Imajinasi yang Jadi Kenyataan

27 February 2015

business vision

Image courtesy of chanpipat/Freedigitalphotos.net

Jangan pernah meremehkan imajinasi atau impian Anda. Saya masih ingat betul ketika masih duduk di bangku SMA kelas 1, pernah membayangkan sebuah kehidupan yang damai dimana saya dapat hidup tenang menjalankan aktivitas yang saya sukai, dan tetap memperoleh penghasilan dari kegiatan-kegiatan menyenangkan yang saya lakukan. Saya juga pernah bermimpi ingin menjadi Ayah penuh waktu jika saya telah berkeluarga. Awalnya saya juga tidak memahami bagaimana cara melakukannya. Namun sebagaimana yang telah diajarkan orang-orang yang berhasil dalam kehidupan, mereka senantiasa mendorong kita untuk menuliskan apa yang menjadi impian kita. Saya mengikuti saran mereka, dan saya menuliskan impian saya dimana pun saya bisa menuliskannya. Di buku, di secarik kertas, di Blog, dan bahkan dalam mimpi ketika saya tertidur. Ternyata impian saya tersebut, terwujud di awal tahun 2015 ini.

Ya, sejak awal tahun 2015 ini saya mengambil keputusan untuk menjalankan sebuah cara hidup yang berbeda, dimana saya tidak perlu lagi bangun pagi untuk pergi ke kantor dan pulang setelah pukul 5 sore. Kegiatan saya saat ini adalah mengantar anak sulung saya ke sekolah, kemudian dilanjutkan mandi pagi dan kemudian menemani anak bungsu saya jalan pagi, sebelum dia tertidur sambil menikmati sinar matahari pagi. Lalu membantu istri mengerjakan pekerjaan domestik di rumah. Saya memutuskan untuk tidak perlu khawatir lagi dengan penghasilan saya, meski saat ini sudah tidak lagi menerima gaji dari kantor, karena saya menyerahkan diri sepenuhnya rizki saya dan keluarga kepada Allah SWT berdasarkan ikhtiar yang saya lakukan saat ini. Saya bebas mengatur waktu saya untuk kegiatan-kegiatan yang saya suka seperti beribadah kepada Allah SWT, melakukan pekerjaan yang saya sukai, berolahraga, dan menjalin silaturahim dengan kawan-kawan saya.

Semua itu berawal dari imajinasi liar saya ketika masih duduk di bangku SMA kelas 1, sebagaimana yang telah Saya ceritakan di awal tulisan ini. Sebagaimana orang-orang yang baru memiliki impian, Saya sama sekali tidak mengetahui bagaimana cara mewujudkannya pada awalnya. Namun ketika impian tersebut sudah tertanam dalam alam bawah sadar kita, secara otomatis semua tindakan yang kita lakukan akan mengarah kepada tujuan tersebut, sebagaimana yang pernah saya baca dalam buku “The New Psycho-Cybernetics” yang ditulis oleh Dan S. Kennedy dan Maxwell Maltz dan terbit pertama kali tahun 1960. Di buku ini dijelaskan tentang bagaimana cara kerja otak manusia dan bagaimana kita mengoptimalkannya dalam mencapai impian/ tujuan dalam hidup. Satu hal yang saya masih ingat adalah otak kita bekerja mencapai tujuan sama seperti program peluru kendali. Ketika otak sudah ditetapkan targetnya, divisualisasikan dengan gambar/tulisan/video, maka otak akan otomatis bekerja mengarahkan perilaku sadar dan bahkan perilaku tak sadar ketika menuju target tersebut. Subhanallah, luar biasa sekali bukan? Perlahan namun pasti, akhirnya Allah menunjukkan jalannya kepada saya.

Saya sadar betul bahwa apa yang saya impikan ini bukanlah sesuatu yang pada umumnya orang lain impikan. Bahkan pasangan saya sendiri pun tidak serta merta dapat menerima impian saya dengan penuh keyakinan 100%. Saya memerlukan upaya terus-menerus untuk meyakinkannya agar bersedia memberikan dukungan penuh kepada saya. Alhamdulillah pasangan saya memberikan dukungannya, meski belum 100%. ^_^ Saya tetap jalan terus, mengejar impian saya.

Jujur, sebagaimana orang lain yang baru berani bermimpi besar, saya memiliki keraguan pada awalnya. Mungkinkah impian saya itu bisa menjadi kenyataan. Perlahan namun pasti Allah mengijinkan semuanya terwujud. Sekarang saya bisa merasakan apa yang dulunya hanya merupakan impian belaka.

Menjalankan Usaha yang Disukai

Saat ini saya mengetahui, banyak teman-teman saya yang masih bekerja di kantor, dan merupakan keputusan sadar yang mereka ambil dalam kehidupan. Namun di perjalanan saya sering menemui teman-teman yang mengeluh dengan konsekuensi yang mereka terima dari pekerjaan yang mereka lakukan, seperti kesulitan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Saya pun pernah berada dalam situasi dimana saya harus pergi sekian ratus kilometer dari rumah untuk melakukan kegiatan yang disebut bekerja, dan menerima gaji setiap akhir bulan. Hal ini merupakan hal yang berat, ketika tiba saat harus pergi meninggalkan keluarga di rumah. Dalam perjalanan otak saya berpikir, berusaha mencari cara yang baru. Cara yang berbeda, dari yang dilakukan orang-orang pada umumnya.

Mungkin pembaca bertanya, kegiatan apa yang saya lakukan hingga bisa seperti ini. Jawabannya sungguh sangat sederhana namun terlihat rumit untuk dilakukan pada awalnya. Saya memutuskan untuk mengelola bisnis saya sendiri. Sebagaimana yang telah dinasehatkan oleh Robert Kiyosaki dalam banyak buku-buku terlarisnya.

Bisnis apa? Bisnis apa saja yang saya suka dan saya yakin bisa saya kerjakan. Saya pernah menjadi distributor MLM dan masih menjadi anggota sampai hari ini. Diluar sana sesungguhnya banyak tersedia informasi peluang-peluang bisnis yang bisa dipilih dan dilakukan jika kita mau keluar dari zona nyaman, dan berani mengambil keputusan untuk memulai.

Sebagai informasi, posisi terakhir saya ketika masih bekerja adalah Manajer SDM dan Umum di sebuah perusahaan pelayanan teknologi informasi, dengan gaji per bulan tak kurang dari 10 juta per bulan di kota Bandung. Bukan posisi yang jelek, dan bukan penghasilan yang kecil menurut saya pribadi. Sebuah posisi yang terhormat, yang karenanya saya memiliki beberapa wewenang untuk mengambil keputusan yang penting bagi Perusahaan.

Pendapatan sebesar itu merupakan pendapatan yang cukup untuk hidup layak di kota Bandung bersama dengan keluarga. Puji syukur Alhamdulillah, hasil selama saya bekerja cukup baik. Saat ini pun saya sudah diijinkan oleh Allah untuk memiliki sebuah rumah pribadi, meskipun tidak besar, namun cukup untuk memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga, karena rumah tersebut saya sewakan kepada orang lain. Salah seorang penulis buku mengatakan bahwa tabungan yang sesungguhnya memberi manfaat secara finansial bagi kita adalah properti yang dapat memberikan penghasilan bagi pemiliknya.

Orang sering berkata bahwa untuk memulai sebuah usaha, kita membutuhkan modal. Mereka benar, namun yang seringkali orang tidak sadari adalah bahwa sesungguhnya akses terhadap modal sudah ada di tangan mereka. Pertanyaan saya, “Apakah ada diantara para pembaca yang saat ini tidak memiliki rekening di Bank?” Jika jawabannya tidak ada, maka sesungguhnya Anda sudah memiliki akses permodalan di tangan Anda. Hal yang diperlukan selanjutnya adalah bagaimana memasukkannya ke dalam kantong Anda. Demikian jika Anda berpikir menggunakan sudut pandang pengusaha.

Saat ini saya adalah nasabah dari beberapa Bank, yang dipercaya untuk memiliki kartu kredit. Kartu kredit pertama saya adalah kartu kredit Silver dari sebuah Bank swasta terbesar yang banyak dipilih pengusaha. Kemudian seiring perjalanan waktu, Saya dipercaya untuk memiliki beberapa kartu kredit dengan jenis Gold dan Platinum. Total plafon kredit yang saya miliki saat ini adalah tak kurang dari 100 juta rupiah. Sebuah angka yang lebih dari cukup untuk memulai sebuah usaha sendiri bukan?

Berdasarkan pengalaman saya, jika kita mau dengan uang 10 juta rupiah sesungguhnya kita sudah bisa memiliki sebuah usaha yang kita sukai. Dengan memiliki usaha sendiri, sesungguhnya kita memiliki peluang untuk menciptakan penghasilan yang kita inginkan, penghasilan yang tidak ditentukan oleh pemberi kerja dengan sebutan gaji. Dari sana kita bisa berbuat banyak serta memberi manfaat bagi orang-orang dan lingkungan di sekitar kita, seperti membuka lapangan kerja baru. Ini adalah satu hal yang sangat menarik bagi diri saya.

Saat ini saya memiliki usaha toko yang berlokasi di sebuah kos-kosan di daerah Bandung selatan. Saya juga memiliki usaha loket pembayaran online, serta sedang merintis usaha peternakan domba Garut (domba adu yang berukuran fisik besar), yang saya beri nama Peternakan Ananda.

Khusus mengenai usaha peternakan domba Garut, usaha ini berawal ketika saya melihat peluang yang ditawarkan rekan kerja Saya. Setelah Saya mempelajari cara kerja dan resikonya, saya memutuskan untuk masuk usaha ini dengan modal awal 1 ekor domba betina siap kawin di bulan Agustus 2014. Hasilnya sangat baik, di awal bulan Maret tahun 2015, saya sudah memiliki 4 ekor domba betina siap kawin dan 2 ekor anak domba, masing-masing 1 ekor jantan dan 1 ekor betina. Potensi pasar domba demikian besar, 1 ekor domba jantan berusia 8 bulan pernah ditawar 3,5 juta tanpa nego. ^_^ Allah juga memberi rizki yang luar biasa, sehingga tahun ini pula saya mampu mengakuisisi sebidang tanah seluas 84 meter persegi yang saya dedikasikan sebagai lahan untuk kandang peternakan Ananda di kawasan Lembang, Bandung.

Alhamdulillah, saat ini saya diijinkan oleh Allah untuk menjalani kehidupan yang sebelumnya hanyalah imajinasi liar saya semata.

Salam!

DSC06858_a

Wijanarko Dwi Utomo, Wirausahawan yang memiliki hobi menulis ini adalah alumni Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran. Artikel-artikel lain yang ditulisnya dapat diakses di http://www.kompasiana.com/masjawski

(Visited 85 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments