Menentukan Pemimpin Pilihan

the right candidate

Image courtesy of sheelamohan/ Freedigitalphotos.net

Saat ini anak Indonesia dibuai oleh berbagai hal positif seperti prestasi anak bangsa, penghargaan internasional, serta kemajuan yang ada di berbagai bidang. Namun banyak hal negatif menghantui Indonesia di masa yang akan datang, seperti misalnya korupsi, terjadinya konflik horizontal dan vertikal, pelanggaran hukum, serta meningkatnya tingkat kriminal di masyarakat, seperti munculnya geng-geng motor.

Ada beberapa faktor penyebab munculnya hal yang negatif, seperti yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Tb Zulrizka Iskandar, M.Sc, Guru Besar Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran dalam diskusi di Biro Pelayanan Inovasi Psikologi beberapa waktu yang lalu. Faktor pertama adalah adanya kebutuhan untuk berkuasa yang tinggi pada masyarakat Indonesia sejak dahulu hingga sekarang. Kebutuhan berkuasa ini digambarkan sejak zaman VOC, dimana kompeni dapat mempengaruhi seorang adipati untuk melakukan kudeta terhadap rajanya, dengan imbalan posisi sebagai raja.

Faktor kedua adalah di masyarakat Indonesia, nilai-nilai materialistik lebih dihargai daripada prestasi. Orang yang mengumpulkan kekayaan, tanpa peduli darimana sumbernya, lebih dihargai dibandingkan mereka yang berilmu dan mencari nafkah dengan jalan yang halal. Pola asuh yang tidak jelas di keluarga Indonesia juga ditengarai menjadi faktor penyebab munculnya hal negatif di masyarakat. Bila keluarga tidak mengajarkan adanya kedisiplinan, kejujuran, pengaturan emosi dan terbiasa memberikan prestasi instan, maka hal ini dapat memunculkan adanya kebutuhan untuk berkuasa.

Menurut Zul, anak Indonesia merupakan produk psiko-politik. Beliau menekankan pentingnya pola asuh pada usia 0-12 tahun karena merupakan periode emas perkembangan individu. Pada masa ini, seorang anak berinteraksi dengan keluarganya, dan orang tua memiliki peluang untuk menawarkan nilai-nilai baik sebelum anaknya bergaul dengan lingkungan di luar keluarga. Anak yang diurus, tumbuh dengan sendirinya, tidak menumbuhkan nilai baik. Interaksi orang tua dan anak sangat mempengaruhi kepribadian anak di masa yang akan datang.

Usia TK hingga Sekolah Dasar merupakan masa membangun harga diri anak. Pada usia ini, orang tua dan lingkungan sekitar anak tidak boleh membuat stigma “anak bodoh” atau “anak bandel”, yang perlu dilakukan adalah mengembangkan potensi anak ke arah yang positif. Di usia TK hingga Perguruan Tinggi, merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan pada anak. Selain itu, keberadaan Partai Politik, Pemerintahan, Legislatif, Yudikatif, serta lingkungan masyarakat dan media massa juga turut membentuk kepribadian anak.

Anak Indonesia tumbuh untuk menghadapi tantangan-tantangan saat ia dewasa. Saat ini bangsa Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk mempertahankan NKRI, jumlah penduduk yang sangat besar, dengan Indonesia sebagai negara kepulauan, wilayah yang luas, yang mungkin tidak dihadapi oleh bangsa-bangsa lainnya di dunia. Negara kepulauan dengan wilayah yang luas membuat tidak semua daerah dapat terjangkau oleh pemerintah. Sementara itu, masih cukup banyak penduduk miskin, pengangguran, masyarakat yang berpendidikan rendah, tingkat kesehatan yang belum baik, serta masalah sosial dan kondisi masyarakat Indonesia lainnya.

Kriteria Pemimpin untuk Indonesia

Demi mengatasi tantangan-tantangan tersebut, maka kita dihadapkan pada pilihan, pemimpin seperti apakah yang diperlukan oleh bangsa Indonesia? Menurut Zul, Pemimpin perlu memahami bahwa NKRI dibangun oleh para pendiri negara dan bangsa Indonesia dengan berbagai pengorbanan nyawa, harta, dan pengorbanan lainnya dalam pertempuran dan perundingan. Dalam hal ini maka seorang pemimpin tidak sekedar dapat memahami sejarah negara, tetapi harus menghayati bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, tidak bisa diubah menjadi negara federal seperti ide yang pernah mencuat di tahun 1998.

Indonesia membutuhkan pemimpin yang dapat memahami masalah Indonesia yang kompleks. Tidak menyederhanakan masalah dan memiliki kemampuan analisis yang tajam. Untuk membangun Indonesia agar menjadi negara maju, dibutuhkan dana yang sangat besar, maka pemimpin harus dapat memberantas korupsi dan mampu mengawasi pembangunan dengan baik. Selain itu, mampu menyelesaikan masalah kemiskinan rakyat Indonesia dan menurunkan angka pengangguran yang maksimal, meningkatkan pendidikan rakyat dan kondisi kesehatan. Indonesia memerlukan pemimpin yang dapat mencontohkan kerja keras untuk bangsa, menunjukkan bahwa ia memiliki motif untuk berprestasi, jujur, berintegritas, memiliki identitas nasional yang baik.

Zul membedakan kebutuhan seseorang untuk berkuasa menjadi personal power dan institutional power. Pada orang dengan personal power yang tinggi, maka ia akan menggunakan kekuasaannya untuk memenuhi urusan pribadinya. Sedangkan pada orang dengan institutional power yang tinggi, ia akan menggunakan kekuasaannya demi kemaslahatan institusinya. Untuk seorang pemimpin di Indonesia, institusi dalam hal ini berarti negara. Maka, Indonesia membutuhkan seorang pemimpin dengan dimensi institutional power sehingga ia akan bekerja dan memimpin untuk kepentingan negaranya dan orang banyak, bukan untuk kepentingan pribadi. Selain itu, pemimpin yang dibutuhkan Indonesia adalah ia yang dapat menghargai orang lain dan bersikap rendah hati.

Dengan melihat kriteria pemimpin Indonesia yang telah disebutkan, maka untuk pemilu 2014, khususnya untuk pemilihan anggota legislatif, kita perlu melakukan langkah-langkah berikut.

  • Pilihlah daerah pilihan dimana kita tinggal
  • Kenali rekam jejak calon legislatif di daerah. Cari yang Anda kenal/ketahui
  • Gunakan kriteria Psikologis untuk memilih calon legislatif
  • Telusuri sejarah Partai Politik
  • Telusuri rekam jejak Partai Politik
  • Apakah bentuk kebutuhan berkuasa, terutama dimensi institutional power lebih menonjol pada pimpinan?

Sedangkan untuk pemilihan presiden, langkah yang dilakukan akan lebih spesifik.

  • Calon harus memiliki kemampuan analisa yang sangat baik, dan tertuang dalam visi serta program
  • Calon memiliki integritas diri yang baik
  • Mampu memimpin bangsa Indonesia ke arah kemajuan dan menjaga keutuhan NKRI
  • Mampu menggunakan dimensi “institutional power” dan memiliki motif berprestasi dan self esteem yang baik
  • Memiliki kemandirian yang baik
  • Menunjukkan rasa hormat kepada orang lain
  • Mampu berinteraksi dengan pihak lain dengan baik

Demikian langkah-langkah yang kiranya perlu kita lakukan untuk menyeleksi calon pemimpin pilihan kita untuk Indonesia. Setelah melihat kriteria di atas, siapakah yang akan menjadi pemimpin pilihan Anda? (Psychologythoughts.com/Hesti)

bang zul

Prof. Dr. Tb. Zulrizka Iskandar, Psi., M.Sc. adalah Guru Besar Psikologi Sosial di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran. Pendidikan Sarjananya ditempuh di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, S2 di Human Settlements Development, Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand, dan jenjang strata 3 bidang Psikologi di Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran periode 2001-2008 dan Pembantu Rektor IV (Bidang Kerjasama) Universitas Padjadjaran.

(Visited 70 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments