Tentang Kebahagiaan

happy family

Image courtesy of photostock/Freedigitalphotos.net

Seseorang bertanya, apakah Anda bahagia? Iya juga ya, apakah saya bahagia? Bagaimana saya dapat mengatakan bahwa saya bahagia? Apa itu kebahagiaan? Bagaimana caranya saya bisa bahagia?

Ilmuwan pun memiliki pertanyaan yang sama perihal bagaimana kita mendefinisikan kebahagiaan. Kebahagiaan didefinisikan secara bergantian dengan istilah “subjective well being” – kesejahteraan subyektif seseorang. Bahwa orang dapat merasa tercukupi, terpenuhi kebutuhannya adalah faktor yang sangat personal yang mengacu pada diri masing-masing individu.

Subjective well being ini diukur dengan bertanya kepada para responden, seberapa puaskah diri mereka dengan kehidupan mereka dan seberapa besar emosi positif dan negatif yang mereka alami. Dalam bukunya yang diluncurkan tahun 2007, berjudul The How of Happiness, peneliti psikologi positif Sonja Lyubomirsky menggambarkan kebahagiaan sebagai “pengalaman kesenangan, kepuasan, atau kesejahteraan positif, yang dikombinasikan dengan perasaan bahwa hidup seseorang itu adalah baik, bermakna, dan bermanfaat.”

Lyubomirsky melakukan penelitian di Amerika Serikat dan Rusia dan mendapati bahwa di kedua negara, bagaimana cara pandang orang memahami kebahagiaan mereka adalah berbeda. Di Amerika Serikat, kebahagiaan dihubungkan dengan hal-hal yang sifatnya materi, berwujud, misalnya keluarga, uang, sukses, rumah, dan seterusnya. Di Rusia, kebahagiaan dihubungkan dengan hal-hal yang sifatnya spiritual atau abstrak, misalnya terwujudnya perdamaian dunia, keindahan, dan sejenisnya.

Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana kebahagiaan itu dimaknai berbeda di setiap negara dan terdapat faktor budaya dari negara yang bersangkutan. Di Indonesia, mungkin akan berbeda pula cara masyarakatnya memaknakan kebahagiaan.

Mengapa orang perlu untuk bahagia? Berikut alasannya menurut Christine Carter, seorang peneliti tentang kebahagiaan, sebagaimana dikutip dari situs Greater Good UC Berkeley:
– Kebahagiaan itu bagus untuk kesehatan kita: Orang yang bahagia akan lebih jarang sakit, dan hidup lebih lama.
– Kebahagiaan itu bagus untuk hubungan kita: Orang yang bahagia akan lebih mungkin untuk menikah dan mengalami pernikahan yang memuaskan, dan mereka memiliki lebih banyak teman.
– Orang yang bahagia menghasilkan lebih banyak uang dan lebih produktif di tempat kerja.
– Orang yang bahagia lebih murah hati.
– Orang yang bahagia menangani stres dan trauma dengan lebih baik.
– Orang yang bahagia lebih kreatif dan lebih mampu melihat gambaran besar dari suatu masalah.

Lalu bagaimana cara untuk menjadi bahagia? Lyubomirsky dan peneliti lainnya menemukan kunci-kunci kebahagiaan yaitu:
– Menciptakan hubungan sosial, karena itu adalah kunci kebahagiaan. Dengan menjalin hubungan dengan orang, kita memiliki orang yang dapat kita dukung dan mendukung kita suatu saat kita sedang terpuruk.
– Ucapkan terima kasih. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang membuat “buku harian yang berisi ungkapan syukur” merasakan optimisme dan kepuasan lebih dalam hidup mereka. Dan penelitian menunjukkan bahwa menuliskan “surat ucapan terima kasih” kepada orang yang belum pernah Anda berikan ucapan terima kasih secara layak membuat Anda merasa bahagia.
– Lakukanlah kebajikan. Orang ternyata merasa lebih bahagia jika mereka memberikan sebagian pendapatan mereka untuk orang lain dibandingkan dihabiskan sendiri, meskipun awalnya mereka pikir sebaliknya. Saat kita melakukan hal baik untuk orang lain, bagian otak kita yang terkait dengan rasa senang dan mendapat hadiah menjadi aktif.
– Singkirkanlah rasa dendam. Jika kita memaafkan mereka yang telah berlaku salah kepada kita, kita merasa lebih baik, merasakan emosi yang lebih positif, dan merasa lebih dekat dengan orang lain.
– Berolahragalah, karena hal itu tidak hanya baik untuk tubuh kita, namun juga untuk pikiran kita. Olahraga meningkatkan kebahagiaan dan percaya diri, mengurangi rasa cemas dan stres, dan menghilangkan gejala depresi.
– Beristirahatlah. Penelitian menunjukkan bahwa semakin sedikit Anda tidur, Anda semakin tidak bahagia.
– Pusatkan perhatian. Orang-orang yang mempraktikkan kesadaran, misalnya berusaha berkonsentrasi, meditasi, atau fokus, memiliki sistem imun yang lebih baik dan cenderung lebih bahagia dan menikmati kepuasan hidup. Mereka juga cenderung tidak merasa cemas atau ingin bermusuhan.
– Janganlah berfokus pada materi. Jika kita telah memenuhi kebutuhan dasar kita, uang yang lebih banyak tidak akan membuat kita lebih bahagia. Ada titik tertinggi di mana orang merasa lebih bahagia saat ia berhasil memenuhi kebutuhannya, dan kebahagiaan itu akan mulai menurun setelah ia melewati titik tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Richard Easterlin menyatakan bahwa dalam jangka panjang, suatu negara tidak akan menjadi lebih bahagia saat mereka menjadi lebih kaya. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa orang yang memprioritaskan hal-hal materi dibandingkan hal lainnya menjadi kurang bahagia, dan membandingkan diri kita dengan orang lain yang memiliki lebih banyak materi menjadi sumber utama ketidakbahagiaan.

Sumber:

Situs Greater Good UC Berkeley, The Science of a Meaningful Life, http://greatergood.berkeley.edu/topic/happiness/definition

hesti 2013

Hesti Farida Al Bastari, adalah Sarjana Psikologi dari Universitas Padjadjaran, bekerja part time sebagai associate untuk Konsultan HR di Jakarta. Dengan rekan-rekannya sesama alumni, tahun 2013 ia mengembangkan blog psikologi Psychologythoughts.com.

(Visited 95 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments