Memberi Maaf

forgive

Image courtesy of Stuart Miles/Freedigitalphotos.net

Seorang anak SMA sempat mengalami bullying di sekolah yang dilakukan oleh teman-teman sekelasnya. Tidak ada yang mengambil tindakan lebih lanjut saat orang sekitar mengetahui hal itu terjadi. Seperti umumnya kasus bullying, orang di sekitar kejadian, termasuk para guru cenderung diam dan membiarkan kejadian tersebut sehingga berlangsung terus-menerus, salah satunya dengan pikiran bahwa “bisa jadi anak tersebut menjadi korban bullying, karena memang dia yang salah”, “mungkin dia memang lemah sehingga bisa dikerjai oleh teman-temannya”, “salahnya sendiri tidak bisa membela diri”, dan berbagai pikiran lainnya.

Anak itu pun lulus dari bangku SMA dan memasuki universitas terkemuka yang kemudian di dalamnya ia mengalami Masa Orientasi yang sebenarnya dalam bentuk lain sama saja, merupakan bullying terstruktur yang dilakukan oleh para seniornya. Maka anak tersebut tumbuh dengan terus mempertanyakan apa yang salah pada dirinya, membenci orang-orang di sekitarnya dan terlebih lagi, membenci dirinya sendiri karena begitu lemah.

Lulus kuliah, ia berjuang di tempat kerjanya yang baru, menunjukkan bahwa ia bukanlah seperti yang dibayangkan orang dan berhasil menjadi salah satu karyawan terbaik. Kemudian ia membuka usaha baru dan memulai kehidupannya sebagai wirausahawan. Saat berusaha mengingat masa lalunya, dan setiap kali reuni SMA dan kuliah, ia merasa enggan bergabung karena ia masih merasa marah kepada teman-teman dan seniornya yang pernah menyakiti dirinya.

Sampai pada suatu ketika ia bertemu dengan seorang psikolog, dalam sebuah pelatihan. Ia bertanya, “Bagaimanakah caranya, agar saya bisa memaafkan orang lain?” Dan psikolog itu berkata, “Agar kamu bisa memaafkan orang lain, yang perlu kamu lakukan pertama kali adalah maafkanlah dirimu sendiri.” Dan dia pun merenungkan kata-kata itu.

Ia yang kini telah menjadi seorang dewasa, kemudian kembali melihat foto-foto temannya saat SMA dan kuliah. Ada orang yang pernah tidak ia sukai karena ia pernah menganggapnya sebagai sahabat, namun diam saja pada saat tahu ia di-bully, dan malah berpihak kepada mereka yang mem-bully-nya. Karena kejadian itu, ia tidak mudah percaya pada orang lain. Kemudian setelah sekian tahun lamanya, ia mulai mencari sahabat lamanya itu di media sosial.

Sahabat lamanya itu selama ini tetap hidup dalam pikirannya, sebagai orang yang melanggar kepercayaannya, namun ternyata sahabat lamanya itu kini telah menikah dan hidup bahagia. Bayangan sahabat lamanya sebagai seorang yang tidak ia sukai, buyar seketika saat ia melihat gambaran sahabat lamanya saat ini.

Rupanya benar kata Psikolog tersebut, bahwa sebelum ia memaafkan orang lain, yang pertama kali harus ia maafkan adalah dirinya sendiri. Akibat bullying yang terjadi pada saat ia sekolah dan kuliah, ia mengalami konsep diri yang negatif terhadap dirinya. Ia merasa dirinya saat itu begitu lemah, begitu tidak berdaya sehingga orang lain bisa menyakiti dirinya. Kemarahan yang dirasakannya saat ini pada orang-orang di sekelilingnya, tidak kunjung padam karena sebenarnya ia juga marah pada dirinya sendiri di saat itu.

Beberapa orang menangani kemarahan tersebut dengan menjadi marah pada orang-orang di sekelilingnya, atau melakukan penganiayaan terhadap orang lain pula dan kemudian menjadi pelaku bullying yang baru. Namun dirinya, menyalurkan kemarahan tersebut menjadi hal yang positif sehingga ia berjuang untuk menjadi yang terbaik di tempat kerjanya dan kemudian menjadi seorang pengusaha.

Maka, setelah membuka album fotonya, ia kemudian membaca undangan reuni SMA tahun ini yang baru saja dia terima. Antara ragu apakah akan datang atau tidak, ia kemudian memutuskan, ia akan kembali menghubungi teman-teman lamanya.

hesti 2013

Hesti Farida Al Bastari, adalah Sarjana Psikologi dari Universitas Padjadjaran, bekerja part time sebagai associate untuk Konsultan HR di Jakarta. Dengan rekan-rekannya sesama alumni, tahun 2013 ia mengembangkan blog psikologi Psychologythoughts.com.

(Visited 25 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments