Spin me Spin isu: Jujur dan Pintar

Pemilihan presiden di Indonesia akan diselenggarakan tanggal 9 Juli 2014. Berbagai cara dilakukan oleh tim sukses dan simpatisan untuk mengajak para pemilih turut serta mencoblos capres pilihan mereka.

Di antara berbagai metode yang dilakukan oleh tim sukses atau simpatisan, saya menemukan pernyataan menarik mengenai orang jujur dan pintar. Kalimat-kalimat ini semakin menarik karena keluar di saat menjelang pilpres. Kalimatnya sederhana

Orang Pintar bisa didapat dari perguruan

Orang Jujur tidak dapat dibeli dengan uang

Orang Pintar bisa membelokkan kapal dari arah tujuan

Orang Jujur tetap akan membawa kapal pada arah tujuan

Pemimpin Boneka untuk Kepentingan Rakyat (Jujur)

Pemimpin membonekakan rakyat untuk kepentingan Pribadi (Pintar)

Dalam narasi ini kata jujur disematkan pada calon presiden dengan inisial J dan kata pintar disematkan pada calon presiden dengan inisial P.

Membaca rangkaian kalimat di atas, apa yang ada di pikiran Anda?

Apapun yang ada di pikiran anda, hari ini saya ingin mengingatkan bahwa pemimpin kita dipilih melalui mekanisme pemilihan umum. Mekanisme ini membuka peluang bagi setiap rakyat yang mempunyai KTP Indonesia dan bisa datang ke TPS untuk memilih. Kumpulan rakyat inilah yang sekarang sedang dibujuk untuk memilih salah satu calon presiden.

Apa saja variabel yang membuat mereka memilih? Para pakar memiliki banyak indikator yang mengungkapkan alasan seorang pemilih menjatuhkan pilihannya pada salah satu calon. Namun dari banyak diskusi dan literatur, saya menyimpulkan bahwa ada satu hal yang signifikan membuat seorang pemilih menentukan pilihannya, yaitu mood publik. Mood publik adalah warna emosi publik pada salah satu kandidat. Mood publik pada hari itulah yang akan menentukan siapa presiden kita mendatang.

Bagaimana cara mempengaruhi mood publik itu yang paling dipikirkan oleh tim sukses dan calon presiden. Di dalam realita lapangan salah satu caranya adalah melakukan spin dan men spin isu. Isu yang positif menjadi negatif, dan isu negatif menjadi positif. Namun, saya hanya ingin menyampaikan bahwa realitas sosial itu sering berada di dalam tabel U. Ada saat dimana terlalu sedikit isu menyebabkan kekalahan dalam pemilu, dan ada saat dimana terlalu banyak isu justru yang menyebabkan kekalahan.

Itu sebabnya, dalam keriuhan informasi dan isu yang terjadi saat kampanye, menjadi penting bagi para pelaku kampanye untuk melihat dan memonitor mood publik. Lihat dan ukurlah setiap isu, evaluasi apa yang akan terjadi, dan hati-hati dengan dosis isunya.

irfan aulia

Irfan Aulia Syaiful, M.Psi.

Lulus sebagai Psikolog Sosial dengan minor Psikologi Klinis dari Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, saat ini ia sedang menyelesaikan disertasi S3 Kebijakan Publik di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia. Memiliki kegemaran membaca buku, menulis, dan sehari-harinya menjadi pengusaha dan konsultan bagi perusahaan swasta dan pemerintah.

(Visited 104 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments