Serba-serbi Psikotes Untuk Anak

kid drawing

Image courtesy of Naypong/ Freedigitalphotos.net

14 Februari 2010

Saat ini pemeriksaan psikologi atau yang lebih dikenal dengan psikotes sudah jamak memasuki institusi-institusi pendidikan. Ibu-ibu bahkan anak murid pun dibuat penasaran dengan sesuatu yang disebut psikotes ini. Makhluk apakah itu? Apakah ia sama dengan ujian yang perlu belajar sebelumnya agar bisa mendapatkan nilai baik? Seberapa perlukah anak diberikan psikotes?

Psikotes, sebenarnya adalah pemeriksaan psikologi yang dilakukan oleh psikolog. Catat, oleh psikolog lho ya. Jadi, kalau ada yang namanya psikotes dan dilakukan oleh orang yang bukan psikolog, atau lembaga yang setelah ditelusuri tidak memiliki izin praktek psikologi, ya itu tidak bisa dan tidak sah disebut psikotes.

Tes Psikologi

Perlukah seorang anak diberikan psikotes? Nah sebenarnya, senjatanya Psikolog itu bukan tes lho. Ada dua senjata utama psikolog, yaitu anamnesa dan observasi. Dengan dua keterampilan tersebut, Psikolog bisa memberikan ‘working diagnosis’ yang akan digunakan untuk menegakkan diagnosis.

Jadi, kapan sih seorang anak perlu diberikan tes psikologi? Jawabannya adalah JIKA PERLU. Ada kondisi-kondisi tertentu yang mengharuskan seorang psikolog untuk melakukan pengetesan kecerdasan (tes IQ) terhadap seorang anak. Pertama, jika ada pihak lain yang memerlukan hasil pengetesan. Biasanya, ini terjadi bila anak harus menjalani evaluasi psikologis sebagai persyaratan masuk ke sekolah atau sebagai informasi bagi pihak guru untuk menganalisis dan mengatasi permasalahan yang terjadi pada anak di sekolah. Kedua, jika ternyata kasus yang dihadapi seorang anak berkaitan dengan aspek kecerdasannya. Bila tidak diperlukan angka kecerdasannya, maka tidak perlu suatu tes.

Tes psikologi ada banyak macamnya. Ada tes kecerdasan, ada juga tes kepribadian. Untuk anak, ada dua tes kecerdasan standar internasional yang biasa digunakan di Indonesia, terutama untuk anak usia sekolah. Skala Stanford-Binet (SB) dan Skala Wechsler. Di luar dua jenis skala tersebut, biasanya adalah skala tes buatan yang belum terstandardisasi secara baku.

Pemeriksaan psikologi terhadap anak seharusnya berlangsung secara individual. Karena, anak memerlukan situasi pengetesan yang baik agar hasilnya optimal. Selain itu, psikolog juga tetap melakukan observasi terhadap cara kerja anak. Jadi, hasilnya tidak melulu karena angka, tapi juga meliputi hasil pengamatannya. Pelaksanaan yang individual tentunya akan mempengaruhi harga. Akan beda harga yang dikenakan bila pelaksanaan tes klasikal seperti seleksi karyawan. Ada variabel waktu pelaksanaan yang harus diperhitungkan.

Tidak perlu belajar terlebih dahulu untuk mengikuti psikotes, karena justru akan mengacaukan hasil psikotes, dan kita tidak akan mendapatkan kondisi sebenarnya dari profil psikologi anak. Yang perlu dilakukan, makan dan istirahat yang cukup. Rileks, dan tiba di tempat tepat waktu agar anak dapat menyesuaikan diri terlebih dahulu dengan kondisi di tempat pemeriksaan.

Tes Kepribadian

Tes kepribadian untuk anak, macamnya juga tidak sedikit. Bentuknya pun bermacam-macam, ada yang dengan menggambar, bercerita, atau menuliskan cerita. Gunanya adalah sebagai alat bantu bagi Psikolog untuk melakukan evaluasi terhadap aspek kepribadian anak yang berpengaruh bagi pola interaksi anak dengan lingkungan sekitarnya.

Kapan diperlukan tes kepribadian? Sama dengan tes kecerdasan, yaitu jika perlu. Namun, biasanya, untuk memahami seorang anak, Psikolog akan melakukan analisis secara keseluruhan dengan mempertimbangkan aspek kecerdasan dan kepribadiannya.

Terapi

Terapi adalah salah satu bentuk intervensi terstruktur yang dilakukan agar anak dapat berkembang optimal. Kebanyakan anak mengalami gangguan perkembangan yang berkaitan dengan masalah atensi, perilaku, emosi, bicara, atau ketidakseimbangan sensori. Karena setiap anak adalah unik, maka gangguannya pun akan sangat unik. Ada faktor lingkungan (baca : keluarga) yang juga berpengaruh pada gangguan yang dialami oleh anak. Kapan perlu terapi? Sekali lagi, jawabannya adalah : JIKA PERLU.

Ada beberapa kasus gangguan yang tidak memerlukan terapi, karena psikolog menganggap keluarga dapat berperan aktif dan membantu anak untuk mengembangkan kemampuannya agar optimal. Kalau perlu terapi, maka Psikolog akan menyarankan jenis terapi tertentu. Tidak ada psikolog/dokter yang dapat memperkirakan berapa lama seorang anak akan melaksanakan terapi. Pelaksanaan terapi harus terus dievaluasi oleh psikolog/dokter agar perkembangan anak dapat terarah.

Yang paling penting dalam perkembangan seorang anak adalah lingkungan yang paling dekat, yaitu keluarga dan sekolah. Terapi hanya bantuan saja, yang penting adalah bagaimana keluarga dan sekolah membantu anak agar ia dapat berkembang optimal.

alzena masykouri 2

Alzena Masykouri, M. Psi-Psikolog Anak & Remaja – Pendidikan.

Alzena merupakan alumni Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran angkatan 1995. Melanjutkan studi di Magister Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dengan spesialisasi Klinis Anak dan Psikologi Pendidikan dan lulus di tahun 2002, Alzena saat ini aktif menjadi narasumber perihal psikologi anak di media massa. Ia dapat dihubungi di Bestariku (www.bestariku.co.id), Pusat Edukasi Anak dan Keluarga di daerah Bintaro, Tangerang Selatan.

 

(Visited 765 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Comments