Kelebihan Energi

boy skating

Image Courtesy by imagerymajestic/ Freedigitalphotos.net

21 Agustus 2015

Pernah melihat anak yang bergerak kesana kemari, seakan tidak mau berhenti untuk beraktivitas? Pada saat orang tuanya sudah merasa lelah, anak ini masih saja naik turun kursi, memanjat jendela atau benda apapun yang bisa dipanjatnya, atau melompat-lompat di atas tempat tidur? Bagaimana reaksi Anda sebagai orang tua, jika anak Anda seaktif itu?

Di masa lalu, orang tua akan menyebut anak dengan perilaku seperti di atas sebagai anak yang hiperaktif. Sekarang kondisinya lebih baik, karena tidak banyak lagi orangtua yang menggambarkan anaknya dengan kata “hiperaktif”. Anak itu memang fitrahnya untuk menjadi aktif dan dinamis. Kalau diam atau terlalu tenang, kemungkinan besar ada yang tidak sesuai dengan pertumbuhan atau perkembangannya.

Demikian pula sebaliknya, kalau anak terlihat punya energi berlebih, bisa jadi mengganggu keseimbangan pertumbuhan dan perkembangannya. Terlalu banyak bergerak tentu menghabiskan kalori. Bisa jadi defisit kalau asupannya kurang. Bagaimana dengan perkembangannya? Sama saja. Kalau pada saat diamati, anak memiliki kebutuhan yang unik lalu tidak terpenuhi, bisa jadi aspek perkembangan lainnya terpengaruh.

Mengamati

Tantangan bagi orangtua adalah mengamati energi ini berbentuk apa dan ada dalam kategori yang mana, fisik atau psikis. Orang tua sebenarnya menyadari bahwa salah satu tugas utama mereka adalah mengamati, bukan sekedar menyuruh menghabiskan energi. Akan lebih baik lagi bila tahu sumber energi itu dari mana. Kalau belum tahu, boleh tanya profesional. Energi bisa datang dari kemampuan fisik dan/atau kemampuan mental. Kemampuan fisik bisa berarti kekuatan, kecekatan, atau kebutuhan untuk bergerak. Kemampuan mental bisa bersumber dari pikiran dan/atau emosi.

Kemampuan mengamati ini mungkin secara alamiah ada dalam beberapa orang. Dengan pandangan sekilas mampu membuat profil dari yang diamati. Ada ilmunya untuk melakukan pengamatan. Untuk orangtua, panduan yang paling mudah dalam mengamati adalah menggunakan mata dan telinga, serta tutup mulut rapat-rapat. Pengamatan perlu waktu, tidak bisa sekali jadi, kecuali sudah ahli.
Dalam membuat profil anak, coba amati hal-hal sebagai berikut :
+ karakter anak : apa suasana emosi yang dominan, bagaimana ia menyelesaikan persoalan, bagaimana ia mengekspresikan emosinya, bagaimana interaksi dengan keluarga dekat dan orang lain, ketekunan dalam menyelesaikan pekerjaan.
+ kesukaan dan ketidaksukaan : bagaimana cara ia membuat pilihan, permainan, kegiatan apa yang ia lakukan ketika waktu luang, bagaimana hasilnya.
+ aktivitas yang paling sering dilakukan : perhatikan berdasarkan aspek kecerdasan majemuk (silakan browsing), perhatikan juga kemampuannya.
Dalam mengamati, tidak boleh ada penilaian. Jadi, ketika Anda mendeskripsikan anak anda dari hasil pengamatan, seharusnya tidak ada kata seperti jago banget, bandel, cengeng, dan semacamnya. Kata yang bisa digunakan untuk menggambarkan anak misalnya ‘sering menangis bila keinginannya tidak dipenuhi’ atau ‘mampu menyelesaikan pekerjaan untuk anak yang usianya lebih besar’.

Dari hasil pengamatan dan deskripsi/profil yang Anda buat bisa terlihat kebutuhan anak untuk eksplorasi lebih lanjut di aspek apa.

Mengarahkan

Tugas berikutnya, bagi orang tua, adalah mengarahkan anak untuk memenuhi kebutuhannya. Bisa jadi sederhana dengan menyediakan aktivitas, atau justru sekaligus menstimulasi aspek lainnya sehingga anak belajar sesuatu dan menguasai keterampilan baru, atau menjadi ahli dalam suatu bidang. Targetnya adalah anak berkembang optimal dalam keempat aspek pertumbuhan dan perkembangan utama : Fisik, Kognisi, Emosi, dan Sosial.

Ada yang mengaitkan energi dengan kecerdasan. Bisa saja kedua hal ini ada kaitannya. Anak yang cerdas memerlukan waktu singkat untuk mempelajari sesuatu. Temannya perlu 10 kali pertemuan, dia hanya 2 kali pertemuan. Kalau dihitung pakai hitungan matematis, ada 8 kali pertemuan yang ‘tersisa’. Bisa dong dimanfaatkan untuk belajar hal lain sehingga ia menjadi lebih cepat dibandingkan teman-temannya. Demikian seterusnya. Sayangnya, anak adalah manusia, bukan hitungan matematis dan teknis.

“Saya takut salah mengarahkan anak saya. Jangan-jangan saya mengikuti obsesi pribadi daripada mengembangkan minatnya,” hmm.. Paling tidak jika tahu bahwa ‘salah’, berarti sudah mencoba. Toh anak bukan robot yang akan selalu patuh dan manut. Bila ia merasa tidak cocok, pasti ia akan menunjukkan perilaku bosan atau enggan. Dan, sebaliknya. Kalau cocok, pasti muncul motivasi dan kesadaran untuk melakukan suatu aktivitas yang ia sukai. Itulah pentingnya pengamatan dari orang tua.

Memenuhi Kebutuhan

Ketika kita sebagai orang tua sudah tahu kebutuhan anak, maka tugas selanjutnya adalah memenuhinya. Bisa dengan mengenalkan aktivitas baru atau memberikan tantangan sehingga anak lebih menguasai suatu keterampilan. Misalnya, seorang anak yang senang menjadi pusat perhatian orang banyak. Selain tampil di depan umum, kemampuannya dapat dikembangkan untuk mulai merancang dan merencanakan suatu pertunjukan. Lalu, ia dapat berlatih menulis skenario sederhana atau merancang setting panggung. Orangtua juga bisa memperkaya wawasannya dengan mengajak menonton berbagai pertunjukan dan membahas apa saja yang menarik dari tontonan tersebut.

Banyak sekali area yang bisa dielaborasi oleh anak. Tentu perlu bantuan dan konsistensi dari orang tua. Mengantarkan anak untuk berolahraga setiap pekannya, berarti harus bangun pagi seperti hari kerja, menunggu di pinggir lapangan, dan seterusnya. Yang bosan belum tentu anaknya, bisa jadi orang tuanya.

alzena masykouri 2

Alzena Masykouri, M. Psi-Psikolog Anak & Remaja – Pendidikan.

Alzena merupakan alumni Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran angkatan 1995. Melanjutkan studi di Magister Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dengan spesialisasi Klinis Anak dan Psikologi Pendidikan dan lulus di tahun 2002, Alzena saat ini aktif menjadi narasumber perihal psikologi anak di media massa. Ia dapat dihubungi di Bestariku (www.bestariku.co.id), Pusat Edukasi Anak dan Keluarga di daerah Bintaro, Tangerang Selatan.

(Visited 110 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments