, tapi ada harapan untuk move on.

Bahan Bacaan
Fisher, H. (2004). Why we love: The nature and chemistry of romantic love. Macmillan.
Fisher, H. (2016). Anatomy of Love: A Natural History of Mating, Marriage, and Why We Stray (Completely Revised and Updated with a New Introduction). WW Norton & Company.
Fisher, H. E., Aron, A., & Brown, L. L. (2006). Romantic love: a mammalian brain system for mate choice. Philosophical Transactions of the Royal Society of London B: Biological Sciences, 361(1476), 2173-2186.
Fisher, H. E., Aron, A., Mashek, D., Li, H., & Brown, L. L. (2002). Defining the brain systems of lust, romantic attraction, and attachment. Archives of sexual behavior, 31(5), 413-419.
Hazan, C., & Shaver, P. (1987). Romantic love conceptualized as an attachment process. Journal of personality and social psychology, 52(3), 511.
Levine, a & Heller, R. (2010). Attached: The New Science of Adult Attachment and How It Can Help You Find – and Keep – Love. Penguin.
MacDonald, G., & Leary, M. R. (2005). Why does social exclusion hurt? The relationship between social and physical pain. Psychological bulletin, 131(2), 202.
Savitsky, K., Medvec, V. H., & Gilovich, T. (1997). Remembering and regretting: The Zeigarnik effect and the cognitive availability of regrettable actions and inactions. Personality and Social Psychology Bulletin, 23(3), 248-257.
Wilcox, W. B., & Dew, J. (2010). Is love a flimsy foundation? Soul mate versus institutional models of marriage. Social Science Research, 39(5), 687-699.

Diterjemahkan dengan izin dari artikel asli Mariana Bockarova “Why Breakups Are So Crushing for Some and So Easy for Others”, 17 Juli 2016 yang diunduh dari situs Psychologytoday https://www.psychologytoday.com/blog/romantically-attached/201607/why-breakups-are-so-crushing-some-and-so-easy-others

Mariana Bockarova PhD, adalah peneliti dari University of Toronto, penulis buku Romantically Attached, buku yang bertemakan kecocokan dan stabilitas suatu hubungan.

Penerjemah: Harya Bhimasena, English-Indonesian (simultaneous and consecutive) Interpreter https://www.linkedin.com/profile/view?id=82820879

(Visited 83 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments