Memahami Narsisme Ekstrim

Setiap kali kita mendengar ada orang yang menyatakan, “Kamu narsis!”, “Ih, narsis banget sih!”, padahal Narsisme di dalam psikologi termasuk kedalam kategori penyimpangan kepribadian.

Menurut Samuel Lopez de Victoria, PhD atau dikenal juga dengan Dr.Sam, di dalam diri kita semua memiliki kadar narsisme tertentu. Yang akan menimbulkan masalah adalah bila level narsisme tersebut telah mencapai titik ekstrim.

Narsisis ekstrim adalah mereka yang adalah orang yang memiliki pandangan sangat egosentris, seluruh dunia seakan berputar mengelilingi dia. Pandangan ini mempengaruhi cara dia menilai dirinya, keinginan-keinginan pribadinya, aspirasinya, kebutuhannya, kesuksesannya, dan cara dia dipandang oleh orang lain. Seorang narsisis ekstrim akan memanfaatkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya sampai kemudian ia merasa bahwa orang tersebut sudah tidak memberikan manfaat lagi bagi dirinya.

Narsisis ekstrim meletakkan batas antara dirinya dengan orang lain. Mungkin ada suatu masa dimana awalnya ia mengalami luka emosional atau serangkaian kejadian yang membuat pelaku menjadi trauma terpisahkan atau terikat dengan orang lain. Narsisis ekstrim yang pernah menjadi pasien Dr. Sam, mengalami kesamaan pola yaitu pernah mengalami trauma hingga titik dimana kejadian itu hampir membunuh mereka di masa lalu secara emosional. Rasa sakit ini tidak pernah benar-benar menghilang, dan luka psikologis terus berlanjut hingga mereka dewasa. Agar bisa bertahan hidup, anak yang mengalami luka psikologis tersebut membangun benteng pertahanan yang melindunginya dari dunia eksternal yaitu orang lain. Mereka melakukan generalisasi bahwa semua orang itu berbahaya dan tidak dapat dipercaya.

Benteng pertahanan ini, disebut persona (topeng) buatan. Seorang narsisis ekstrim membuat sebuah identitas palsu, yang bukan wujud dari dirinya yang sebenarnya. Persona buatan atau identitas yang ditampilkan oleh seorang narsisis ekstrim dapat beragam.

Beberapa narsisis memiliki kemampuan untuk berubah menjadi beragam identitas tergantung situasinya. Seorang anak yang terluka secara emosional dapat menampilkan diri sebagai “anak nakal” dan tangguh, bisa tampil menakutkan dan mengintimidasi orang lain, namun juga bisa berperan sebagai orang yang “baik dan menyenangkan” yang disukai semua orang. Anda mungkin menemukan orang yang sangat “berwibawa” di hadapan banyak orang, namun di sisi lain menjadi sangat “menuntut dan berharap segala keinginannya dituruti”.

Bila Anda berusaha mendekat dengan seorang narsisis dan menggali kepribadiannya yang sebenarnya, mereka akan dengan ahlinya mengelak dan berusaha membahas hal lain. Kemudian ia akan menjauh dari Anda dan memberikan label bahwa Anda ternyata “tidak aman” untuk terus berada dalam kehidupannya.

Ada pula yang namanya oriented narsisis yang sukses. Ia akan terus menjadi teman Anda selama Anda dianggap bermanfaat. Pada saat Anda tidak memiliki apapun lagi untuk ditawarkan, ia akan pergi dari kehidupan Anda. Seorang narsisis akan menghindari orang yang hidupnya tidak bisa dikendalikan olehnya, yang memiliki keinginan sendiri dan kendali diri yang kuat.

Narsisis juga mungkin akan menghindari Anda pada saat Anda dianggap sudah lebih sukses dari dirinya dan ia tidak mungkin lagi melampaui Anda. Waspada juga dengan label yang diberikan oleh para Narsisis yang bertujuan untuk menjatuhkan ego Anda dan meningkatkan kepercayaan diri mereka.

Narsisme adalah salah satu gangguan psikologis yang sukar diatasi selama para pelakunya menganggap bahwa mereka terlalu keren untuk mendapatkan penanganan. Namun saat seorang narsisis ekstrim menyadari keberadaan benteng pertahanan dirinya yang kuat, yang membuatnya tidak dapat membangun ikatan emosional dengan orang lain, mereka dapat memulai penanganan dengan menemui ahli yang kompeten dalam menangani dan menyembuhkan trauma emosional. Tidak semua konselor berkompeten menangani isu traumatik mereka, karena narsisis ekstrim ini cenderung memiliki sejarah luka emosional sehingga mereka tidak mudah percaya pada orang lain. Konselor yang menangani mereka harus dapat mereka percaya untuk dapat menyembuhkan luka traumatisnya.

Selanjutnya, narsisis ekstrim harus memiliki keinginan untuk mengenali perasaan mereka lagi. Bertahun-tahun mereka menjadi orang yang ahli dalam menutupi dan menyembunyikan diri, bahkan kepada diri mereka sendiri. Sudah menjadi saatnya bagi mereka untuk membuka kembali luka emosional yang menyakitkan bagi mereka. Untuk melindungi diri, mereka belajar untuk memutus perasaan mereka sendiri, hidup dalam dunia mereka sendiri, dan hidup dalam dunia yang penuh prinsip, hukum, dan aturan rasional, karena dunia seperti itu adalah dunia yang bisa mereka kontrol. Sebuah dunia yang menghindari terlibatnya perasaan. Keterlibatan hati atau perasaan merupakan domain yang sangat mereka hindari karena mereka tidak dapat mengendalikannya.

Bila kedua hambatan ini dapat diatasi, narsisis ekstrim akan dapat mengatasi masalah mereka menuju kondisi psikologis yang lebih sehat.

Sumber:

Samuel Lopez de Victoria, PhD. How to Spot a Narcissist. Dari situs Psychcentral.com http://psychcentral.com/blog/archives/2008/08/04/how-to-spot-a-narcissist/

Youtube: DoctorSam https://www.youtube.com/watch?v=eQH5-7TJSdI&list=UU1GcTsVi7wMQljS0leSXFMQ&index=2&feature=plcp

hesti 2013

Hesti Farida Al Bastari, adalah Sarjana Psikologi dari Universitas Padjadjaran, bekerja part time sebagai associate untuk Konsultan HR di Jakarta. Dengan rekan-rekannya sesama alumni, tahun 2013 ia mengembangkan blog psikologi Psychologythoughts.com.

(Visited 93 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments