Memahami Generasi X

letter X

Image courtesy of sscreations/Freedigitalphotos.net

Psychologythoughts.com – Bagi Anda yang termasuk ke dalam Generasi Y, atau bahkan Generasi Z, orang-orang yang berada dalam tahun kelahiran antara 1960-1980an saat ini mungkin adalah orang-orang yang menjadi atasan Anda, orang tua, om dan tante, atau guru Anda. Tak sedikit pula terasa adanya gap komunikasi antara Anda dan orang-orang yang ada di tahun kelahiran tersebut.  Ya, orang-orang yang berada di tahun kelahiran antara 1961an-1980an, atau 1963an-1980an, mereka yang lahir setelah Generasi Babyboomers, disebut juga orang-orang Generasi X.

Istilah Generasi X sendiri pertama kali dikenalkan oleh Robert Capa, seorang fotografer dari Hungaria, sebenarnya untuk mendeskripsikan generasi anak-anak muda yang tumbuh dengan cepat setelah masa perang dunia kedua, yang lahir pada tahun 1950an. Capa menyebut generasi X sebagai, “generasi yang tidak diketahui namanya”. Jadi istilah Generasi X ini awalnya ditujukan untuk orang tua dari Generasi X.

Generasi X juga dikenal sebagai generasi MTV. Mereka mengalami perkembangan video musik, new wave, musik elektronik, synthpop, musik heavy metal, berbagai jenis musik rock, dan hip hop. Mereka juga dikenal dengan generasi “baby busters”, karena lahir di masa saat jumlah kelahiran sangat menurun di tahun 1961an, yang secara resmi menjadi tanda berakhirnya era baby boomers.

Dibandingkan generasi baby boomers dan generasi Millenial atau generasi Y, media tidak memberikan banyak perhatian kepada generasi X. Hal ini mungkin disebabkan jumlah keseluruhan generasi X yang tidak sebanyak dua generasi lainnya. Hal ini kadang memberikan perasaan bahwa generasi X adalah generasi yang terlupakan dan terabaikan.

Karakteristik Generasi X

Generasi X dikenali sebagai generasi yang mandiri dan mudah beradaptasi, memiliki pendidikan tinggi, aktif, menjalani hidup yang seimbang, bahagia, dan berorientasi pada keluarga.

Generasi X akan memberikan kontribusi lebih di tempat kerja, namun mengharapkan umpan balik dan pengakuan, serta waktu dengan atasan mereka.

Dalam bekerja, mereka adalah orang yang umumnya sangat kompeten dan bisa diandalkan, memiliki hasil yang berkualitas, dan produktif. Mereka mengutamakan keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan, istilah yang sekarang dikenal sebagai work life balance (WLB). Sebenarnya mereka menyukai jam kerja yang fleksibel, dan melihat adanya pembagian kerja sebagai sesuatu yang diharapkan. Melihat diri mereka sebagai komoditas yang dapat dijual di bursa kerja. Mereka tidak terlalu tergiur oleh jabatan, dan merasa nyaman saat berhadapan dengan otoritas.

Kondisi Ekonomi Generasi X

Kendati memiliki pendidikan lebih tinggi dibandingkan orang tua mereka, Generasi X ternyata memiliki pengeluaran lebih besar daripada aset mereka, dibandingkan pada saat orang tua mereka seumur mereka, demikian menurut hasil penelitian Pew Research Center. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh banyaknya kemudahan untuk mengambil kredit, daripada masa lalu.

Kenaikan harga yang tidak masuk akal di sektor properti juga menjadi salah satu penyebab mengapa Generasi X mengalami kendala dalam mengumpulkan aset. Di saat orang tua mereka dahulu lebih banyak menumpuk aset, Generasi X saat ini diam-diam lebih banyak memiliki hutang. Separuh generasi X memiliki tabungan hari tua yang lebih sedikit atau bahkan belum memulai menabung untuk pensiun mereka.

Pada masa inilah pemerintah mulai memberikan kesempatan yang setara bagi pria dan wanita di tempat kerja. Hal ini menyebabkan kecenderungan lebih banyak wanita generasi X berpenghasilan lebih tinggi daripada pria. Pada sebuah survei yang dilakukan tahun 2011, seperlima dari pria Generasi X memiliki penghasilan lebih rendah dibandingkan wanita.

Penundaan masa pensiun generasi baby boomers menimbulkan frustrasi generasi X. Mereka merasakan ketidakberdayaan untuk meraih posisi yang lebih tinggi di tempat kerja. Belum lagi kemunculan generasi Y yang menguasai dunia digital, dan mengincar posisi pimpinan korporat. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar generasi Y menginginkan posisi sebagai pemimpin di tempat kerja mereka.

Sebagian generasi X terlihat pesimis, karena kondisi yang terjadi ternyata di luar perkiraan mereka. Pada saat sebagian mereka beranjak dewasa di tahun 1980an, epidemi AIDS melanda. Pada saat mereka sedang mendaki karir mereka, terjadi perubahan ekonomi di tahun 2001 dan krisis di 2008. Sebaliknya, orang tua generasi babyboomers melindungi anak-anak generasi Y mereka dan memastikan kestabilan ekonomi.

Pandangan Politik Generasi X

Dibandingkan generasi sebelumnya, Generasi X kurang begitu mengidolakan para pemimpin. Mereka lebih suka bekerja untuk melakukan perubahan melalui kegiatan ekonomi, media, dan perilaku konsumen.

Generasi X dikenal sebagai “swing voters”, mereka memiliki kecenderungan politik yang paling beragam dibandingkan generasi lainnya, sehingga keterlibatan mereka dalam pemilu sulit untuk diramalkan.

Generasi ini memiliki pandangan hidup untuk dapat mengubah dunia, memerangi korupsi, kediktatoran, kekerasan, AIDS, dan generasi yang berusaha menemukan harga diri manusia dan kebebasan individu, kebutuhan akan stabilitas, kasih sayang, toleransi dan hak asasi manusia.

Generasi X dan pola asuh

Generasi X menghabiskan waktu lebih sedikit dengan orang tua mereka dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Saat orang tua mereka bekerja, mereka sendirian di rumah atau mengasuh adik mereka. Perceraian orang tua pada masa itu sudah dianggap hal biasa, dan tidak ada yang bertanya apa sebenarnya yang mereka mau atau inginkan. Generasi X menyadari bahwa orang tua mereka hanya manusia biasa, dan sebagiannya akhirnya memperlakukan orang tua seperti teman yang lebih tua. Mandiri dan mengandalkan diri sendiri, adalah sifat yang muncul dari masa kanak-kanak generasi X.

Menanggapi apa yang menurut mereka kesalahan orang tua yang berpendapat bahwa “butuh satu kampung untuk mengasuh seorang anak”, Generasi X berpikir bahwa “butuh orang tua untuk mengasuh seorang anak”. Generasi X menempatkan satu orang tua untuk tinggal di rumah untuk mengasuh anak mereka. Generasi X juga memiliki jumlah anak yang lebih sedikit, kecenderungan menunda menjadi orang tua, atau memilih untuk tidak mempunyai anak. Jam kerja yang panjang, resesi ekonomi, dan perubahan nilai-nilai sosial berkontribusi adalah faktor-faktor yang mempengaruhi generasi X untuk tidak memiliki anak.

Generasi X sebenarnya meniru pola asuh orang tua mereka yang menerapkan “helicopter parenting”. Mereka tumbuh di saat iklan di televisi menampilkan tayangan, “tahukah Anda di mana anak Anda berada?”. Maka Generasi X siap kapan saja dan dimana saja memantau keberadaan anak-anak mereka melalui pengawasan elektronik, misalnya jam digital yang memiliki GPS atau kamera CCTV di rumah mereka.

Sumber:

Generation X, diakses dari situs Value Options http://www.valueoptions.com/spotlight_YIW/gen_x.htm

Generation X: American’s neglected middle child, diakses dari situs Pew Research Center http://www.pewresearch.org/fact-tank/2014/06/05/generation-x-americas-neglected-middle-child/

Generation X, diakses dari situs Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Generation_X

Fottrell, Quentin. 30 Januari 2015. 10 things Generation X won’t tell you. diakses dari situs Marketwatch.com, http://www.marketwatch.com/story/10-things-generation-x-wont-tell-you-2014-06-27?page=10

hesti 2013

Hesti Farida Al Bastari, adalah Sarjana Psikologi dari Universitas Padjadjaran, bekerja part time sebagai associate untuk Konsultan HR di Jakarta. Dengan rekan-rekannya sesama alumni, tahun 2013 ia mengembangkan blog psikologi Psychologythoughts.com.

(Visited 1,218 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments