Lebih Dekat Mengenal Gen Y

letter Y

Image courtesy of olovedog/ Freedigitalphotos.net

Beberapa waktu lalu di Psychologythoughts.com diterbitkan artikel tentang Gen Y. Apa sih, Gen Y itu? Berdasarkan informasi yang didapat dari berbagai sumber, mari kita coba kenali Gen Y lebih dekat.Apa itu Gen Y?

Gen Y atau Generation Y adalah generasi yang lahir di tahun 1980-1990an. Dinamakan Gen Y karena mengikuti nama Gen X yang lahir di masa sebelum mereka, yaitu tahun 1966-1976. Generasi Y dikenal sebagai echo boomers karena mereka adalah anak-anak dari baby boomers, yaitu generasi yang lahir di waktu ketika angka kelahiran melonjak tahun 1946-1964. Generasi Y juga dikenal dengan sebutan generasi Millenial, generasi Internet, atau iGen.

Pembahasan Gen Y menjadi menarik di kalangan praktisi SDM karena mereka saat ini mulai memasuki lapangan pekerjaan. Setelah Baby Boomers, Gen Y memiliki jumlah terbesar sepanjang sejarah. Menurut data statistik Indonesia yang diperoleh dari SUPAS 2005 (Sensus Penduduk Antar Sensus), dapat diketahui bahwa proporsi Generation Y dapat mencakup lebih dari 35 % dari jumlah penduduk. Mereka memiliki karakteristik yang membedakan generasi ini dari angkatan sebelumnya.

Bagaimana Cara Mengenali Gen Y?

  • Family oriented. Gen Y dikenal sebagai generasi yang berorientasi pada keluarga dan rela mengorbankan peningkatan karir mereka demi keseimbangan antara hidup dan pekerjaan.
  • Percaya diri dan ambisius. Kendati mementingkan keluarga, bukan berarti Gen Y tidak berorientasi pada prestasi. Mereka dapat menjadi orang yang percaya diri dan ambisius. Mempertanyakan otoritas, suka mencari tantangan baru, dan mencari pekerjaaan yang bermakna.
  • Team oriented. Mereka ingin menjadi bagian dari tim, namun di saat yang sama ingin menjadi pusat perhatian. Mereka menghargai kerjasama dan mencari masukan serta dukungan dari orang lain, mereka juga sangat mengharapkan adanya perhatian, umpan balik, dan bimbingan. Gen Y adalah orang yang memiliki komitmen untuk loyal serta ingin dimasukkan dan dilibatkan dalam tim.
  • Berdasarkan polling di UK tahun 2013, Gen Y didapati lebih terbuka dibandingkan orang tua mereka terhadap topik-topik kontroversial. Gen Y cenderung tidak mempraktekkan agama dalam suatu kelompok dibandingkan generasi sebelumnya dan cenderung tidak mempercayai lembaga agama.

Kepribadian Gen Y

Karena tumbuh besar di era teknologi informasi, Gen Y mengembangkan sifat-sifat yang mungkin membuat mereka jadi kurang disenangi. Mereka berharap untuk mendapatkan imbalan secara cepat, mengerjakan banyak hal dalam satu waktu, dan menampilkan rentang atensi yang sangat singkat. Kebutuhan mereka untuk mendapat perhatian terlihat dengan upaya mereka untuk terus melakukan berbagai hal agar mencapai ketenaran. Mereka memberikan sejumlah besar informasi pribadi dan terlihat seperti seorang pemberani di dunia maya. Namun, mereka mungkin tidak mampu hidup seperti wujud yang hendak mereka tampilkan di dunia nyata, karena mereka sebenarnya masih tinggal bersama orang tua. Gejala kembali ke rumah orang tua ini membuat Generasi Y diberikan label sebagai Generasi Boomerang, atau disebut juga Generasi Peter Pan. Gen Y memilih tinggal di rumah orang tua mereka karena biaya properti yang tinggi, yang membuat biaya sewa rumah tidak menjadi pilihan, serta kebiasaan mereka dilayani orang tua semenjak masih kecil hingga remaja yang dengan senang hati dilakukan oleh para baby boomers.

Jean Twenge, Profesor Psikologi dari San Diego State University, adalah penulis buku Generation Me: Why Today’s Young Americans Are More Confident, Assertive, Entitled – And More Miserable Than Ever Before. Twenge menyatakan bahwa Gen Y lebih percaya diri dari orang tua mereka, namun juga lebih depresif. Pernyataan ini didasarkan pada riset selama 14 tahun termasuk 12 studi dari perbedaan antar generasi berdasarkan data dari 1,3 juta orang Amerika usia muda, yang membandingkan hasil tes para baby boomers saat mereka berusia di bawah 30 tahun dengan Gen Y saat ini.

Kata Twenge, Generasi Y dapat disebut “Generation Me” karena mereka telah diajarkan untuk mengutamakan kepentingan mereka terlebih dahulu. Tidak seperti Baby Boomers, Gen Y tidak perlu ikut berbaris dalam sebuah protes atau menghadiri sebuah sesi kelompok untuk menyadari bahwa kebutuhan dan keinginan mereka adalah hal yang penting. Adanya pilihan KB, aborsi yang legal, serta pergeseran budaya untuk menjadi orang tua membuat Gen Y menjadi generasi anak-anak yang paling diinginkan dalam sejarah. Televisi, film, dan program sekolah telah memberitahu mereka bahwa mereka spesial sejak balita hingga SMA, dan mereka yakin bahwa kepercayaan diri itu keren. Gen Y, tidak seperti orang tuanya para Baby Boomers, bukanlah orang yang egois, namun mereka adalah orang yang mementingkan diri sendiri. Mereka bahkan mengakui sebagai orang yang spesial, mandiri, dan tidak perlu merefleksi diri untuk itu.

Apa Tanggapan Gen Y?

Gen Y menanggapi sifat-sifat yang dilekatkan kepada mereka sebagai hasil dari didikan orang tua mereka. Keberadaan sekolah yang memberikan penghargaan kepada setiap orang -menghujani anak-anak dengan afirmasi positif dan berkata bahwa mereka bisa menjadi apapun yang mereka mau menjadikan Gen Y adalah generasi yang sangat percaya diri.

Gen Y yang dinilai hendak mendapatkan imbalan yang cepat, cepat kaya, namun tidak mau bekerja keras, dianggap merupakan produk dari generasi orang tua mereka yang menurunkan kekayaan kepadamereka. Warisan dari orang tua membuat Gen Y dalam usia muda memiliki sejumlah uang untuk dihabiskan. Namun ini membuat Gen Y juga menjadi generasi dalam sejarah yang memiliki paling banyak hutang. Jumlah hutang Gen Y di usia dewasa muda jauh lebih besar daripada orang tua mereka saat seumur mereka. Hal ini juga dipengaruhi oleh berkembangnya transaksi online dan kartu kredit. Bagaimanapun, selain menghabiskan banyak uang, Gen Y sudah memulai berinvestasi dan menabung di usia yang lebih muda dari baby boomers.

Perubahan dalam politik yang dialami sekarang juga tak terlepas dari keberadaan Gen Y. Jumlah Gen Y yang sangat besar dan berada di usia yang pas untuk aktif berpolitik membuat isu-isu kontroversial yang dulu tabu untuk dibicarakan kini menjadi legal, misalnya isu seks bebas, pernikahan sesama jenis, aborsi, dan imigrasi.

hesti 2013

Hesti Farida Al Bastari, adalah Sarjana Psikologi dari Universitas Padjadjaran, bekerja part time sebagai associate untuk Konsultan HR di Jakarta. Dengan rekan-rekannya sesama alumni, tahun 2013 ia mengembangkan blog psikologi Psychologythoughts.com.

Sumber:

1. Alston, Chevette. Generation Y: Definition, Characteristics & Personality Traits, diunduh dari situs education-portal.com http://education-portal.com/academy/lesson/generation-y-definition-characteristics-personality-traits.html#lesson

2. Lyon, Sean, Prof. 2012. Generation Y’s Psychological Traits, Entitlement, and Career Expectations. University of Guelph, diunduh dari http://seanlyons.ca/wp-content/uploads/2012/01/Black-et-al-20121.pdf

3. Pew Research Center. 2012. Young, Underemployed, and Optimistic, diunduh dari Pew Research Center Social and Demographic Trends http://www.pewsocialtrends.org/files/2012/02/young-underemployed-and-optimistic.pdf

4. Wieczner, Jen. 2013. 10 Things Generation Y Won’t Tell You, diunduh dari Market Watch The Wall Street Journal http://www.marketwatch.com/story/10-things-millennials-wont-tell-you-2013-06-21?pagenumber=2

5. Williams, Ray B. 2013. Is Gen Y Becoming The New “Lost Generation”?, diunduh dari situs Psychologytoday.com http://www.psychologytoday.com/blog/wired-success/201304/is-gen-y-becoming-the-new-lost-generation

(Visited 1,563 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments