Menghapus Stigma Penderita Skizofrenia

buku noriyu

Tanggal 10 Oktober 2014, bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia (World Mental Health Day). Hari ini, saya mendapat kesempatan untuk turut menghadiri acara peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia tersebut yang diselenggarakan oleh Direktorat Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan, di @america Mal Pacific Place Jakarta. Sebelumnya acara ini diberitahukan mendadak kepada saya, karena sebelumnya saya belum pernah ke @america, dan senior-senior di grup Whatsapp Psychologythoughts.com mengompori saya untuk ke sana demi memperluas wawasan.

Kebetulan waktunya pas, saya sedang tidak ada acara, dan temanya menarik, jadi pada saat undangan dari @america yang bertema “Living With Schizophrenia” itu datang di pagi hari tanggal 10 Oktober, saya langsung menuju tempat itu. Datang ke tempat acara saya sempat mengeluh dalam hati melihat betapa ketatnya pengamanan yang dilakukan oleh mereka yang berasal dari Amerika Serikat ini. Kita mesti melalui sensor X-ray dua kali, di pintu masuk Mal dan saat memasuki venue @america. Pada saat memasuki tempat acara, tas harus dititipkan, yang membuat saya kemudian menyesal karena saya meninggalkan buku dan alat tulis saya (lain kali tidak akan terjadi lagi, mudah-mudahan). Beruntung, ponsel dan dompet saya bawa, sehingga saya masih sempat memotret acara dan membuat notes pendek tentang pengetahuan baru yang didapat di acara tersebut.

Masuk ke dalam ruangan, ternyata sudah banyak orang. Saya antri mendaftar, dan girang bukan main saat mendapatkan suvenir sebuah buku yang berjudul, “A Rookie and The Passage of The Mental Health Law: The Indonesian Story” oleh mbak Nova Rianti Yusuf. Eh, Noriyu? Wuah, misuh-misuh saya di awal akhirnya terhapus karena rupanya acara tersebut juga menjadi kesempatan untuk peluncuran buku mbak Nova Rianti Yusuf, yang juga menjadi pemandu jalannya acara.

Dokter Nova Rianti Yusuf, Sp.Kj adalah salah satu anak muda Indonesia yang menjadi anggota DPR tahun 2009-2014 sebagai caleg dari DKI II Partai Demokrat. Di usianya yang saat itu masih 32 tahun, Noriyu mengajukan usulan RUU Kesehatan Jiwa untuk masuk Prolegnas. Sebuah usaha yang cukup membuat salut bagi para praktisi yang bergerak di bidang kesehatan jiwa, karena selama ini pengajuan peraturan terkait kesehatan jiwa tampaknya masih hanya sebatas wacana. Di akhir masa jabatannya, pada Rapat Paripurna DPR RI tanggal 8 Juli 2014, UU Kesehatan Jiwa disahkan menjadi UU No.18 Tahun 2014, dan akan diberlakukan efektif satu tahun setelah disahkannya.

Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia di Indonesia tahun 2014 ini tampak memberi harapan setelah UU Kesehatan Jiwa disahkan. Noriyu menyampaikan fakta bahwa dalam penelitiannya terkait UU Kesehatan Jiwa, didapati laporan adanya 56.000 kasus pemasungan terhadap orang yang mengalami gangguan kesehatan mental, dan sebagian besar di antaranya adalah kasus skizofrenia. Sebagian besar kasus pemasungan terjadi di daerah, daerah terpencil yang memiliki akses yang minim terhadap tenaga kesehatan jiwa. Masih banyak kekerasan yang terjadi pada orang dengan gangguan jiwa, dan pelaku kekerasan adalah orang yang berada di lingkungan terdekat, karena minimnya pengetahuan terkait gangguan jiwa yang diderita oleh pasien.

Masih banyak stigma yang beredar di masyarakat bahwa orang yang mengalami gangguan jiwa khususnya skizofrenia tidak akan bisa sembuh, termasuk di kalangan tenaga medis yang melakukan penanganan. Hal ini menjadi suatu tantangan bagi Kementerian Kesehatan, seperti disampaikan oleh Dokter Eka Viora, SpKj dari Direktorat Bina Kesehatan Jiwa, karena apabila tenaga medisnya sendiri tidak memiliki keyakinan bahwa orang dengan gangguan jiwa bisa sembuh, bagaimana dengan keluarga pasien?

Pasien yang menderita gangguan jiwa, di Indonesia, terutama skizofrenia, masih mendapat stigma negatif dan masyarakat belum dapat memahami bahwa skizofrenia adalah suatu bentuk gangguan pada otak yang sebenarnya masih dapat disembuhkan. Skizofrenia dianggap sebagai penyakit kutukan, dan orang yang mengalami gangguan skizofrenia akan dijauhkan dari masyarakat, mereka tidak memiliki kegiatan sehari-hari untuk membantu mempercepat kesembuhannya. Sendiri dan merasa terasing, maka mereka akan rentan untuk kambuh lagi. Negara seharusnya juga menyediakan suatu sistem pendukung dari keluarga dan orang terdekat pasien, dengan memberi mereka pengetahuan mengenai gangguan jiwa yang diderita oleh keluarganya.

Bagus Utomo, Ketua Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI), organisasi nirlaba yg bertujuan berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang pengobatan, dan pemulihan gangguan Skizofrenia dan gangguan jiwa terkait, di dalam acara ini menyampaikan pengalamannya sebagai keluarga pasien yang menderita skizofrenia. Pada saat vonis gangguan jiwa tersebut jatuh kepada keluarganya, ia merasa negara dan orang-orang di sekitarnya meninggalkannya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain setiap hari pulang bekerja dan masuk ke dalam kamar untuk mendengarkan saudaranya mengamuk setiap kali gejala penyakitnya kambuh, untuk kemudian esok harinya ia tinggalkan lagi pergi bekerja.

Prognosis bahwa skizofrenia dapat disembuhkan akan lebih kuat apabila gejala munculnya penyakit ini dapat diketahui sejak dini. Dokter A A Ayu Agung Kusumawardhani, SpKj (K), yang menjadi ketua seksi Skizofrenia Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menyampaikan bahwa apabila kita mengenali munculnya tanda-tanda awal dari gangguan jiwa, sebaiknya kita langsung membawa orang yang bersangkutan kepada tenaga medis. Tanda-tanda awal yang perlu diperhatikan adalah apabila orang yang kita kenal mendadak berubah kebiasaannya, dari yang tadinya suka berbicara menjadi murung, terus berdiam diri di kamar, atau membicarakan hal yang tidak sesuai konteksnya. Biasanya menjaga kebersihan menjadi tidak suka mandi, mudah terpancing emosinya, dan berubah tidak seperti diri mereka sendiri yang biasanya.

Orang terdekat dengan pasien sebaiknya langsung berkonsultasi dengan tenaga medis terdekat. Hal ini cukup mudah bila kita berada di kota-kota besar, karena kita dapat menemukan Psikiater atau Psikolog yang dapat segera melakukan penanganan dan deteksi dini dari adanya gangguan jiwa. Dari 34 provinsi di Indonesia, cuma 26 provinsi di Indonesia yang memiliki Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Jumlah Psikiater tidak sampai 800 orang dan Psikolog Klinis tidak sampai 400 orang. Dari 9000 Puskesmas, hanya 1000 yang memiliki pelayanan kesehatan jiwa, tetapi tidak tahu seperti apa bentuk pelayanannya.

Dengan adanya UU Kesehatan Jiwa, pemerintah diharapkan memunculkan solusi atas problematika yang dialami oleh pelayanan medis terkait kesehatan jiwa di Indonesia. Prof. Byron Good PhD dari Harvard Medical School, profesor yang telah 16 tahun membantu meneliti dan mengembangkan sistem kesehatan mental di Indonesia, menjelaskan bahwa untuk membangun sistem kesehatan mental di Indonesia, kita tidak dapat meniru sistem di negara lain, karena masalah kesehatan mental di Indonesia sangat kompleks. Indonesia perlu mengembangkan sistemnya sendiri melalui sistem yang sudah ada.

Untuk itulah, pemberdayaan tenaga kesehatan melalui Pusat Kesehatan Masyarakat menjadi hal yang krusial untuk diperhatikan. Pendidikan untuk Dokter Layanan Primer yang setara dengan spesialis akan dibuka seluas-luasnya dan ditempatkan di Puskesmas, dan gangguan jiwa akan menjadi salah satu kompetensi yang akan dipelajari oleh Dokter Layanan Primer. Setiap tenaga kesehatan akan dilatih agar memberikan perlakuan yang sama dan menghapus stigma negatif terhadap orang yang menderita gangguan jiwa khususnya skizofrenia. Perlu adanya roadmap sistem pelayanan kesehatan jiwa yang terintegrasi dan berkesinambungan dari tingkat puskesmas, kabupaten, sampai dengan RSUD Provinsi serta lingkungan pendidikan untuk tenaga kesehatan yang juga mencakup Psikolog Klinis dan tenaga recovery untuk pemulihan gangguan jiwa.

Semoga dengan peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia tahun 2014 ini, kita dapat membuka wawasan kita dan membantu menghapus stigma negatif terhadap orang dengan gangguan jiwa khususnya skizofrenia. Skizofrenia adalah suatu penyakit yang bisa diobati, penderitanya bisa sembuh, dan bukan merupakan suatu kutukan. Orang yang mengalami gangguan skizofrenia harus mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat di sekitarnya.

hesti 2013

Hesti Farida Al Bastari, adalah Sarjana Psikologi dari Universitas Padjadjaran, bekerja part time sebagai associate untuk Konsultan HR di Jakarta. Dengan rekan-rekannya sesama alumni, tahun 2013 ia mengembangkan blog psikologi Psychologythoughts.com.

(Visited 143 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments