Berenang Bersama Anak

boy swimming

Image courtesy of Sura Nualpradid/Freedigitalphotos.net

Pemikiran ini bermula ketika saya mendaftarkan anak pertama saya, sebut saja namanya Abang (5 tahun), ke sebuah tempat latihan berbagai macam olahraga di sebuah mal di bilangan Jakarta Selatan. Saya merasa tertarik dengan tempat tersebut karena anak saya mengalami perkembangan motorik yang kurang sesuai dengan usianya, salah satunya adalah ia terlambat tengkurap.

DSA (Dokter Spesialis Anak) langganan saya mengatakan bahwa Abang perlu dilatih karena perut dan pantatnya yang besar. Abang memang terbilang besar ketika dia bayi. Kemudian ketika tiba saatnya merangkak, Abang malah ngesot… Semakin dia besar, dia terlihat kesusahan untuk memanjat, pinggulnya seperti berat padahal sudah tidak sebesar ketika dia bayi. Alih-alih mengikutkan dia les atau kegiatan yang bersifat kognitif, saya memilih aktivitas olahraga plus sosialisasi dengan teman sebaya. Alasan kedua ini muncul karena Abang tidak memiliki teman sepermainan di rumah dengan tetangga.

Kelas olahraga yang saya pilih adalah Yoga, Gymnastic, Berenang, dan Introduction to Martial Arts. Sudah setahun dia rutin berkegiatan ini. Pada kesempatan ini saya ingin berbagi mengenai kelas berenang yang dia ikuti.

Kelas berenang yang diikuti Abang cukup menarik konsepnya. Saya kutip nama kelasnya ya… namanya Mom & Me Beginner. Ya, Abang ikut dari level beginner. Kenapa Mom & Me? Karena diwajibkan ada pendamping yang juga ikut nyemplung ke kolam. Kolamnya memang tidak begitu dalam, sekitar 120cm, tapi saya masih sampai kok, mengingat tinggi saya juga semampai… :p. Ketika saya tanyakan apakah anak saya harus bersama ibunya? Karena kelas itu bernama Mom & Me.

Menurut Sales Account tempat tersebut, Abang boleh ditemani ayahnya. Kalau memang tidak bisa juga, dapat diwakilkan kepada anggota keluarga yang lain atau pengasuh, atau bahkan bisa ditemani coach pendamping dengan membayar sejumlah biaya untuk sejumlah pertemuan. Memang idealnya yang menjadi pendamping adalah orang tuanya karena tujuan kelas ini adalah aktivitas bonding dengan orang tua. Ini yang menarik menurut saya. Sangat menarik malah.

Dulu saya adalah pekerja kantoran dan bergantung pada pengasuh yang membantu saya mengurusi Abang. Alhasil, program ini mengusik hati saya. Seberapa dekat saya dengan anak saya? Saya tertarik, dan suami saya pun bersemangat. Ini bisa jadi ajang pembuktian bahwa saya masih bisa menyediakan waktu yang berkualitas dengan anak saya.

Sesi demi sesi berjalan lancar, Abang terlihat bersemangat dan menunjukkan perkembangan kemampuan yang pesat. Pelatih yang memimpin sesi juga interaktif, dia berkali-kali menekankan jangan memaksa anak, suasana kelas juga dibuat nyaman. Sebenarnya lebih ke arah perkenalan agar anak tidak takut dan nyaman. Tapi Abang menguasai bahkan lebih dari yang diharapkan. Salah satu yang membanggakan adalah ketika ada performance-ini adalah istilah mereka untuk ujian kenaikan level Abang langsung loncat 2 level langsung ke Advance. Menurut pelatih saat itu dia tidak perlu mengikuti level Intermediate lagi. Saya sangat bangga sebagai orang tuanya.

Tibalah saat saya harus beberapa kali bepergian untuk mengikuti proyek di luar negeri yang mengharuskan saya tidak bisa lagi menemani dalam kelas berenang. Suami saya yang mengambil alih peran tersebut. Suatu ketika suami bercerita bahwa tingkah laku Abang menjadi sangat berbeda ketika mengikuti kelas berenang. Dia takut untuk lompat ke air, takut mempraktikkan beberapa gerakan yang jelas-jelas dia sudah kuasai, dan menjadi mudah menangis. Awalnya saya mulai bertanya apa yang terjadi… Suami juga bercerita bahwa Abang pernah menyampaikan kalau dia takut tenggelam. Heh? Seingat saya, saya dan suami tidak pernah membahas tenggelam di kolam atau air. Yang pernah kami bahas adalah kemampuan berenang itu justru diperlukan agar bisa melihat ikan, melihat kehidupan di dalam laut, bahkan untuk menolong orang yang tidak bisa berenang.

Sampai pada akhirnya masa performance tiba, dan saya yang menemani Abang untuk mengikuti kelas performance. Di situ saya melihat sendiri perbedaannya. Dia terlihat ketakutan, bahkan mogok. Dia seperti anak yang tidak bisa berenang bahkan tidak pernah masuk kolam sebelumnya. Saya merasa kecewa, bingung, marah, dan sedih campur aduk. Di situlah saya merasa sebagai orang tua pada umumnya. Tidak ada tuh yang namanya teori parenting yang saya ingat. Saya yang tadinya merasa tidak pernah memiliki tujuan atau ambisi tertentu pada anak, ternyata harus saya akui, saya adalah orang tua kebanyakan. Orang tua yang ingin anaknya “jago” tapi tidak menerima proses gagal. Sampai pada akhirnya keluar perkataan dari saya, “Kalau Abang ga mau ikutin Coach, mendingan ga usah ikut kelas lagi”. Ndilalah, anak saya menjawab, “iya Umbi, Abang ga usah ikut kelas lagi”. Saat itu juga saya merasa sedih dan terdiam. Sampai akhirnya Coach utama mendekati saya dan berbicara dengan nada sopan, bahwa dia dengan berat hati memutuskan Abang harus tetap berada di level Advanced agar bisa memantapkan skill sebelum naik kelas lagi. Coach-nya pun ingin bertemu dengan saya untuk berbicara perkembangan Abang selama ini.

Ketika bertemu, Coach menyampaikan dia melihat ada perbedaan dari sikap dan perilaku Abang selama di kelas. Tadinya Abang adalah peserta kelas yang dibanggakan oleh setiap coach karena sangat kooperatif, pemberani, dan aktif. Tapi semenjak beberapa saat yang lalu, dia berubah menjadi kebalikannya. Coach bertanya apakah semenjak saya pergi, ada pembicaraan atau kejadian apa yang membuat dia menjadi demikian. Saya jawab seingat saya tidak ada. Tidak ada perbedaan perlakuan apapun. Dan seketika perasaan bersalah menyergap saya. Apakah ini gara-gara saya pergi kemarin? Biasanya juga tidak ada masalah kalau Abang harus ditemani ayahnya. Karena dia juga dekat dengan ayahnya.

Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk melanjutkan kelas. Abang masih di kelas Advanced sesuai dengan saran Coach. Dan kami (saya dan suami) sepakat untuk mengubah pendekatan ke Abang. Yang tadinya kami tantang dia untuk berenang dengan jarak yang jauh, kini kami mengikuti tingkat kenyamanan dia. Tidak ada paksaan, walau kami tetap berusaha bernegosiasi sambil menyisipkan kalimat-kalimat dengan tujuan mengembalikan kepercayaan dirinya dan kesukaan dia berenang. Karena memang dia terlihat sangat menikmati aktivitas di air. Dan pada saat tulisan ini dibuat, kelas performance akan tiba. Dan saya benar-benar siap ketika Abang masih diharuskan untuk tetap berada di kelas Mom & Me Advanced.

Kelas ini ternyata bukan untuk Abang, tapi untuk saya agar dapat belajar banyak hal. Mengajarkan mental saya untuk siap menerima proses yang tidak sesuai dengan keinginan saya sebagai orang tua. Mengajarkan bahwa saya harus ingat tujuan saya semula untuk mengembangkan kemampuan motorik anak dan sosialiasi, keahlian berenang adalah nilai plus-nya bukan tujuan utama. Mengajarkan bahwa proses belajar memang harus menyenangkan. Mengajarkan bahwa anak juga punya suara untuk menyatakan ketidaknyamanannya atau keinginannya, karena anak juga manusia. Bagaimana nanti dia bisa menghargai pendapat atau kondisi orang lain, dan lebih penting, memiliki kemampuan berempati ketika dia tidak mendapatkan pengalaman itu dari sejak dini? Ya.. .tugas kita sebagai orang tuanya lah untuk mengajarkan itu. Tidak besok atau lusa, tapi dari sekarang…

giok 2015

Kemala Hayati, Ibu rumah tangga dengan dua anak merangkap sebagai Associate Psikolog & HR Consultant. Berminat di area pengembangan psikologi organisasi dan pendidikan.

(Visited 117 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments