Membahas Identitas Sosial

group people

Image courtesy of Stuart Miles/ Freedigitalphotos.net

Pada saat Pemilihan Presiden 2014 kemarin, kita melihat maraknya fenomena orang-orang yang menunjukkan dukungannya pada capres pilihannya. Di media sosial, tak sedikit mereka yang sampai memutuskan pertemanan karena berbeda pilihan, atau akhirnya saling serang dan saling mengemukakan opini yang membela capres masing-masing. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Sebuah teori dalam psikologi sosial yang disebut Teori Identitas Sosial dapat menjelaskan munculnya fenomena ini. Teori ini ditemukan oleh Tajfel (1981), yang mengungkapkan bahwa seseorang mengembangkan adanya identitas berdasarkan kelompok sosial yang mana ia mengacu. Penelitian terkenal Tajfel yang disebut minimal group paradigm menjelaskan bahwa hanya dengan sekedar menyebutkan kepada seseorang bahwa ia merupakan bagian dari kelompok tertentu, dapat mempengaruhi penilaiannya terhadap kelompok lain.

Pada saat kita sudah mengembangkan identitas sosial bahwa kita adalah bagian dari kelompok A, misalnya agama tertentu, ras tertentu, etnis tertentu, atau aliran politik tertentu, kita mengembangkan sikap positif terhadap diri kita dan pemahaman yang jelas mengenai cara kita bertingkah laku kepada orang yang sekelompok dengan kita (ingroup) dan orang yang ada di luar kelompok kita (outgroup).

Saat berhubungan dengan orang lain pada kehidupan nyata, kita melakukan kategorisasi sosial. Kita membuat kategori-kategori pada diri orang yang berhadapan dengan kita berdasarkan kelompok-kelompok sosialnya. Hal ini kerapkali menimbulkan munculnya bias penilaian karena penilaian kita terhadap orang lain tidak terlepas dari penilaian yang cenderung positif terhadap kelompok kita sendiri, dan menilai bahwa kelompok orang lain cenderung lebih negatif. Kita menganggap bahwa kelompok kita lebih bagus, lebih baik, lebih benar, dan kelompok lainnya yang salah, tanpa berusaha lebih lanjut memberikan penilaian secara objektif terhadap kelompok-kelompok sosial yang ada. Yang terjadi pada Pemilihan Presiden kemarin adalah, setiap anggota kelompok pendukung capres merasa bahwa capresnya adalah yang paling benar.

Tapi tidak selalu hal itu yang terjadi. Pada beberapa orang yang identitas sosialnya tidak cukup kuat terbentuk, ada yang mengembangkan perasaan minder terhadap kelompoknya. Mereka yang mengalami hal ini kemudian juga melakukan bias penilaian dengan menilai bahwa anggota kelompok lain lebih positif dibanding kelompoknya. Kelompok lain dinilai lebih bagus, lebih baik, dan lebih benar, sedangkan kelompok mereka sendiri dinilai lebih negatif.

Kenyataannya adalah pada setiap kelompok, memiliki hal-hal positif atau negatif atau kelebihan dan kekurangan. Namun pada mereka yang mengalami outgroup favoritism, yaitu melihat kelompok lain lebih bagus dari kelompoknya sendiri, orang-orang ini akan melihat hanya hal positif dari kelompok lain, dan dari kelompoknya sendiri, hanya melihat hal negatifnya. Jadi misalnya pada pendukung klub sepakbola dalam suatu pertandingan, apabila ia pendukung klub A, dan mengalami outgroup favoritism, maka saat ada anggota klub B yang melakukan kesalahan, ia akan mengatakan bahwa kesalahan itu dikarenakan kesalahan anggota klub B itu sendiri, bukan karena kesalahan kelompoknya. Namun saat ada anggota klub A yang melakukan kesalahan, maka ia akan berkata bahwa itu adalah kesalahan klub A.

Keberadaan identitas sosial ini mengingatkan kita bahwa saat melakukan penilaian terhadap orang lain, kita kerapkali dapat melakukan bias atau kesalahan.

Bahan Bacaan:

Smith, Peter B. & Bond, Michael Harris. 1998. Social Psychology Across Cultures. Massachusets: Allyn & Bacon.

Tajfel, H. 1981. Human Groups and Social Categories. Cambridge: Cambridge University Press.

Social Identity Theory. 2004. diunduh dari situs University of Twente http://www.tcw.utwente.nl/theorieenoverzicht/Theory%20clusters/Interpersonal%20Communication%20and%20Relations/Social_Identity_Theory.doc/ tanggal 10 Maret 2009 pukul 19.15 WIB

 

hesti 2013

Hesti Farida Al Bastari, adalah Sarjana Psikologi dari Universitas Padjadjaran, bekerja part time sebagai associate untuk Konsultan HR di Jakarta. Dengan rekan-rekannya sesama alumni, tahun 2013 ia mengembangkan blog psikologi Psychologythoughts.com.

 

(Visited 289 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments