Saat Orang Tua Menelantarkan Anak

child abuse

Image courtesy of David Castillo Dominici/Freedigitalphotos.net

Di pertengahan bulan Mei, terungkap sebuah kasus penelantaran orang tua terhadap anak mereka di sebuah komplek perumahan mewah di bilangan Cibubur, Jakarta Selatan. Sontak media massa menyoroti kasus ini dan bertanya-tanya apa penyebabnya. Di dalam komunitas Psychologythoughts.com pun kami membahas apakah mungkin kejadian ini disebabkan orang tua yang depresi, yang telah dijawab oleh KPAI melalu media bahwa orang tua dari anak yang ditelantarkan tersebut masih bisa berperilaku dengan normal. Hal yang sangat disayangkan adalah, lingkungan sekitar tidak dapat berbuat apa-apa selain membantu menampung anak-anak yang ditinggalkan di luar rumah oleh orang tuanya.
Masih di hari yang sama, di Samarinda, seorang ayah membunuh empat orang anaknya, karena ia tidak tahan mendengar suara bayi yang menangis, setelah sebelumnya melakukan pelecehan seksual kepada salah satu anaknya. Seberapa urgen kita memperhatikan nasib anak-anak di negara kita, yang diasuh oleh para orang tua, yang rupanya mungkin tidak sehat secara mental? Bagaimana lantas pihak yang berwenang menanggapi masalah ini, apakah hanya dengan menangkap kedua orang tuanya, masalah dapat selesai?
Perkumpulan Psikologi di Amerika atau American Psychological Association (APA) menyatakan bahwa tingkah laku yang dapat dikategorikan sebagai kekerasan terhadap anak dan pengabaian atau kesalahan pengasuhan terhadap anak dirangkum dalam sebuah Child Abuse and Prevention Treatment Act. UU tersebut mengartikan tindakan-tindakan ini sebagai
“Any recent act or failure to act on the part of a parent or caretaker, which results in death, serious physical or emotional harm, sexual abuse or exploitation, or an act or failure to act which presents an imminent risk of serious harm.” (Setiap tindakan atau kegagalan untuk bertindak sebagai orang tua atau pengasuh, yang mengakibatkan kematian, bahaya fisik atau emosional yang serius, pelecehan seksual atau eksploitasi, atau sebuah tindakan atau kegagalan untuk bertindak yang menampilkan adanya resiko besar menyebabkan bahaya yang serius.)
Sedangkan di Indonesia, UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pasal 69 berbunyi:
(1) Perlindungan khusus bagi anak korban perlakuan salah dan penelantaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 dilakukan melalui pengawasan, pencegahan, perawatan, dan rehabilitasi oleh pemerintah dan masyarakat.
(2) Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melibatkan, menyuruh melibatkan anak dalam situasi perlakuan salah, dan penelantaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).
Jadi secara hukum, tingkah laku menelantarkan anak sudah jelas salah. Dengan memahami adanya sanksi hukum untuk penelantaran anak, sudah selayaknya kita menjadi lebih waspada apabila di lingkungan terjadi tingkah laku orang tua atau pengasuh yang menunjukkan adanya penelantaran anak.
Lalu bagaimanakah sudut pandang psikologi menilai hal ini? Pertanyaan saya setiap kali ada sebuah kasus penelantaran atau penganiayaan anak adalah, dimanakah peran lingkungan terdekat, dalam hal ini tetangga yang ada di sekitar keluarga tempat pengasuhan anak tersebut, saat anak mengalami penganiayaan atau penelantaran?
Rupanya, seorang peneliti psikologi pernah mengkaji hal ini untuk mengetahui penyebab mengapa lingkungan tidak banyak berperan pada saat terjadi tingkah laku kekerasan. Kajian tersebut menghasilkan sebuah penelitian yang sangat terkenal yang disebut, The Bystander Effect.
The Bystander Effect ini terjadi pada saat orang yang berlalu lalang di sekitar lingkungan terjadinya kekerasan, atau bahkan melihat dengan benar bahwa kekerasan itu terjadi, tidak berbuat apa-apa bahkan tidak menolong korban. Rupanya mereka cenderung menunggu orang lain untuk bertindak terlebih dahulu, sampai akhirnya tidak ada orang yang bertindak dan semuanya sudah terlambat.
Kasus Kitty Genovese
Ada beberapa kasus yang dirasa sangat tepat menggambarkan The Bystander Effect ini. Kasus pertama adalah tragedi yang menimpa Kitty Genovese pada tanggal 13 Maret 1964 di kota New York. Kitty Genovese adalah seorang manajer bar berusia 28 tahun yang baru saja pulang dari tempat kerjanya pada pukul 03.20 pagi. Ia ditusuk berulang kali oleh seorang pria berusia 29 tahun bernama Winston Moseley, di bawah sorotan lampu jalanan. Kitty menjerit, berteriak meminta tolong, dan lampu-lampu apartemen dengan sepuluh lantai di seberang jalan pun kemudian menyala, seraya ia berteriak. “Oh, my God! He stabbed me! Please help me! Please help me!”
Seorang pria di apartemen berteriak, “Tinggalkan gadis itu sendirian!” Dan Winston berlari meninggalkan Kitty, dalam keadaan terluka. Kemudian lampu-lampu apartemen dimatikan kembali. Kitty berjalan sendirian dengan perlahan dan tidak stabil menuju pintu masuk apartemennya, yang berada tepat di belakang gedung, namun kemudian ia jatuh dekat tangga di area lobi. Dan 10 menit kemudian, Winston kembali, melakukan kekerasan seksual terhadap Kitty, dan saat Kitty mencoba melawan, Winston membungkamnya dengan menusuknya di bagian leher.
Kasus ini kemudian menjadi perbincangan beberapa pekan kemudian karena berdasarkan investigasi polisi, ada lusinan kesaksian dari masyarakat yang taat aturan di sekitar kejadian menyatakan bahwa mereka menyaksikan pembunuhan itu, namun tidak ada orang yang menelepon polisi.
Pada tahun 2007, dua orang Psikolog Sosial bernama Bibb Latane dan John Darley melakukan serangkaian eksperimen akan keterlibatan orang sekitar saat terjadi situasi darurat. Hasilnya? Seperti yang telah disebutkan terdahulu, orang akan cenderung tidak berusaha ikut campur jika ada orang lain yang hadir.
The Bystander Effect
Bila menalar secara logika, apabila kita ditanya apakah kita akan menolong orang lain yang berada dalam kondisi kritis, kita serta merta pasti akan menjawab bahwa kita akan menolongnya. Pada kenyataannya ternyata tidak banyak orang yang melakukan hal tersebut, suatu kondisi yang mungkin menyebabkan tingginya jumlah kriminalitas di negeri ini. Bukan karena mereka tidak peduli, melainkan rupanya lebih karena setiap orang menunggu orang lain bertindak terlebih dahulu, untuk menolong orang lain yang berada dalam kondisi kritis tersebut. Inilah yang disebut Bystander Effect. Keberadaan orang lain di tempat kejadian perkara, membuat orang-orang di sekitar yang menyaksikan kejadian tersebut mengandalkan orang lainnya untuk berbuat sesuatu.
Terkadang bisa jadi ada kekhawatiran untuk dianggap sebagai orang yang sok pahlawan, atau semacamnya. Namun sepatutnya demi kemanusiaan dan hati nurani, kita harus memutuskan untuk turut terlibat dalam setiap kejadian yang dikhawatirkan akan mengarah pada tindakan kriminalitas. Banyak kasus penelantaran anak, human trafficking, penganiayaan seksual, dapat dicegah apabila setiap orang mau bertindak sebelum semuanya terlambat. Jangan menunggu seseorang menunjuk tangannya kepada Anda untuk meminta tolong, melainkan berbuatlah segera.
Kasus Engeline
Dan pada saat tulisan ini sedang dibuat, sebuah kasus terbunuhnya anak adopsi berusia 8 tahun bernama Engeline yang tinggal di Bali, terungkap. Ibu angkatnya kemudian dijadikan tersangka. Sebelumnya, dari penampilannya saat bersekolah Engeline diketahui menunjukkan ciri-ciri fisik yang menunjukkan bahwa dirinya adalah korban KDRT.
Seandainya sebelum semuanya terlambat, ada yang melaporkan kasus kekerasan terhadap Engeline tersebut, mungkin peristiwa ini dapat dicegah. Seandainya saja. Semoga tidak ada lagi kasus-kasus Engeline yang berikutnya.

hesti 2013

Hesti Farida Al Bastari, adalah Sarjana Psikologi dari Universitas Padjadjaran, bekerja part time sebagai associate untuk Konsultan HR di Jakarta. Dengan rekan-rekannya sesama alumni, tahun 2013 ia mengembangkan blog psikologi Psychologythoughts.com.

(Visited 457 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments