Kenali Ciri Toxic Manager

toxic boss

Image courtesy of iosphere/Freedigitalphotos.net
Apa alasan seorang karyawan keluar dari pekerjaan yang telah lama dijalaninya? Gallup yang melakukan penelitian pada 7.272 orang Amerika Serikat di tahun 2015 menyatakan bahwa satu dari dua orang di sana keluar dari pekerjaannya karena atasan mereka.

Memiliki atasan yang kurang menyenangkan dapat mempengaruhi kehidupan seseorang tidak hanya pada saat ia bekerja. Jika seorang karyawan mengalami stres karena atasannya saat berada di kantor, besar kemungkinan stres tersebut akan dibawa ke rumah dan mempengaruhi kualitas hubungannya dengan orang lain yang ada di sekitarnya, dan lebih parahnya lagi, mempengaruhi kesehatan dan kualitas hidup mereka.

Salah satu tipe atasan yang menjadi tantangan bagi seorang karyawan adalah atasan yang disebut toxic manager. Tipe toxic manager ini dapat dikenali dari sikapnya yang moody, agresif, tidak dapat diramalkan, tidak kompeten, dan selalu menyalahkan orang lain. Seorang pembohong dengan sifat yang tampak mengagumkan jika dilihat orang lain namun memiliki sikap yang jauh berbeda terhadap bawahannya.

Pada saat Anda memiliki atasan yang toxic, Anda akan selalu merasa lelah. Semua kesalahan tampaknya menjadi kesalahan Anda. Hal ini mempengaruhi konsep diri Anda sehingga Anda menjadi berpikir bahwa Anda adalah seorang “pekerja yang buruk”, memiliki sikap yang negatif”, dan “tidak bekerja sungguh-sungguh”. Saat Anda mengkonfirmasi hal ini dengan pihak manajemen, Anda mendapati bahwa sebenarnya penilaian manajemen terhadap Anda tidak demikian. Pada kenyataannya, hal ini sebenarnya adalah proyeksi dari diri yang bersangkutan, menggambarkan sikap diri mereka yang negatif, performa yang buruk, dan tidak kompetennya dirinya.

Apa yang dilakukan oleh manajer tersebut termasuk ke dalam kategori bullying di tempat kerja. Anda dapat mengenali pelaku dengan sifatnya yang memanipulasi emosi dan persepsi orang lain, agar memenuhi apa yang mereka inginkan. Berusaha meyakinkan orang yang menurutnya dapat menaikkan statusnya atau posisinya, dan mungkin ia mendapatkan rasa hormat dari pencapaian yang telah dilakukannya. Tipe orang seperti ini merasakan ancaman dari orang yang tampak lebih kompeten, berintegritas dan populer.

Alih-alih mendampingi atau membimbing bawahannya, ia melihat bawahannya sebaik target untuk bully. Pada saat bawahan ini sadar bahwa mereka tidak dibimbing, dan atasan tersebut menyadari bahwa bawahan tersebut mungkin melaporkan perilaku bully itu pada atasan yang berada di atasnya lagi, maka toxic manager ini memberikan tekanan lebih, mengisolasi, menjauhkan bawahan tersebut, bahkan membuat bawahan mereka terpaksa mengundurkan diri. Siklus ini akan terus berlangsung sampai kemudian ia menemukan korban yang baru untuk dibully.

Akan membutuhkan usaha yang keras bagi seorang bawahan untuk mengubah sikap atasan yang seperti ini, karena tingkah laku tersebut sulit untuk diubah. Segala aspek kehidupan seorang bawahan yang dipimpin oleh atasan yang toxic akan terpengaruh. Kehidupan pernikahan, kesehatan, keluarga, bahkan karir. Bila Anda tidak mampu mengambil langkah hukum terhadap toxic manager ini, keluar dari pekerjaan Anda atau mengundurkan diri dapat menjadi salah satu pilihan daripada mengorbankan aspek lainnya dari kehidupan Anda.

Manajemen dapat menganalisa mana saja bawahan yang dipimpin oleh toxic manager, yaitu dengan cara mengenali beberapa gejala di perusahaan. Meningkatnya jumlah ketidakhadiran karyawan, jumlah karyawan yang mengundurkan diri, adanya tindakan disiplin dari atasan yang bersangkutan, adanya pengaduan, gejala stres, usaha bunuh diri, kematian di tempat kerja, komplain pelanggan, pensiun dengan alasan sakit, pensiun dini, dan reorganisasi.

Penting sekali untuk mengenali apakah toxic manager ini ada di perusahaan Anda, sebelum karyawan yang justru berkompeten yang mengundurkan diri dari perusahaan Anda karena ulah manajer tersebut.

Sumber:

Situs Bully Online, UK National Workplace Bullying Advice Line, bullyonline.org

www.gallup.com

hesti 2013

Hesti Farida Al Bastari, adalah Sarjana Psikologi dari Universitas Padjadjaran, bekerja part time sebagai associate untuk Konsultan HR di Jakarta. Dengan rekan-rekannya sesama alumni, tahun 2013 ia mengembangkan blog psikologi Psychologythoughts.com.

(Visited 81 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments