Kembangkan Pengasuhan Membaca

membaca courtesy dnd

Courtesy by DnD

-Kembangkan Pengasuhan Membaca, Bukan Sekadar Mengajar untuk Bisa Membaca-

Tiap tahun, selalu saja ditemui pertanyaan-pertanyaan tentang, “perlu tidaknya anak telah menguasai keterampilan membaca di TK”. Sebagian pro, sebagian kontra dan sebagian terombang-ambing di antara pro dan kontra. Kebijakan yang ada, tidak mewajibkan pembelajaran menulis – membaca di Taman kanak-kanak. Namun kenyataannya, begitu anak memasuki kelas 1, tuntutan terampil membaca dan menulis menjadi hal yang mutlak ada. Kalau tidak? Yaaa…tidak dipaksa, namun biasanya anak sendiri yang akan menanggung ketidaknyamanan bersekolah di SD awal ini karena kesulitan beradaptasi dengan pembelajaran yang dirancang. Dan pertanyaan perlukah belajar membaca di usia dini pun menjadi hal yang masih sulit untuk dijawab.

Perlukah belajar membaca? Perlu, bahkan sangat perlu. Dunia kita saat ini adalah dunia kata-kata, dunia yang penuh dengan simbol. Sulit dibayangkan bila satu hari saja kita tidak membaca satu kata pun atau tak membaca satu simbol pun, kira-kira apa yang akan terjadi?

Kekacauan lalu lintas, berjuta orang salah arah, tak terhitung banyaknya manusia yang dibuat bingung dan dunia seperti terhenti. Mungkin itulah yang terjadi jika kita tidak membaca.

Membaca adalah tugas yang hanya diemban oleh manusia, tidak ada makhluk lain yang diperintahkan membaca kecuali manusia. Mengajarkan anak membaca seperti mengelola pengasuhan yang baik. Anak adalah pusat dan tujuan dari pengasuhan membaca, bukan keinginan sekolah, orang tua atau aturan-aturan lain yang mengada-ada.

Terampil membaca melibatkan 2 pihak, Si Pembaca (reading ability) dan Buku/Teks yang dibaca (readability). Dua pihak ini yang perlu dipahami baik oleh guru maupun orang tua.

Si pembaca (anak-anak kita) perlu kita pahami kondisinya, daya pahamnya, serta minat-minatnya. Jangan asal tabrak dan paksa saja dalam mengajarkan membaca, karena hasilnya akan membuat anak bisa baca namun tak berminat terhadapnya karena tidak pernah paham apa yang dibacanya.

Hasil penelitian Early Grade Reading Assessment terhadap 4232 siswa kelas rendah di 23 provinsi di Indonesia menyatakan bahwa siswa sekolah dasar (kelas 1 dan 2) di Indonesia memiliki kelancaran membaca yang baik namun rendah dalam hal memahami bacaan. Ini bisa diartikan bahwa anak-anak Indonesia umumnya hanya “lancar membaca” tapi tidak paham tentang apa yang dibacanya.

An Early Grade Reading Assessment (EGRA) on 4,232 third-grade students in primary schools in 23 districts in the seven USAID PRIORITAS partner provinces indicates that these students are fluent in naming letters and in reading words but have greater difficulty with reading text and in understanding what they read. (Adapted from ‘USAID PRIORITAS’ by RTI, 2013, p. 2.).

Tentu ini adalah persoalan yang perlu mendapat perhatian para pendidik dan orang tua. Mungkin kita sebagai orang dewasa tidak pernah menyadari bahwa anak-anak di kelas awal sekolah dasar ini mengalami kesulitan membaca walau secara sekilas pandang ia mampu mengeja kata-kata dan kalimat yang ada dihadapannya. Kesulitan-kesulitan membaca ini semakin lama akan semakin kompleks dan menjadi persoalan yang membesar sampai mereka berada di bangku sekolah menengah dan universitas. Padahal dalam dunia akademik dan sekolah kemampuan membaca teks merupakan hal yang mutlak dikuasai.

Saya teringat tentang apa yang dilontarkan siswa-siswa sebuah sekolah menengah (sekolah favorit di kawasan Jakarta Barat). Mereka adalah siswa yang tergolong memiliki kemampuan akademik di atas rata-rata siswa-siswa pada umumnya, mereka yang amat mahir mengerjakan soal-soal hitungan dan mereka adalah siswa-siswa yang diangap “unggulan”. Namun apa yang mereka lontarkan membuat saya terdiam, “Nilai Bahasa Indonesia adalah nilai terendah saya bu, abis pelajarannya gak jelas…susah dimengerti”. Kurang lebih 70% siswa-siswa unggulan ini menyatakan hal yang sama, bahwa nilai Bahasa Indonesia adalah nilai yang paling rendah yang mereka peroleh.

Ini barangkali tidak mewakili potret siswa Indonesia secara keseluruhan, namun bila merujuk data yang diperoleh EGRA (Early Grade Reading Assessment) yang dikemukakan di atas bahwa hulu dari problema kemampuan literasi siswa Indonesia saja sudah demikian memprihatinkan, bisa dibayangkan bagaimana keadaan siswa-siswa ini di kelas atas dan perguruan tinggi.

Pahami anak ketika mengajarkan membaca

Kunci dari mengajar adalah mengasuh. Dalam mengasuh, ada semangat merawat, ada kepekaan, ada keinginan untuk menumbuhkan dan memekarkan. Bukan ketergesaan dan keinginan menggebu untuk memacu anak. Ini lah yang menjadi persoalannya ketika guru-guru yang langsung berhadapan dengan anak-anak usia dini melupakan naluri pengasuhan dalam pengajaran membaca permulaan.

Membaca erat kaitannya dengan dengan bahasa. Berbicara mengenai kemampuan membaca tidak bisa melepaskan diri dari memahami perkembangan bahasa anak.   Bila bahasa anak tidak terawat dengan baik di awal kehidupan seorang anak, tentu merupakan PR yang cukup berat bagi guru di sekolah. Oleh karenanya para pendidik ini perlu peka dengan kondisi bahasa tiap anak.

Perkembangan bahasa anak terbentuk atas pengalaman berinteraksi dengan orang lain. Sejak anak membentuk pengalaman berhubungan dengan orang lain, sejak itulah bahasa terbentuk. Bahasa adalah media penghubung antara satu manusia dengan manusia lainnya, yang diwakili oleh simbol. Simbol bunyi, simbol huruf, simbol kata dan simbol kalimat.   Karenanya rancanglah interaksi di kelas dengan baik dengan medium bahasa yang baik. Lalu kenalkan berbagai simbol pada anak. Gunakan simbol warna merah untuk peraturan yang “tidak membolehkan”, dan gunakan simbol warna hijau untuk aturan “yang disarankan”.   Beri tulisan/nama pada semua benda di kelas. Ajak anak-anak untuk membaca bersama-sama agar mereka mengerti konsep buku, konsep kata-kata yang tercetak, konsep gambar, bahwa itu semua bisa bercerita kepada kita tentang banyak hal. Inilah yang disebut mengasuh membaca. Jauhkan cara-cara yang jemu dan formal dalam mengajarkan dunia alfabet pada anak-anak yang masih belia. Ajak mereka memahami, bukan sekedar sambung menyambung huruf menjadi kata.   (baca tautan:………. Tentang tahapan keterampilan membaca)

Pahami Buku-buku Anak

Para pendidik dan orang tua perlu memahami bahwa anak berada pada sebuah anak tangga kematangan diri dimana tiap-tiap anak tangga ini berisi tugas-tugas hidup yang mesti dikuasainya. Walaupun ada kelompok usia, namun kematangan tiap anak tertentu tidak lah sama.   Namun tidak hanya anak (si pembaca) yang berada pada tahapan-tahapan kematangan diri, buku pun harus dirancang sesuai dengan tahapan-tahapan anak. Membaca melibatkan 2 pihak, si pembaca dan apa yang dibaca.   Bila kita cermati, tidak semua buku anak bergambar indah cocok untuk anak usia 5 tahun yang baru saja mengenal alphabet misalnya.  Hasil survey yang dilakukan Room to read (sebuah lembaga nirlaba yang bergerak dalam dunia literasi dan bacaan anak), terhadap buku-buku anak yang tersebar di berbagai toko buku besar dan perpustakaan-perpustakaan daerah di Indonesia, menyatakan bahwa sebagian besar buku anak Indonesia yang berbahasa Indonesia tidak dirancang sesuai dengan tahapan-tahapan membaca. Kaidah-kaidah penulisan buku anak yang sesuai dengan tingkat pemamahan anak, tingkat atensi, dan wawasan sosial anak, nampaknya belum menjadi perhatian bagi sebagian besar penulis buku anak maupun penerbit di Indonesia. Survey Room to read juga mengemukakan bahwa hampir sebagian besar buku anak Indonesia yang berbahasa Indonesia, berisi tema-tema fantasi (rekaan), dongeng dan cerita rakyat serta sedikit sekali yang mengangkat tema-tema sederhana tentang keseharian anak. Ibarat pakaian, meski modelnya model pakaian anak semua dibuat dalam ukuran yang tidak pas buat anak dan ketika dipakai nampak kedodoran. Bisa jadi ini yang membuat anak enggan dan tidak berminat terhadap buku.

Jangan remehkan minat anak. Justru ini yang perlu dibangun dari dalam dirinya. Anak yang antusias dan berminat, memiliki motivasi internal yang kuat untuk belajar sendiri dan untuk menjadi pembaca mandiri (independent reader).

Bagimana caranya? Ciptakan segala sesuatunya yang “pas” untuk anak, sehingga muncul “perasaan bisa” (sense of mastery).

Memasuki dunia sekolah dasar adalah masa krusial untuk membangun penilaian akan kemampuan diri sendiri. Masa ini adalah menjajal sesuatu dan memperoleh perasaan berharga karena “bisa”.   Termasuk perasaan “bisa membaca”.   Perasaan “bisa” ini harus timbul dari adanya pemahaman akan apa yang dibacanya. Ada interaksi dua arah antara isi buku dengan dirinya.   Bila membaca hanya menjadi kegiatan mekanistik “menyambung huruf menjadi kata” tanpa mendalami apa maksud dari rangkaian kata itu, “perasaan bisa” biasanya tidak terjadi.

 “..the child gains a sense of security through peers and gains mastery over activities of his/her age group; a feeling of competency is integrated into the personality”.  (Erik Erikson)

 Perasaan bisa atau Sense of Mastery, terbentuk dari hasil interaksi yang baik dengan teman sebaya, dalam aktivitas di kelas yang menyenangkan. Membaca buku cerita bersama menggunakan buku dengan level yang sesuai, adalah kegiatan yang disarankan. Jauhkan buku teks pelajaran yang sarat kata-kata atau menggunakan kata-kata bermakna abstrak.   Hindari pula memberikan anak-anak lembar kerja berupa pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dengan menulis. Apalagi bila pertanyaan-pertanyaannya berupa konsep-konsep pengetahuan yang formal dan juga tidak konkret bagi anak. Ada baiknya Guru mengajak anak-anak membaca cerita sederhana, dengan pola subyek – predikat atau subyek – predikat – obyek, dengan sering munculnya 1-2 kata-kata sama (pengulangan). Buat kegiatan berkenalan di kelas dengan bermain huruf-huruf atau menemukan kata yang bertuliskan nama anak. Kegiatan-kegiatan yang membuat anak tergugah untuk lebih jauh mengenal dunia alphabet, dunia kata, dan dunia cerita dalam buku. Selanjutnya ciptakan kegiatan pembelajaran yang pas dan menggunakan buku yang sesuai dengan tahapan kemampuan membaca anak.

Kembali ke pertanyaan semula tentang: “ perlukah mengajarkan anak usia dini membaca?”. Sekali lagi, tentu saja jawabannya adalah perlu. Namun yang paling perlu untuk menjadi kesadaran para orang tua dan pendidik adalah untuk bertolak pada pengasuhan membaca (pengasuhan literasi) bukan semata-mata mengajarkan anak untuk bisa membaca.   Secara lebih luas, pengasuhan membaca (pengasuhan literasi) akan lebih membuka wawasan orang tua dan pendidik untuk menumbuhkan kencintaan, merawat perasaan bisa dan memancing keingintahuan akan buku dan dunia bacaan. Berikan bacaan yang pas/sesuai dengan tingkat “pemahaman” anak. Berikan buku yang menyampaikan hal-hal sederhana dan mudah dipahami anak. Serta melakukan pendampingan literasi secara konsisten seiring anak-anak beranjak usianya. Jadikan membaca sebagai sikap hidup keluarga dan rancang ruangan-ruangan di rumah kita menjadi ruang baca yang nyaman untuk anak-anak.

 tri puspitarini

Tri Puspitarini, M.Psi*

*psikolog yang banyak berkecimpung dalam dunia pendidikan dan literasi anak.

(Visited 38 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments