Alasan Mudah Marah

anger emotion

Marah adalah emosi negatif (Image courtesy of farconville/Freedigitalphotos.net)

Saya baru ingat tentang pembahasan yang belum tuntas tentang “marah pada anak”. Kalau sebelumnya kita melihat dari sisi anak dan kondisi penyebab emosi marah, kali ini lihat dari sisi emosi dan perilaku saat marah yuk?

Apa sih emosi marah itu?

Mungkin semua orang sudah mengetahui bahwa marah adalah emosi negatif. Emosi yang “rasa”nya tidak enak: denyut jantung meningkat, kepala panas, tangan rasanya hendak bergerak kencang, mulut ingin mengomel atau membentak… bahkan mungkin sampai berkeringat.

Emosi marah memang tidak menyenangkan, muncul saat kita dihadapkan pada situasi yang tidak kita sukai, jauh dari harapan, dan merasa bahwa kita sedang dirugikan (diperlakukan tidak adil). Betulkah? Cobalah diingat kembali, kalau kita yang sedang merugikan orang lain, apakah emosinya marah? Lebih dekat ke rasa menyesal atau sedih kali ya…

Tapi rasa marah ini punya tujuan positif lho! Ia hadir untuk mengingatkan kita akan hak-hak kita, mengingatkan kita untuk memperbaiki sesuatu (agar sesuai harapan/tujuan awal), serta mengingatkan kita untuk membela diri.

Jadi apakah kita turuti saja emosi marah itu? Nah, di sini kita harus jeli. Ada beberapa hal yang harus dipahami lebih dulu:

1. Marah adalah hasil penilaian kita terhadap situasi..

Ya. Kalau kita lihat dari sudut pandang berikut, “Wah, orang ini sengaja menabrak badan saya, dikiranya saya takut?”. Dalam kondisi ini, pasti emosi marah langsung terpancing.

Kalau kita menilai, “wah, mungkin dia nggak sengaja… sedang buru-buru kali”. Maka bukan emosi marah yang akan muncul.

Jadi tips nomor satu, berhati-hatilah dalam menilai situasi.
*Lihat dari berbagai sudut pandang,

*Perhatikan fakta dan hindari melibatkan emosi terlalu jauh
*Berlatih melihat masalah dengan objektif
*Hindari berprasangka negatif pada orang lain.

2. Emosi dapat muncul secara otomatis/refleks

Sama dengan keterampilan/kecakapan lain, emosi juga adalah hasil pembiasaan, baik terbiasa dengan munculnya emosi, maupun terbiasa dengan perilaku yang ditampilkan.

Contoh, saat Anda mudah marah saat melihat kendaraan lain menyalip jalur Anda dan langsung memakinya, lebih besar kemungkinan di lain waktu Anda akan memaki orang lain yang melakukan hal yang sama. walaupun ternyata orang itu tidak sengaja.

Maka, tips nomor dua, jangan terbiasa langsung “marah” dan langsung bereaksi. Tunda reaksi Anda setelah beberapa.detik dan pertimbangkan dulu.

3. Marah melibatkan peningkatan energi yang tinggi. Itu sebabnya jantung menjadi berdebar kencang, keluar keringat dan muncul berbagai dorongan perilaku. Energi ini yang seringkali merobohkan pertahanan diri, saat marah sudah tidak bisa dikendalikan.

Jadi tips ketiga… saat Anda merasa marah dan ada dorongan perilaku, tahan dorongan itu. Bisa dengan mengatur nafas, mengalihkan perhatian, dan lain-lain.

Semoga dengan memahami ketiga hal di atas, kemampuan kita mengendalikan emosi marah juga meningkat. No more bad day.

Salam Indonesia bahagia 🙂

 dianda azani

Dianda Azani, M.Psi

Psikolog pendidikan, ibu dari dua orang anak. Memfokuskan dirinya pada peningkatan kesejahteraan diri dan keluarga.

(Visited 69 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments