Berpikir Terlalu Banyak Salah Satu Penyebab Stres

thinking stress

Image courtesy of Stuart Miles/Freedigitalphotos.net

Psychologythoughts.com – Berpikir terlalu banyak ternyata menjadi salah satu penyebab stres. Hal ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Sulaiman-Hill dan Thompson terhadap pengungsi Afghanistan dan Kurdi di Australia, yang dilakukan tahun 2012. Berpikir terlalu banyak maksudnya adalah jika seseorang menghabiskan terlalu banyak waktunya untuk mengkhawatirkan kejadian-kejadian di luar sana atau merenungkan pengalaman-pengalaman masa lalu.

Saat seorang individu mengalami trauma di masa lalu, dan melihat kembali kejadian tersebut di televisi, ia dapat menjadi cemas dan tidak bisa tidur, meskipun peristiwa traumatis itu terjadi bertahun-tahun yang lalu. Memikirkan orang lain yang senasib seperti dirinya juga menjadi penyebab stres. Terakhir, memikirkan hal lain sehingga tidak fokus dengan apa yang dilakukannya sekarang, turut berkontribusi dalam menimbulkan stres. Situasi ini terkadang terjadi karena adanya masalah yang dapat mengingatkan kembali individu pada kondisi traumatis yang dialaminya. Seseorang bisa jadi juga memiliki banyak waktu di rumah sehingga ia bisa memikirkan banyak hal yang membuatnya stres.

Sulaiman-Hill dan Thompson menggunakan metode eksplorasi untuk mengukur penyebab-penyebab stres pada para pengungsi dan pengaruhnya kepada status kesehatan mental mereka. Para peneliti membandingkan data survei kesehatan dari New Zealand dan Australia. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat stres psikologis yang dialami oleh partisipan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat stres keseluruhan populasi di negara-negara tersebut.

Lebih dari 66% mantan pengungsi memiliki tingkat stres yang termasuk dalam kategori sedang, tinggi, atau sangat tinggi. Sementara penduduk New Zealand dan Australia yang memiliki tingkat stres yang sama sebanyak 21% dan 32%. Hal ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan adanya prevalensi masalah kesehatan mental pada kelompok-kelompok mantan pengungsi.

Stres yang muncul dapat coba ditangani diantaranya dengan cara-cara berikut:

– Berolahraga dengan berjalan-jalan, pergi ke kebun, atau mencari udara segar.
– Bersosialisasi, berbicara dengan orang lain, menelepon keluarga di kampung halaman dan mengunjungi teman.
– Berusaha untuk mengalihkan perhatian ke hal-hal lain.
– Relaksasi dengan tidur, dipijat, atau mandi.
– Beribadah, dengan sholat dan mengaji
– Mencari bantuan profesional misalnya dokter atau psikolog
– Berpikir positif, berusaha mengubah situasi yang masih dapat diubah, faktor penyebab stres atau persepsi terhadap stres
– Mencoba mengatasi masalah tersebut sendiri

Sumber:  Sulaiman-Hill, C.M.R. dan Thompson S.C., 2012, “Thinking Too Much”: Psychological distress, sources of stress and coping strategies of resettled Afghan and Kurdish refugees”, Journal of Muslim Mental Health Vol.6, issue 2, Michigan University, diakses tanggal 21 Desember 2015 pukul 23:00 di http://quod.lib.umich.edu/j/jmmh/10381607.0006.205?view=text;rgn=main

hesti 2013

Hesti Farida Al Bastari, adalah Sarjana Psikologi dari Universitas Padjadjaran, bekerja part time sebagai associate untuk Konsultan HR di Jakarta. Dengan rekan-rekannya sesama alumni, tahun 2013 ia mengembangkan blog psikologi Psychologythoughts.com.

(Visited 40 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments