License to Kill, License to Disturb

With Great Power, Comes Great Responsibility -Ben Parker

Sering kita tidak sadar/menganggap ringan hal-hal yang kita miliki dan gunakan sehari-hari, bahwa setiap hal tersebut sebenarnya membuat kita amat memiliki kekuasaan/kemampuan khusus.

Dengan kendaraan bermotor, kita memiliki kemampuan luar biasa untuk lintasi jarak dengan waktu yang secara signifikan jauh lebih singkat, bila dibandingkan dengan berjalan atau menunggangi hewan seperti jaman dulu.

Dengan telepon seluler, kita memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang walau terpisah jarak yang jauh. Bayangkan penghematan waktu dan biaya yang dicapai, bahwa kita sekarang bisa kabarkan sesuatu hampir secara instan (waktu sangat singkat) dan bentuk kabar  yang bervariasi (teks, suara, foto, video, dokumen, dsb)

Tapi kekuatan dan kemudahan itu seringkali tidak dihargai semestinya…yaitu bahwa setiap kekuatan itu ada konsekuensi negatifnya…dan kita harus bisa menggunakan sebuah kekuatan dengan tanggung jawab/kewaspadaan tertentu.

Power Can Kill, The Need For License To Kill

Menjadi penumpang kendaraan secara tidak sesuai aturan saja bisa mengakibatkan kecelakaan, misalnya kita menjadi penumpang motor lalu mengenakan pakaian yang bisa berkibar-kibar atau ada juntaian yang bisa nyangkut ke rantai. Menjadi penumpang mobil kemudian membuang sampah sembarangan, merokok dari jendela mobil dan abunya terkena pengendara di samping.

Apalagi bila kita adalah pengemudi kendaraan dan tidak menggunakan hak (privilege) tersebut secara bertanggung jawab. Memarkir sembarangan, membelok tanpa memberi tanda, menggunakan lajur cepat bukan untuk menyalip, menyalip melalui bahu jalan, motor naik ke trotoar, motor menggunakan jembatan penyeberangan, motor melawan arus. Daftarnya masih panjang.

Dalam kasus kendaraan, perilaku berkendara yang tidak bertanggung jawab  bahkan dapat mengancam keselamatan dan keamanan diri dan orang lain. Pengendara motor yang memilih melaju melawan arus lalu lintas. Pengemudi mobil yang mengendarai mobilnya dengan kecapatan tinggi dan atau dalam keadaan di bawah pengaruh alkohol atau narkoba.

Oleh karena itu, seyogyanya memang pengemudi kendaraan bermotor diwajibkan memiliki lisensi sebelum diperkenankan untuk menggunakan kendaraan. Lisensi ini bertujuan untuk memastikan seorang pengemudi betul betul menguasai teknik mengemudi dan juga etika/aturan berlalulintas. Maka dari itu, bisa diduga secara logika, bila banyak kecelakaan dan pelanggaran lalu lintas kesalahan awal adalah dari bagaimana proses pembuatan lisensi ini dilakukan.

Pemilik senjata api, wajib memiliki lisensi karena kepemilikan senjata api dianggap berbahaya dan bisa mematikan. Walau di beberapa negara alasannya sebenarnya lebih untuk keamanan daripada keselamatan. Negara ingin tahu, siapa saja yang bisa jadi ancaman negara karena memiliki senjata api.

How About License to Hurt & License To Disturb?

Bagaimana dengan hak, fasilitas dan keterampilan yg tidak mematikan tetapi mengganggu dan bisa menyakitkan/melukai/mengganggu orang lain?

Di ranah inilah, belum ada ‘license’ atau mekanisme perijinannya. Seringkali, hak, fasilitas dan keterampilan tertentu diberikan hanya dengan ‘disclaimer’ (saya belum tahu padanan katanya, maaf), petunjuk penggunaan dan etika (seringkali tidak tertulis). Pengguna dan pemilik hak, fasilitas dan keterampilan tertentu, dipercayai tanggung jawab untuk penggunaannya.

Menggunakan telepon seluler, misalnya, ada aturan dan etikanya. Di mana, kapan dan bagaimana. Menggunakan hape di rumah sakit sangat tidak disarankan, mungkin bukan karena medan listrik/magnetnya dapat pengaruhi peralatan di rumah sakit tapi juga karena penghuni rumah sakit mungkin butuh istirahat dan dapat merasa terganggu dengan orang yang sibuk berkomunikasi dengan suara nyaring ataupun orang memainkan games dengan kencang. Menggunakan telepon seluler pada saat diisi daya listriknya pun bisa mengakibatkan dampak buruk, minimal kemungkinan membuatnya cepat rusak (misal: mengurangi daya tahan baterainya).

Tapi bayangkan juga hal yang sifatnya hak. Kita berhak untuk mengambil gambar dengan perangkat kamera digital kita yang super keren dan mahal atau minimal dengan telepon seluler yang memiliki fasilitas kamera canggih. Tapi hak ini seringkali disalahgunakan oleh sang pemilik haknya, masih segar dalam ingatan kita bagaimana fotografer (non profesional) dan turis, menggunakan haknya untuk menghadiri dan mengabadikan upacara Waisak tahun lalu dengan cara yang berlebihan dan tidak mengindahkan hak para pemangku agama yang sedang merayakan Waisak dengan berdoa secara khusu’.

Anda bisa bilang, “kan cuma segelintir orang, kan cuma sesekali”. Bayangkan, jika kita membiarkan perilaku di atas terus menerus dan dalam setiap kasus. Anggap kemunculannya ‘hanya’ 0.1% dari populasi…dikalikan 270 juta berarti ada 270 ribu orang melakukannya. Bayangkan kalau 270 ribu orang ini melakukan perbuatan mengganggu tersebut, setiap hari. Bayangkan bila perbuatan mengganggu mereka ‘menular’ kepada anak dan keluarga mereka?

Every Previleged Must Be Earned and Licensed, In My Ideal World

Pada kasus seperti di atas dan/ yang lebih mengganggu lagi, muncul sisi otoritarian saya, apakah tidak lebih baik bahwa setiap orang harus diberikan pembekalan dasar dulu untuk setiap hak, fasilitas dan kemudahan yang akan mereka terima?

Bayangkan bagaimana bila sejak awal perkembangan dan pertumbuhan kita, kita semua diajarkan bagaimana mengantri, membuang sampah, menyeberang jalan, menggunakan toilet umum, bertamu, menggunakan telepon seluler, makan dan minum, mendengarkan perangkat penyimpan musik digital, berada di kendaraan umum, menulis dan membalas email, menggunakan FB dan Twitter, dst.

Harusnya tidak terlampau sulit untuk memetakan perilaku baik sebagai warga negara (dan manusia) dalam lingkup sehari-hari. Lalu kemudian peta perilaku itu kita terjemahkan menjadi desired behaviour (perilaku yang diharapkan/ideal) yang kemudian kita coba tanamkan kepada sesama kita sejak dini. Bila diperlukan contoh yang baik, kita betul-betul pilih pendidik, pembimbing dan pengajar yang bisa menjadi contoh yang baik (Dan bukan seseorang dengan catatan kriminal sebagai sex offender!) untuk membantu proses ini.

Ada teori Broken Glass (http://en.wikipedia.org/wiki/Broken_windows_theory)  dalam ranah penegakan hukum, dan diterapkan di New York (pro dan kontra dibahas secara mendalam di buku Tipping Point dan Freakonomics), yang intinya memiliki hipotesa bahwa perilaku kejahatan besar diawali dari perilaku pelanggaran kecil. Pada saat itu, polisi di New York ditugaskan untuk merespon laporan gangguan keamanan, bahkan untuk kasus kecil seperti kaca jendela rumah yang pecah (karena dugaan ada orang yang sedang/sudah merampok rumah tersebut), walau tidak ada laporan dari penghuninya.

Broken Glass (http://cdn.theatlantic.com/static/newsroom/img/mag/1982/03/broken-windows/lead.jpg?n192ga)

Tapi bagaimana jika terlalu banyak contoh buruk di luar setting pendidikan/keluarga atau sekolah? Dibawa ke titik ekstrim, kita bisa gunakan peta perilaku baik tersebut sebagai norma/aturan untuk menyeleksi orang-orang mana yang layak hidup bebas, dan yang mana yang harus hidup dalam pengendalian dan pengawasan (Semacam rehabilitasi perilaku buruk). Bayangkan ada panti rehabilitasi mengemudi, panti rehabilitasi menggunakan hape, panti rehabilitasi meludah sembarangan di publik!

Di dunia ideal saya, perilaku pelanggaran sekecil apapun akan direspon langsung oleh masyarakat dan penegak hukum, dikoreksi bersama. Hingga ke titik sang pelaku dan calon pelaku, merasa bersalah, menyesal atau mengurungkan niatnya melakukan perbuatan yang membahayakan, melukai, mengganggu orang lain.

Tapi itu di dunia ideal saya. Sementara ini, saya hanya bisa memastikan perilaku saya mendekati perilaku ideal yang saya harapkan dan mengingatkan orang-orang terdekat saya untuk melakukan hal yang sama. Semoga bisa membuat perubahan dengan memulai dari diri sendiri dulu.

Mohon diingatkan bila saya alpa dan khilaf ya

Fajar

Fajar Anugerah, Has more than 8 years of experience in managing various projects in private and non-profit sector. An experienced learning experience designer & facilitator with huge passion for social enterprise development.

 

(Visited 36 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments