Tips Cerdas Memilih dalam Pemilu

pemilu kemendagri

Image courtesy of Kemendagri.go.id

Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa, dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional.”- Bertolt Brecht (Penyair Jerman)

Kutipan tersebut terutama ditujukan pada mereka yang memilih untuk sama sekali buta tentang politik, tidak mau ikut berpolitik. Kutipan ini pula yang digunakan oleh Dr. Zainal Abidin, M.Si untuk membuka acara Diskusi Bulanan di Biro Pelayanan Inovasi Psikologi Universitas Padjadjaran pada hari Sabtu (22/3) lalu. Pakar Psikologi Politik ini mengungkapkan pentingnya seseorang melek politik, karena politik mempengaruhi berbagai bidang kehidupan.

Bagi orang Indonesia, tahun 2014 adalah tahun politik karena di tahun ini diselenggarakan pesta rakyat yang disebut Pemilu. Di dalam makalah beliau, “Cerdas dalam Memilih di Pemilu 2014: Beberapa Pertimbangan Psikologis”, Zainal mengingatkan bahwa kata kunci di dalam politik adalah partisipasi, terutama di negara demokratis. Ia membedakan partisipasi politik dengan mobilisasi politik. Di negara otoriter, yang terjadi adalah mobilisasi politik, dimana rakyat mungkin tetap mengikuti pemilu, namun mereka melakukannya karena ada yang menggerakkan. Misalnya masuk ke dalam partai atau golongan tertentu dan dipaksa memilih pemimpin tertentu. Sedangkan dalam negara demokratis, partisipasi politik ditandai dengan rakyat secara sukarela ikut serta dalam kegiatan politik.

Bentuk partisipasi politik warga negara memiliki berbagai derajat dari rendah hingga tinggi (Almond, et al., 1999). Dari yang paling rendah, adanya kontak langsung warga negara dengan isu-isu politik, misalnya melalui media massa seperti televisi, radio, atau surat kabar. Derajat menengah partisipasi politik yaitu melalui pengambilan suara dalam pemilu. Dan derajat yang paling tinggi dari partisipasi warga adalah melalui gerakan sosial atau aktivitas unjuk rasa.

Pada kenyataannya, kondisi saat ini penuh dengan permasalahan yang dapat mempengaruhi warga turut aktif ikut serta dalam berpartisipasi di pemilu. Media massa mengungkapkan beberapa permasalahan yang terjadi dalam partai politik peserta pemilu dan calon legislatifnya. Menghadapi pemilu caleg tanggal 9 April 2014 saja, temuan Global Corruption Barometer 2013 menyatakan bahwa tingkat korupsi di parlemen (DPR dan DPRD) paling tinggi dibandingkan di lembaga negara dan pemerintahan lainnya (setelah kepolisian). Tingkat korupsi di parpol ada pada peringkat keempat terkorup, dan ini salah satunya disebabkan anggaran yang tidak transparan. Kualitas dan kinerja anggota parlemen rendah dan sering tidak sejalan dengan aspirasi masyarakat, termasuk konstituen.

Dari sekian parpol yang ada, yaitu 12 parpol peserta pemilu dan 3 parpol dari Aceh yang akan dipilih oleh rakyat, Zainal menawarkan beberapa contoh pertimbangan dalam memilih partai politik.

  1. Apakah partai politik tersebut merupakan partai lama atau partai baru? Dengan mengetahui riwayat partai, rakyat dapat mengenal rekam jejak partai tersebut.
  2. Apakah banyak atau sedikit kader yang terlibat korupsi? Dari sini kita bisa melihat peringkat partai terkorup dan terbersih, dan kaitkan dengan lama atau baru berdirinya partai.
  3. Apakah selama ini kiprah dan kontribusi partai ini sudah terlihat?
  4. Siapa pemimpin partai-partai itu? Siapa pengurus dan kader-kadernya? Bagaimana rekam jejaknya? Apakah mereka para idealis atau oportunis?
  5. Bagaimana rekam jejak partai?
  6. Bagaimana profil partai mereka? Apa visi-misinya?

Setelah memilih partai politik, maka ada pertimbangan lebih lanjut untuk menentukan mana anggota legislatif yang layak dipilih.

  1. Apakah caleg tersebut merupakan incumbent (lama) atau caleg baru? Apakah caleg lama akan lebih korup dari caleg baru atau tidak? Apakah ada harapan di caleg baru?
  2. Siapakah mereka? Jika mereka populer, dalam bidang apa popularitas mereka?
  3. Bagaimana rekam jejak mereka? Apakah pernah terlibat perbuatan pidana atau pelanggaran moral?
  4. Apa visi misi mereka?

Pasca pemilu legislatif, rakyat akan dihadapkan lagi dengan pemilu presiden. Di sini, Zainal menyatakan ada beberapa indikator yang harus dimiliki oleh seorang presiden.

  1. Presiden memiliki independensi dari kepentingan partai, pengusaha hitam, dan tekanan luar negeri.
  2. Presiden memiliki integritas moral, sehingga berperilaku jujur, dan dapat menjadi teladan bagi rakyat.
  3. Memiliki komitmen untuk menyejahterakan bangsa.
  4. Matang/dewasa dalam berpikir, berbicara dan berperilaku sehingga tidak reaktif dan impulsif merespons isu-isu yang bersifat pribadi.
  5. Pekerja keras dan tangguh
  6. Dekat dengan rakyat, tapi tegas dalam sikap, mengambil keputusan dan berperilaku.

Zainal mengungkapkan ada beberapa kriteria pemimpin dari perspektif psikologi politik. Di Amerika Serikat, tipe kepribadian pemimpin berbeda. Misalnya George W. Bush dan Bill Clinton. Namun mereka pada umumnya dinilai sukses memimpin negaranya, hal ini dikarenakan beberapa hal, yaitu mereka mampu dalam memilih anggota kabinet (menteri-menteri), tim penasihat, pembisik, dan mengolah informasi menjadi decision making yang tepat. Meskipun pada sejumlah kasus, ada informasi yang tidak tepat dan berakibat fatal, meski hanya sebagian kecil. Mereka pun tidak mementingkan kelompok dan diri sendiri, melainkan untuk kepentingan nasional, serta memiliki ideologi partai yang jelas, sehingga sulit menyimpang dari janji politik saat kampanye/pilpres.

Kondisi di Amerika Serikat berbeda dengan di Indonesia yang memiliki banyak partai. Hal ini menyebabkan bisa dibuatnya koalisi-koalisi dan ideologi partai menjadi tidak jelas, tergantung pada koalisi yang dibuat. Untuk itu, dalam memilih Presiden perlu pula dipertimbangkan kepribadian dari capres. Kita bisa memilih capres dari keterbukaannya, kemampuannya menanggapi permasalahan, apakah ia termasuk orang yang suka berbicara, suka berdebat, atau cemas dalam menghadapi problematika bangsa. Capres juga dapat dipilih dengan melihat sisi motivasinya untuk menjadi presiden. Ada yang memiliki motif mencari kekuasaan, ada yang motifnya mencari relasi, atau mengejar prestasi.

Zainal juga mengungkapkan pertimbangan memilih presiden berdasarkan tipe kepemimpinannya. Pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan transformatif, yang dengan kharismanya melakukan perubahan untuk bisa lebih terbuka dengan bawahannya. Tipe pemimpin transaksional menjalankan posisinya dengan melakukan kesepakatan-kesepakatan di antara kekuatan yang ada, dan menurut Zainal, ini bisa mengarah pada terjadinya kolusi. Sedangkan pemimpin dengan tipe kepemimpinan koersif akan cenderung memaksakan kehendaknya dan menjadi otoriter.

Terakhir, pertimbangan lain dalam memilih presiden adalah melihat apakah pemimpin tersebut bertipe formalistik, kompetitif, atau kolegial. Pemimpin bertipe kolegial, di dalam mengambil keputusan akan selalu mengikuti aturan, Undang-undang, dan protokoler. Pemimpin bertipe kompetitif, dalam takaran yang pas, akan membuat kemajuan. Namun jika berlebihan akan menimbulkan konflik dengan orang yang tidak setuju dengan keputusannya. Pemimpin bertipe kolegial akan cenderung menjalankan pemerintahan berdasarkan pertemanan.

Berdasarkan apa yang disampaikan ini, kita diharapkan dapat menimbang mana pemimpin yang pas untuk dipilih sebagai anggota legislatif dan presiden di 2014. Karena pilihan kita akan menentukan nasib kita selama lima bahkan sepuluh tahun ke depan. Nah, siapakah yang mau kita pilih? (Psychologythoughts.com/Hesti)

kang zainal

Dr. Zainal Abidin, M.Si merupakan Pakar Psikologi Politik, saat ini adalah Dosen di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran. Mengambil jurusan ilmu filsafat di Universitas Gadjah Mada, ia melanjutkan studinya hingga meraih gelar Doktor Ilmu Psikologi dari Universitas Indonesia.

(Visited 137 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments