Tahapan Penggunaan Gadget Pada Anak

ย 

girl gadget

Image Courtesy by Stoonn/ Freedigitalphotos.net

18 September 2015

Tahapan penggunaan gadget (termasuk TV/screen) bagi anak di bawah usia 18 tahun versi saya:


Usia 0-5 tahun: tidak sama sekali, kecuali kondisi darurat dan harus dengan pendampingan.

Anak usia balita harusnya aktif bermain dan berinteraksi dengan orang lain. Anak harus dapat bermain aneka jenis permainan yang dapat dimanipulasi secara aktif, termasuk dilempar dan dibongkar. Anak di usia ini mengembangkan imajinasi dan bermain peran. Jadi, manfaatkan perkembangan fisik, kecerdasan, sosial, dan emosinya secara aktif.

Yang termasuk kondisi darurat adalah kondisi di mana anak harus duduk tenang dalam waktu lebih dari 30 menit dan tidak memungkinkan bagi anak untuk bergerak bebas. Misalnya menunggu giliran di ruang dokter atau perjalanan panjang. Situasi makan atau mau tidur bukan kondisi darurat. Anak harus belajar makan dengan menyenangkan dan tertib, bukan dengan sogokan atau ancaman.

Bagaimana dengan belajar? Belajar bisa tanpa gadget.

Usia 6-10 tahun: penunjang produktivitas. Penggunaan dengan pendampingan.

Di usia sekolah dasar, anak masuk pada tahapan dimana ia harus menghasilkan sesuatu. Belajar, lalu berprestasi. Gadget dapat membantu anak dalam membuat suatu produk penunjang belajar. Misalnya, televisi untuk mendapatkan informasi atau menonton tayangan bersama orang tua. Di usia ini, anak mulai belajar mengenai aturan dan konsekuensi. Orang tua harus tegas memberikan batasan penggunaan gadget dan pendampingan/pengawasan. Aturan umum penggunaan gadget sudah diberlakukan. Misalnya, hanya menggunakan gadget di ruang umum, pada waktu tertentu, dsb.

Berapa lama pemakaian (screen time) yang dianjurkan? Tidak lebih dari satu jam per hari.

Apakah boleh dikumpulkan sebagai hadiah di akhir pekan? Terserah kesepakatan orangtua dan anak. Pertimbangkan pengawasan, aktivitas fisik dan waktu untuk bersama orangtua.

Bagaimana dengan sosial media? Internet itu dunia tanpa batas. Salah-salah anak bisa tersesat. Masa ini adalah masa terbaik untuk mengenalkan mengenai tanggung-jawab menggunakan gadget dan internet. Orang tua harus menjadi sumber bagi anak untuk bertanya dan berdiskusi. Batasan dan norma tiap keluarga bisa berbeda-beda. Diskusikan dengan pasangan, bagaimana kebijakan keluarga anda. Cek dulu kelekatan anak dan anda. Jangan sampai justru anak lekat dengan teman virtual atau game.

Usia 11-18 tahun: pengawasan melekat

Saatnya anak berlatih bertanggung-jawab atas diri dan tindakannya. Termasuk menjaga perangkat dan membiayai aktivitasnya. Ingat, berlatih. Jadi, kemungkinan salah masih ada. Diskusikan aturan main dengan anak. Sampaikan kekhawatiran anda. Temani anak di sosial media.

Contoh aturan main untuk SiEneng adalah :
๐Ÿ’ฐ ikut membiayai pengadaan gadget, mengisi pulsa, dan aksesoris. Contoh : beli laptop harga 3 juta, SiEneng membayar 1,5 juta. Bertanggung jawab pula pada pemeliharaan gadget.

๐Ÿ  Penggunaan gadget hanya di ruang umum, bukan di kamar pribadi. Fungsi utama gadget adalah membantu menyelesaikan pekerjaan. Untuk aktivitas leisure, termasuk chat, maka tugas dan kewajiban harus sudah selesai dan tidak mengganggu rutinitas.

๐Ÿ‘“ SiEneng harus membuka dan memberikan kesempatan pada SiEmak untuk membaca apapun yang ada di gadgetnya. SiEmak akan sidak dan membaca serta berdiskusi langsung dengan SiEneng.

๐Ÿ’ป SiEneng harus memberitahukan akun sosial media apa saja yang ia miliki. SiEmak jadi follower-nya. Sampai saat ini SiEneng belum punya FB, Twitter, dan path.

๐Ÿ‘‘ Perilaku SiEneng di sosial media dan internet dapat dikoreksi sesuai dengan standar dan norma etika yang berlaku di keluarga. Termasuk komentar atau postingan atau profile picture.

๐Ÿ’„ Pelanggaran terhadap kesepakatan dapat berakibat pada konsekuensi secara bertahap, misalnya kehilangan hak pakai untuk jangka waktu tertentu sampai penyitaan (dan, ini sudah dialami SiEneng berkali-kali sejak tahap usia 6-10 tahun).

Semua kesepakatan dan aturan main diingatkan dan didiskusikan berkali-kali. Kalau anak menunjukkan tanda-tanda kecanduan, segera lakukan โ€˜plug offโ€™ alias cabut kegiatan dengan layar. Kembalikan aktivitas anak senormal mungkin. Banyak aktivitas tanpa gadget yang bisa dilakukan, hanya jika anak pernah tahu, melakukan sebelumnya, dan ingat nikmatnya aktivitas tersebut. Misalnya, main Lego, main peran, baca buku, bantu masak, menggambar, dan sederet kegiatan tanpa layar lainnya.

Ingat, gadget untuk membantu (dan mempermudah) kehidupan manusia. Bukan justru menimbulkan masalah dalam kehidupan manusia.

alzena masykouri 2

Alzena Masykouri, M. Psi-Psikolog Anak & Remaja โ€“ Pendidikan.

Alzena merupakan alumni Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran angkatan 1995. Melanjutkan studi di Magister Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dengan spesialisasi Klinis Anak dan Psikologi Pendidikan dan lulus di tahun 2002, Alzena saat ini aktif menjadi narasumber perihal psikologi anak di media massa. Ia dapat dihubungi di Bestariku (www.bestariku.co.id), Pusat Edukasi Anak dan Keluarga di daerah Bintaro, Tangerang Selatan.

ย 

(Visited 165 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments