Orang Tua dan Empty Nest Syndrome

parents

Image courtesy of Ambro/Freedigitalphotos.net

Sepulang Anda bekerja, mungkin Anda merasa lelah. Meskipun Anda lelah, sempatkanlah diri untuk menghubungi orang tua Anda di kampung halaman. Menghubungi orang tua kita, bisa jadi membantu mereka mengatasi fase yang harus mereka lewati karena berpisah dengan anak-anak yang sudah hidup mandiri. Orang tua kita, terutama mereka yang sudah memasuki fase pensiun, dan anak-anaknya telah meninggalkan rumahnya, adalah orang tua yang berada pada tahap yang disebut empty nest.
Empty nest, bukan emptyness – yang berarti kekosongan -, lebih berarti suatu kondisi di dalam keluarga dimana anak-anak mulai meninggalkan rumah orang tua mereka, untuk bekerja atau untuk pergi kuliah dan hidup mandiri.

Orang tua mungkin merasakan kesedihan dan kesendirian pada saat memasuki fase ini. Sebenarnya ini adalah fase yang wajar dan sehat dijalani oleh setiap keluarga, sehingga gejala-gejala yang menunjukkan bahwa seseorang mengalami empty nest syndrome cenderung sulit untuk dikenali.

Bila seseorang mengalami kesedihan dalam memasuki fase ini, ia dapat mengalami depresi, perasaan kehilangan, perasaan ditolak, kekhawatiran, stres, dan kecemasan akan kesejahteraan anaknya. Apakah anaknya telah tercukupi kebutuhannya atau tidak, menjadi kekhawatiran orang tua yang berada dalam fase ini.

Menurut Psikolog Alzena Masykouri, dikaitkan dengan teori perkembangan psikososial Erikson, fase empty nest syndrome berlangsung kurang lebih bersamaan dengan fase perkembangan terakhir dari tahapan perkembangan Erikson yaitu Integrity vs Despair. Tahapan ini berlangsung saat seseorang memasuki usia 65 tahun hingga akhir kehidupannya, meskipun rentang usia beragam di berbagai negara berdasarkan perbedaan dimulainya masa pensiun dan faktor budaya.

Pada periode inilah seseorang mulai merenungkan kembali makna hidupnya dan kemudian merasakan pemenuhan kehidupannya atau malahan merasa putus asa atas kesalahannya dalam menjalani hidup. Pertanyaan utama pada fase ini adalah “Apakah saya telah menjalani kehidupan yang bermakna?”. Bila memang dirasa demikian, seseorang akan memasuki tahapan kebajikan atau wisdom di dalam hidupnya, bila tidak, ia mungkin akan merasakan putus asa.

Bagaimana caranya kita membantu orang tua kita melewati periode ini? Yaitu dengan memastikan tetap terjalinnya kontak dengan orang tua. Teknologi saat ini telah mendukung untuk saling memberi kabar, baik melalui surat, telepon, media sosial, dan surat elektronik.

Orang tua juga dapat menghabiskan waktunya dengan menjalani hobi atau aktivitas yang ia senangi. Berkegiatan dengan kawan-kawan melalui kegiatan sosial atau reuni dapat membantu orang tua melewati fase ini.

Terakhir, ada pula anak yang menganggap bahwa keberadaan mereka di rumah dapat membantu orang tua mereka. Namun riset terkini menunjukkan, bahwa anak yang tinggal di rumah orang tua mereka saat sudah dewasa ternyata menurunkan tingkat kebahagiaan pernikahan. Keberadaan anak meningkatkan kecemasan orang tua akan kesejahteraan anak mereka, dan menambah pekerjaan rumah tangga terutama bagi para ibu.

Bahan Bacaan:

Parker-Pope, T. (2009, January 19). Your nest empty? Enjoy each other. The New York Times. Retrieved from http://www.nytimes.com/2009/01/20/health/20well.html?_r=2
Duvall, E.M. (1984). Marriage and Family Development. Harper Collins Publisher.
Wikipedia. Empty Nest Syndrome. https://en.wikipedia.org/wiki/Empty_nest_syndrome

hesti 2013

Hesti Farida Al Bastari, adalah Sarjana Psikologi dari Universitas Padjadjaran, bekerja part time sebagai associate untuk Konsultan HR di Jakarta. Dengan rekan-rekannya sesama alumni, tahun 2013 ia mengembangkan blog psikologi Psychologythoughts.com.

(Visited 244 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments