Menghadapi Toxic Person

argument

Image courtesy of stockimages/ Freedigitalphotos.net

Anda datang ke tempat kerja yang baru, bertemu dengan orang yang –menurut Anda- karakternya tidak cocok dengan Anda. Namun Anda berusaha bertahan, berharap waktu akan memperbaiki hubungan Anda dengan orang tersebut.

Seiring dengan waktu, hubungan Anda dengannya terus terjalin. Tanpa Anda sadari, apa yang dilakukan orang itu terhadap Anda membuat Anda merasa selalu ada yang salah dengan diri Anda. Ia kerap kali mengatakan, “Saya sebenarnya senang berhubungan dengan kamu, kecuali jika kamu sedang melakukan tindakan A atau B.” Perlahan apa yang dikatakannya semakin mengendalikan diri Anda, ia mengatakan apa saja yang seharusnya Anda lakukan dan tidak Anda lakukan. Membuat Anda merasa sedih, Anda mulai mempertanyakan keberadaan Anda, benar atau tidaknya sikap Anda. Anda terus bertahan sampai suatu ketika, Anda mempelajari tentang adanya Toxic Personality.

Toxic Person, bukan berarti seluruh tubuh orang yang memiliki sebutan itu memiliki racun. Kepribadian orang inilah yang dianggap “beracun”, sehingga apa yang dilakukannya dapat menyakiti Anda dan orang di sekitarnya secara emosional. Anda dapat dibuat merasa bersalah atas setiap tindakan Anda, kata-kata yang diungkapkannya dapat melukai Anda, namun dia tidak merasa bersalah karena itu akan menjadi kesalahan Anda.

Toxic People menyebabkan stres pada orang lain. Mereka berbicara keras, kehilangan kesabaran, mengatakan hal-hal yang mengerikan kepada Anda, dan biasanya kemudian meminta maaf, namun melakukannya lagi di kemudian hari. Efek berhubungan dengan orang ini berpengaruh kepada fisik Anda. Setelah bertemu dengannya, Anda bisa jadi merasa sakit perut, sakit kepala, sakit punggung, cemas, susah tidur dan susah makan.

Berhubungan dengan Toxic Person akan menghasilkan Toxic Relationship. Semakin Anda mencoba keluar dari hubungan tersebut, maka Anda merasa semakin terhanyut dalam hubungan itu. Toxic People hanya akan bisa berubah bila mereka memiliki keinginan dari dalam dirinya untuk berubah. Anda bisa jadi bertemu dengan rekan kerja yang berulang kali berkata bahwa ia tidak akan lagi melukai Anda, bahwa ia akan berubah. Namun sekali lagi, ia akan berubah jika ia memang benar ingin berubah.

Jika Anda sedang berhubungan dengan Toxic Person dan hal itu sangat mempengaruhi diri Anda dan kehidupan Anda, bertemulah dengan seorang konselor. Konselor akan membantu Anda untuk menyadari bahwa sebenarnya tidak ada yang salah pada diri Anda, masalah sebenarnya ada pada Toxic Person tersebut. Anda akan mencoba mengatasi diri Anda agar tetap bisa menjalani kehidupan tanpa Toxic Person itu, atau mengambil jarak emosional dengannya sehingga ia tidak bisa lagi mempengaruhi diri Anda.

Setelah tidak lagi berhubungan dengan Toxic Person, seseorang bisa jadi merasa menyesal dan marah terhadap dirinya sendiri, karena tahun-tahun yang telah dijalaninya bersama Toxic Person itu. Kerapkali kita berharap orang dengan kepribadian tersebut dapat berubah, namun waktu yang telah dihabiskan dengannya menjadi terlalu lama dan menghabiskan energi fisik dan emosional Anda.

Jika Anda sedang berada dalam Toxic Relationship, dan orang yang berhubungan dengan Anda itu tidak berubah, maka lepaskanlah hubungan dengan mereka. Berlalulah darinya demi kehidupan Anda yang lebih baik.

hesti 2013

Hesti Farida Al Bastari, adalah Sarjana Psikologi dari Universitas Padjadjaran, bekerja part time sebagai associate untuk Konsultan HR di Jakarta. Dengan rekan-rekannya sesama alumni, tahun 2013 ia mengembangkan blog psikologi Psychologythoughts.com.

(Visited 111 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments