Les(s) Stress

kids school

Image Courtesy by digitalart/ Freedigitalphotos.net

Pernah coba menghitung berapa jenis les yang ada di Jakarta ini? Mulai dari les belajar baca-tulis dalam hitungan jam, pelajaran : matematika, bahasa Inggris, Mandarin, privat, bimbingan belajar alias bimbel, les olahraga : aneka beladiri, berenang, sepakbola, tenis, badminton, sepatu roda, berkuda, baseball, dsb. Lalu ada les seni : aneka alat musik, vokal, tari, balet, drama/teater, lukis, gambar. Ada juga les keterampilan khusus seperti robotic, coding, manga/komik, memasak, art & craft, dan semacamnya. Wah, banyak! 

Les mayoritas ditujukan untuk anak usia sekolah. Tujuannya macam-macam, baik untuk menunjang kemampuan maupun keterampilan. Apalagi dengan perkembangan informasi mengenai kebutuhan stimulasi serta iming-iming kesuksesan anak. Menurut saya, sasaran utamanya bukan anak, melainkan orangtua. Ya, kita yang punya andil besar dalam menentukan stimulasi yang diberikan pada anak. Mau model seperti apa dan berapa banyak. Termasuk soal konsistensinya, itu urusan orangtua. Apalagi kalau urusan biaya, orangtua ‘kan yang pegang kuncinya.

Bagi saya, les itu terbagi dua. Les yang menunjang akademik di sekolah dan les keterampilan. Ingat ya, menunjang. Les akademik diperlukan bagi anak yang mengalami kesulitan untuk memahami penjelasan guru di kelas karena adanya keterbatasan waktu atau rentang perhatian. Misalnya, di kelas satu jam pelajaran adalah 30 menit. Jika matematika diberikan dalam 2 jam pelajaran berarti 60 menit yang terbagi atas penjelasan dan latihan. Mungkin anak kita memerlukan penjelasan yang intensif (sedangkan di kelas ada 20 murid lain yang perlu perhatian guru). Atau, dalam 60 menit itu anak kita hanya mampu fokus selama 10 menit secara tidak terus menerus. 2 menit fokus, 15 menit melamun, dst. Atau lagi, anak kita tipe anak yang perlu latihan rutin, sementara waktu orangtua terbatas, juga kesabarannya. Jika ini yang terjadi, maka anak perlu les akademik untuk menunjang kegiatan belajarnya. Bukan untuk menjadi yang terbaik di kelas.

Patokan sederhana perlu tidaknya anak mengikuti les akademik adalah nilai ketuntasan minimal yang dicantumkan di rapor. Jika anak mampu mencapai nilai, dengan cara belajar yang sudah ada, berarti pertimbangkan kembali tujuan anda mengikutsertakan anak dalam les akademik. Jangan sampai tujuan anda membebani anak. Realistis saja dengan kemampuan anak. Sebenarnya, logika pelajaran sekolah itu dapat dikembangkan kemampuannya melalui aktivitas harian yang dapat dikerjakan oleh anak secara rutin. Les bukanlah meningkatkan kemampuan tersebut, hanya membantu menjelaskan materi yang belum dipahami oleh anak.

Untuk keterampilan, saya pribadi menyampaikan pada SiEneng ketika ia berusia 5 tahun bahwa saya akan membekalinya dengan 3 keterampilan, yaitu berenang, seni, dan beladiri. Untuk seni dan beladiri ia boleh pilih jenisnya. Kenapa perlu les, karena saya (atau ayahnya)  tidak bisa mengajarinya. Dan, ada bonus berupa sertifikasi yang menunjukkan kemampuannya. Ketika usianya 6 tahun 3 bulan, SiEneng mulai les piano. Lalu, les berenang. Setelah 3 tahun dengan guru yang sama dan menguasai 4 gaya, SiEneng berhenti les berenang dan berganti dengan latihan aikido, setelah menolak sederetan nama bela diri lainnya. Mulus? Enggak juga. Alhamdulillah kami belajar, termasuk belajar konsisten.

Konsisten tidak sama dengan memaksa. Karena konsisten bukan membebani, apalagi menuntut. Tidak ada target prestasi, apalagi yang instan. Saya selalu melibatkan SiEneng dalam mengambil keputusan, termasuk ketika ia minta berhenti balet di usia 3 tahun. Alasannya bisa diterima, maka berhenti, meskipun ia senang menari. Kalau jenuh, pasti ada. Lain kali saya akan cerita tentang kejenuhan ini. Memaksa, termasuk memaksa diri dari tidak bisa menjadi bisa atau harus menjadi yang terbaik tentu membebani anak. Menuntut apalagi. Ketika anda sebagai orangtua memutuskan bahwa anak akan mengikuti suatu les tertentu, sewajarnya anda sudah mempertimbangkan masak-masak dan berhitung. Oke lah jika biaya les dianggap sebagai investasi. Kalau investasi berarti hasilnya tidak seketika ‘kan? Jangka panjang. Jadi, kalau anak anda mempersembahkan suatu prestasi, anggap itu sebagai bonus, bukan kewajiban. Karena niat kita adalah investasi bagi masa depannya kelak.

Apa yang terjadi ketika ternyata anak merasa dibebani atau dituntut oleh kita? Akibatnya bisa bermacam – macam. Berdasarkan pengalaman dari ruang praktek, mulai dari berkeluh kesah, malas les, mogok les, gangguan kecemasan : murung, nangis, marah – marah, gak bisa tidur, mengigau, dsb. Harusnya bila tanda tanda ini muncul maka orangtua yang harus mengetahui terlebih dahulu. Lalu, diskusi dengan anak. Eh, tapi, hubungan anak dan orangtua harus nyaman agar bisa diskusi sehat. Kalau tidak bisa teratasi, diskusikan dengan guru yang terlibat, jika perlu minta bantuan Psikolog. Ketika menghadapi masalah, sebaiknya orangtua terbuka dengan segala kemungkinan, termasuk kemungkinan berhenti les.

Les bisa jadi pengisi waktu luang, selain hobi, bagi anak dengan energi besar. Energi besar bukan berarti anaknya aktif bergerak, tetapi juga potensi kecerdasannya di atas rata-rata. Les berfungsi agar waktunya dapat dimanfaatkan dengan melakukan hal positif, setelah kewajibannya terpenuhi. Jadi les itu sifatnya unik, sesuai kebutuhan dan kemampuan anak. Orangtua yang harus tahu kebutuhan anaknya. Kalau belum tahu atau ragu dengan kebutuhan dan kemampuan anak, konsultasi dengan profesional agar dapat masukan yang objektif. Orangtua dapat mempertimbangkan gaya dan sikap belajar anak dan minatnya jika memang ingin memberikan pengayaan bagi aktivitasnya. Apakah ia sudah cukup mampu untuk mengatur dirinya sendiri, termasuk belajar dan mengerjakan tugas dari sekolah? Mampukah ia meluangkan waktu untuk menekuni hobi atau minatnya secara serius? Mengenai minat anak, sampai dengan usia sekitar 12 tahun sebenarnya mereka sedang mengeksplorasi minatnya. Jika orangtua memiliki kemampuan untuk memberikan fasilitas, silakan dicoba. Tapi jika ada keterbatasan, misalnya waktu dan biaya, diskusikan dengan anak. Les harusnya tidak menimbulkan stress yang di luar kewajaran. Untuk anak dan orangtuanya.

Lots of love and logic will never fail

alzena masykouri 2

Alzena Masykouri, M. Psi-Psikolog Anak & Remaja – Pendidikan.

Alzena merupakan alumni Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran angkatan 1995. Melanjutkan studi di Magister Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dengan spesialisasi Klinis Anak dan Psikologi Pendidikan dan lulus di tahun 2002, Alzena saat ini aktif menjadi narasumber perihal psikologi anak di media massa. Ia dapat dihubungi di Bestariku (www.bestariku.co.id), Pusat Edukasi Anak dan Keluarga di daerah Bintaro, Tangerang Selatan.

(Visited 84 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments