Cara Mengenali Pelaku Penganiayaan Seksual Pada Anak

boy at beach

Image courtesy of Sura Nualpradid/ Freedigitalphotos.net

Belum lama berselang, di awal bulan April 2014 kita dikejutkan dengan laporan terjadinya kasus penganiayaan seksual pada anak TK di Jakarta International School. Kasus ini masih dalam tahap investigasi, namun hasil penyelidikan sementara menunjukkan bahwa korban penganiayaan di sekolah tersebut bisa jadi lebih banyak daripada yang dilaporkan, dengan pelaku penganiayaan lebih dari satu orang. Satu orang tersangka ditemukan bunuh diri di penjara. Dan belakangan, buronan internasional FBI atas kasus penganiayaan seksual pada anak, William Vahey, yang juga bunuh diri beberapa hari sebelumnya, rupanya pernah juga mengajar di JIS.

Hal ini membuat ngeri dan geram para orang tua, yang mempercayakan anak mereka di lembaga pendidikan. Sistem rekrutmen para pendidik dan pekerja sekolah seharusnya memberikan rasa aman bagi orang tua dan anak. Bagaimana mungkin pelaku kejahatan seksual bahkan bisa mengajar dan berinteraksi dengan anak setiap hari di sekolah? Maka, agar lebih waspada, ada baiknya kita mengenali karakter pelaku yang juga disebut child molester ini.

Bracha Goetz, penulis buku anak-anak The Invisible Books lulusan Harvard mengungkapkan hal-hal yang perlu kita ketahui tentang penganiaya anak. Seorang penganiaya anak, dapat melakukan serangan sebanyak 200-400 kali sebelum akhirnya tertangkap. Sebagian besar pelaku tidak tertangkap dan tidak memiliki catatan kriminal. Menurut FBI, hanya satu dari sepuluh kasus kekerasan seksual pada anak dilaporkan pada penegak hukum. Kasus semacam ini seperti gunung es, dimana sebagian besar kejadian sebenarnya ditutupi dan tidak terlaporkan.

Ada beberapa hal mengenai penganiaya anak yang sangat perlu kita ketahui, yaitu;

  • Perilaku dimulai sejak remaja

Penganiaya anak memulai pola perilaku mereka saat remaja. Jika mereka ditangkap di usia muda, ada kemungkinan proses rehabilitasi untuk memperbaiki perilakunya dapat berhasil. Sebagian besar penganiaya seksual adalah pria, dan sebagian besar penjahat seksual adalah mereka yang pernah menjadi korban kekerasan seksual saat masih anak-anak.

  • Terlihat luwes dan ramah

Para pelaku ini tidak terlihat seperti monster, melainkan justru terlihat sangat luwes dan ramah. Setelah mendapatkan kepercayaan, beberapa bahkan merupakan kepala organisasi nirlaba yang berhubungan dengan anak-anak, para pelaku tidak hanya mendapat akses yang mudah terhadap korban namun mereka juga menjadi pemegang kendali.

  • Pembohong dan manipulatif

Para penganiaya anak cenderung merasionalisasikan minat seksual mereka dan melakukan pembenaran atas tingkah laku mereka. Mereka cenderung menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap anak-anak, dan cenderung merayu anak-anak dengan perhatian, afeksi, dan hadiah-hadiah. Mereka berbohong dan manipulatif, biasanya sangat ahli.

  • Membuat anak-anak terpikat

Sangat normal bagi anak-anak untuk belajar bahwa mereka bergantung pada orang dewasa. Selain memenuhi kebutuhan emosi dan fisik anak-anak, orang dewasa itu lebih besar dan lebih kuat. Anak-anak diminta untuk menghormati dan patuh pada orang tua, namun pengecualian atas kebutuhan ini juga harus diajarkan dengan jelas kepada anak.

Penganiaya anak atau remaja mengeksploitasi status dan ukuran tubuh mereka untuk mempengaruhi dan mengendalikan tingkah laku anak, memancing anak untuk terlibat dalam aktivitas seksual. Penganiaya seksual yang cerdas dan berpengalaman menurunkan kewaspadaan anak dengan lambat laun membuat mereka terpikat, dengan mudah mengekspoitasi kewaspadaan alami anak dan kurangnya pendidikan preventif yang biasanya dimiliki oleh anak.

  • Semua anak rentan menjadi korban

Bahkan anak yang biasanya mendapatkan perhatian dan afeksi yang cukup dari rumah tetap menghargai perhatian yang diberikan orang lain dalam hidup mereka. Penting untuk disadari bahwa anak yang berasal dari rumah yang “normal”, juga beresiko terpancing teknik rayuan pelaku, jika mereka tidak dilatih sejak awal cara berhadapan dengan rayuan pelaku. Meskipun semua anak beresiko, penganiaya seksual biasanya mencari anak yang pemalu dan naif, anak dengan keterbatasan, dan anak-anak yang sendirian, diabaikan secara emosional atau memiliki perasaan terasingkan. Anak-anak yang tidak diajarkan untuk waspada terhadap pelaku penganiayaan seksual merupakan anak-anak yang paling rentan menjadi korban.

Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal juga rentan menjadi korban penganiaya anak. Sebagian besar orang tua umumnya putus asa mencari babysitter dan para pelaku melihatnya sebagai kesempatan untuk menawarkan perhatian yang gratis kepada anak mereka. Para pedofil menguasai keahlian manipulatif dan menggunakannya terhadap anak-anak yang bermasalah dengan terlebih dahulu meningkatkan self-esteem mereka, menghargai kebutuhan mereka untuk didengar, dipahami, dan dihargai.

Anak-anak yang tidak pernah diajarkan mengenai keberadaan penganiaya seksual adalah yang paling rentan. Menghujani calon korban dengan perhatian, para penyerang juga menawarkan hadiah, perjalanan ke tempat yang diinginkan yang pasti disukai anak-anak, atau hal menarik lainnya. William Vahey, predator seksual buronan FBI melakukan operasinya dengan merancang “field trip” kepada anak-anak yang akan menjadi calon korbannya. Setelah anak-anak menerima banyak pemberian dari pelaku, semakin sulit bagi anak untuk menolak pelaku, yang seiring waktu perilakunya semakin membingungkan mereka.

  • Sabar membina hubungan dengan calon korban

Saat penganiaya telah memilih korban mereka, mereka berjuang dengan sabar untuk membina hubungan dengan anak itu. Karena proses pendekatan ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun, maka umumnya penganiaya seksual mengumpulkan banyak calon korban dalam satu waktu. Sebagian besar predator yakin bahwa apa yang mereka lakukan tidak salah, dan bersikap intim dengan seorang anak itu “menyehatkan” bagi anak tersebut. Setelah menjadi korban, anak-anak dan pra remaja biasanya tumbuh terikat dengan penyerang mereka dan menjadi cemburu jika perhatian pelaku beralih ke anak lain yang lebih muda, saat mereka mulai mencapai usia tertentu. Keseluruhan hidup mereka telah terwarnai oleh kekerasan seksual dari pelaku.

Sebagian besar informasi perihal cara beroperasinya pelaku didapat dengan mewawancarai pelaku yang telah dipenjara. Para pelaku menjelaskan secara beragam cara mereka mengenali korban potensial dengan mengukur kerentanan korban serta kesempatan untuk menyerang. Anak yang naif dan mudah tertipu adalah faktor utama yang disadari oleh pelaku saat memilih korban mereka. Mereka memilih anak yang mereka yakin dapat dimanipulasi ke situasi yang rentan, dan kerentanan anak tersebut akan dieksploitasi lebih jauh.

Sangatlah sulit untuk melawan pelaku jika seorang anak tidak diajari sejak awal untuk membela diri. Para pelaku kerap kali menguji korban mereka untuk melihat reaksi, seperti menjadi terlalu dekat secara fisik untuk membuat mereka nyaman, memberikan komentar sugestif atau agak “menjurus”, atau dengan bermain roughhousing seperti “bermain gulat” atau pukul-pukulan dengan calon korban. Mereka membuat pernyataan yang membingungkan seperti “Terkadang teman atau keluarga akan saling membantu dan saling menyentuh.” Para predator biasanya mulai menyentuh bagian pribadi dari tubuh korban dengan mengayunkan tangan mereka “secara tidak sengaja”. Jika mereka ditanya, para pelaku sudah siap dengan alasan seperti “Saya hanya bercanda” atau “Maaf tidak sengaja.” Saat korban tidak menghentikan tindakan pelaku lebih jauh, ini dianggap oleh pelaku sebagai sinyal untuk melanjutkan tindakan mereka.

Seorang pelaku akan memberikan tekanan pada korban jika ia melihat ada potensi untuk menganiaya, dengan mengatakan hal-hal seperti “Kau menyakiti hatiku dengan mengatakan tidak.” Saat anak itu dianiaya, mereka ditinggalkan dalam keadaan sangat merasa bersalah. Bagi korban, meskipun apa yang terjadi pada mereka bukanlah kesalahan mereka, tetap saja mereka berpikir bahwa mereka yang salah.

Anak ditinggalkan dalam keadaan sangat bingung, kadang mereka merasa bahwa apa yang telah dilakukan pelaku itu disepakati bersama dan mereka menyenangi perhatian dan sensasi fisik yang terjadi sewaktu penganiayaan. Inilah alasan terbanyak mengapa anak-anak sulit menceritakan apa yang terjadi pada mereka, karena mereka tidak paham apa yang mereka alami sampai bertahun-tahun kemudian. Mereka biasanya ditinggalkan dengan perasaan “kotor” dan merasa malu, menyalahkan diri mereka karena kejahatan predator yang paling intim dimana mereka digoda, dijebak, dan terkadang diancam untuk melakukannya.

Saat seorang anak menjadi korban pelaku, penganiayaan dapat terjadi berulang kali dan menjadi ritual. Saat penganiayaan berlanjut dalam waktu yang cukup panjang, anak biasanya melakukan mekanisme pertahanan diri dengan membedakan pelaku menjadi dua orang yang berbeda saat berhadapan dengannya, misalnya menjadi “paman dan monster”, “kakak dan pemerkosa”, atau “pemimpin regu dan predator”. Saat ia melihat pelaku penganiayaan itu ada di sekitarnya, ia merasa terhormat dan menghampirinya kembali.

Jika para predator dipergoki oleh orang dewasa yang tidak paham modus operandi pelaku, para pelaku biasanya langsung mengklaim baik anak tersebut yang menggodanya, atau itu adalah pertama kali mereka melakukan hal seperti itu, dan membuat alasan pembenaran kenapa hal itu terjadi untuk pertama kalinya. Ini adalah hal standar yang dilakukan pelaku untuk mendapatkan belas kasihan, membuat orang yakin bahwa mereka merasa buruk atas apa yang mereka lakukan, dan tentu saja, mereka berjanji untuk “tidak melakukannya lagi.”

Karena kita ingin menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik, kita cenderung berusaha keras untuk tidak meragukan orang lain, atau bicara buruk tentang orang lain. Kita yakin bahwa orang dapat membayar kesalahannya. Para pedofil memahami hal ini, dan mereka mengambil keuntungan dari sikap tulus kita.

Hal yang Perlu Diperhatikan Orang tua:

  • Bagi orang tua, kita perlu mengajarkan anak kita untuk berhati-hati, dengan cara yang sesuai dengan usia mereka, dari usia tiga tahun ke atas, dan setiap tahun mengajarkan mereka detail baru sesuai dengan umurnya. Bermain role-play dengan skenario berbeda adalah alat yang sangat efektif. Cobalah untuk mencegah anak Anda untuk belajar waspada dengan cara yang menakutkan mereka.
  • Waspadalah dan berkomunikasi terbuka dengan pertanyaan yang tenang dan menunjukkan perhatian, jika seorang anak menunjukkan ia merasa tidak nyaman dan tidak bersikap seperti biasanya, atau menunjukkan sikap negatif terhadap pria dewasa atau anak remaja tertentu – meskipun orang itu adalah tetangga, teman dekat keluarga, keluarga, atau tokoh masyarakat yang dihormati.
  • Dengan tenang dan jelas, ajari anak anda tentang keamanan diri, sesuai usianya.
  • Waspadalah dan bicarakan secara terbuka dengan pertanyaan tenang dan penuh perhatian dengan seorang anak, jika siapapun -termasuk guru, pelatih, konselor, pemimpin regu, dokter atau pengasuh, juga keluarga, pernah mengajak bertemu secara privat di ruang tertutup dengan anak tersebut untuk alasan apapun, atau pergi sendirian dengan mereka ke tempat manapun dimana mereka hanya sendirian.
  • Jika seorang anak menyatakan bahwa ia telah menjadi korban kekerasan seksual, jangan pernah menyalahkan anak atas tindakannya atau karena tidak memberitahukan Anda sejak awal. Korban kekerasan seksual membutuhkan dukungan.
  • Jika seorang anak menyatakan bahwa ia telah menjadi korban kekerasan seksual, jangan bergantung pada orang lain untuk memenuhi kewajiban Anda. Segera laporkan pihak yang berwajib, jangan pernah mencoba mengatasi kasus ini sendirian.
  • Ingat bahwa para pelaku penganiayaan seksual dapat berbohong pada Anda dengan mudahnya. Mereka adalah ahlinya menipu orang lain. Serahkan penyelidikan kepada para ahli forensik.

Sumber:

Goetz, Bracha. Things You Need To Know About Child Molesters. http://www.chabad.org/theJewishWoman/article_cdo/aid/1707466/jewish/Things-You-Need-to-Know-About-Child-Molesters.htm

Big Brothers Big Sisters of America, professional training materials

One Sex Offender’s Strategy

hesti 2013

Hesti Farida Al Bastari, adalah Sarjana Psikologi dari Universitas Padjadjaran, bekerja part time sebagai associate untuk Konsultan HR di Jakarta. Dengan rekan-rekannya sesama alumni, tahun 2013 ia mengembangkan blog psikologi Psychologythoughts.com.

(Visited 91 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments