Mendidik Hasrat

needs wants

Image courtesy of Stuart Miles/ Freedigitalphotos.net

Baru menjelang pertengahan tahun 2014, namun sudah tak terhitung kasus kekerasan seksual di Indonesia yang diliput oleh media. Akhir bulan Maret, kasus kekerasan seksual dengan pelaku yang tertangkap hingga enam orang terjadi di sebuah TK Internasional dengan korban kekerasannya anak usia TK. Setelah itu, media masih meliput beberapa kasus kekerasan seksual lainnya. Pada bulan Mei, di Sukabumi, Emon ditangkap setelah melakukan sodomi terhadap seratus lebih bocah laki-laki. Masih di bulan yang sama, kekerasan seksual dilakukan oleh seorang guru SD terhadap muridnya.

Banyaknya kasus ini membuat kita tak habis pikir, apa yang menyebabkan seseorang menjadi pelaku kekerasan seksual? Bagaimanakah kekerasan itu bisa terjadi?

Menurut Reza A.A. Wattimena, Dosen Filsafat Politik Unika Widya Mandala Surabaya dari rumahfilsafat.com, ada tiga sebab seseorang menjadi pelaku kekerasan seksual. Pertama, pelaku tidak melihat korbannya sebagai manusia, melainkan semata sebagai benda atau mesin untuk memuaskan nafsunya. Kedua, pelaku pemerkosa jelas adalah orang yang tidak mampu menata hasrat seksual di dalam dirinya. Hasrat seksual ini meledak, karena ia tidak pernah belajar untuk mengenali dan memahaminya. Ini terjadi, karena seumur hidupnya, ia dibekali oleh ajaran-ajaran moral munafik yang “mengharamkan” hasrat seksual. Karena tidak dipahami dan dikenali, sekali muncul, hasrat itu akan mengarah pada tindakan-tindakan biadab, seperti pemerkosaan maupun bentuk pelecehan seksual lainnya.

Pendidikan moral dan agama akan menjadi percuma, jika tidak dibarengi dengan pendidikan hasrat yang lebih dalam dan manusiawi. Bahkan, pendidikan moral dan agama yang semata mengharamkan hasrat seksual manusia justru akan menciptakan hasil sebaliknya: karena hasrat ditekan, maka suatu saat, ia akan meledak tak terkendali.

Ketiga, faktor lingkungan jelas berpengaruh besar. Masyarakat yang menekan hasrat atas nama agama dan moralitas biasanya akan bermuara pada kemunafikan, yang merupakan akar dari segala tindakan biadab. Manusia itu, semakin ditekan dan dikekang, dia makin liar ketika sedikit saja aturan yang mengekangnya itu longgar.

Ada juga istilah pemerkosa alam, pelaku perusakan alam seperti jalur puncak, penggundulan hutan. Hutan digunduli untuk mendapatkan uang lebih banyak, sementara alam tidak lagi memiliki area peresapan air. Ruang-ruang hijau digunduli untuk membangun apartemen mewah dan mall-mall besar. Pemerkosaan atas alam inilah yang mengakibatkan bencana banjir yang nyaris menenggelamkan ibu kota awal 2013 ini.

Hal ini juga terjadi karena kita tidak pernah mendidik hasrat kita sebagai manusia, terutama hasrat untuk menaklukkan dan menguasai alam. Pada akhirnya, kita hidup dalam masyarakat yang buta pada kepentingan alam.

Mendidik hasrat, yakni hasrat seksual dan hasrat penguasaan, jauh lebih penting daripada sekedar mengulang-ulang perintah moral dan agama, yang akan segera hilang tertiup angin, ketika kesempatan berbuat jahat tampil di depan mata.

Menurut Psikolog Lysa Haerunnisa, saat ini, di Indonesia pendidikan masih belum mengarah pada bimbingan mendidik hasrat. Padahal terpapar materi yang mengandung muatan seks sudah tidak bisa dihindarkan oleh anak-anak jaman sekarang. Bimbingan mendidik hasrat ini dapat diselipkan di pelajaran agama, olah raga, atau biologi misalnya pada siswa-siswa pubertas.

Berpuasa adalah salah satu cara mendidik hasrat. Meditasi juga merupakan cara mendidik hasrat yang diajarkan dalam agama. Cara lain mendidik hasrat adalah dengan berolahraga atau pengalihan pikiran. Menyalurkan energi dengan kegiatan lain yang produktif juga termasuk di antaranya.

Sumber: http://rumahfilsafat.com/2013/01/19/epistemologi-pemerkosa/

teh lysa

Lysa Haerunnisa adalah Psikolog Industri dan Organisasi dari Universitas Padjadjaran dan sehari-harinya menjadi Konsultan SDM dan trainer, berdomisili di Cilegon.

(Visited 126 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments