… And They Will Live Happily Ever After (A Branding Strategy for Our Kids)

1 Mei 2012

Image courtesy of scottchan/ Freedigitalphotos.net

Image courtesy of scottchan/ Freedigitalphotos.net

No.

It’s not a fairy tale.

Tadi siang, saya berada di suatu pusat perbelanjaan mewah yang berada di kawasan bisnis Jakarta. Saya menikmatinya. Saya jarang berada di suasana kerja yang formal. Lingkungan pekerjaan saya tidak mengharuskan setelan kerja resmi, berdasi, atau bersepatu hak tinggi. Jadi, tadi saya benar-benar menikmati pemandangan menjelang makan siang. Para eksekutif berkelompok berjalan lalu lalang. Pasti mereka orang-orang pilihan sehingga bisa berada di sentra bisnis utama di negara ini. Lalu saya berpikir, kualifikasi apa yang mereka miliki sehingga terpilih? Setelah terpilih, bagaimana caranya untuk bisa menjadi unggul dan mendapatkan posisi yang baik sehingga bisa menikmati hidup?

Sambil menyetir pulang, saya terus berpikir. Bagaimana caranya anak saya (dan anak-anak lainnya) memiliki kualifikasi bukan sekedar gelar akademik agar anak saya (dan anak-anak lainnya) mampu bersaing dan terpilih dalam persaingan dunia kerja? Apa yang harus saya (dan orangtuanya) persiapkan? Uang yang banyak sehingga mereka mendapatkan pendidikan dengan kualitas premium? Lalu apa? Atau ada hal lain yang (mungkin) lebih penting untuk dipersiapkan?

Rasanya setiap menjelang Hari Pendidikan Nasional, selalu ada topik yang menggugah untuk ditulis. Termasuk hari ini. Kunjungan saya ke distrik bisnis itu sebenarnya adalah sebuah pertemuan dengan seorang teman yang sudah 1,5 tahun tidak bertemu, obrolan ke sana ke mari, dan segelas kopi membuat saya terus-menerus berpikir sampai tulisan ini dibuat. Benar ya, kalau kita mau mengamati dan menyadari, sebenarnya ada banyak hal yang menarik untuk dipelajari, untuk dimaknai. Tadi siang, obrolan kami menyentuh beberapa topik. Etos kerja, kompetisi, dan pengasuhan. Lalu, di mana benang merahnya dengan pendidikan?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia sekolahan berbeda dengan dunia kerja. Ilmu dan pengetahuan yang didapat dari kurikulum belum tentu dapat langsung diaplikasikan pada dunia kerja. Bahkan terkadang dunia kerja memberikan pengetahuan atau keterampilan baru. Dari sisi manusianya, si pekerja, berarti harus ada software atau soft skill yang memungkinkan ia dapat mengubah pengetahuan mentah menjadi siap pakai atau mempelajari suatu hal yang baru. Jangan sampai ia mengolah angka-angka dengan menggunakan microsoft excel, misalnya, tetapi menggunakan kalkulator untuk menghitungnya. Ini bukan bercanda. Ini terjadi. Nyata.

Pertanyaan yang kemudian timbul adalah di mana atau pada fase perkembangan hidup yang mana penguasaan soft skill ini dilakukan? Siapa yang bertanggung jawab terhadap pelatihannya? Bagaimana caranya?

Kemudian, kompetisi. Ketika proses dan keberhasilan kolektif dianggap lebih baik daripada kompetisi, apakah mungkin ini yang mengakibatkan motivasi internal atau drive atau dorongan atau ambisi menjadi menghilang? Yang penting memberikan kontribusi. Lalu bagaimana hasilnya? Ya, yang penting proses kan? Jadi, santai saja, karena toh proses yang dihargai. Ada satu lagi kenyataan yang saya temui berkaitan dengan proses ini. Sabtu lalu saya diundang untuk berbicara mengenai topik seputar pengasuhan. Ada salah satu orangtua yang bercerita bahwa anaknya ikut les ini dan itu atas keinginannya sendiri. Sampai di suatu titik, si anak merasa tidak ingin lagi les. Berbagai perilaku tanda keengganannya ditampilkan, mulai dari malas hingga menangis. Namun, sang orangtua merasa sayang bila anak ini berhenti les karena si anak dianggap mampu. Jadi, dimana letak ‘proses’nya kalau orientasi tetap pada hasil?

Target juga seakan-akan menjadi tabu untuk disandangkan pada individu. Stres pun dianggap barang terlarang yang jangan sampai anak-anak merasakannya. Mereka dijaga sedemikian rupa sehingga tidak boleh ada beban yang mungkin menimbulkan stres. PR dan tugas ditiadakan dengan asumsi stres akan berkurang. Pelayanan maksimal diberikan agar anak tidak usah repot, karena selain untuk urusan belajar, semua sudah disiapkan. Ujian atau tes disamarkan sehingga anak merasa santai. Akibatnya, usaha yang ditampilkan pun tidak maksimal, karena tidak paham untuk apa tes itu. Padahal, ketika masuk ke dunia kerja, pemenuhan target adalah salah satu bentuk pengukuran atas kerja yang ditampilkan. Kalau tidak biasa dengan target, kerja jadi tidak terarah. Target bisa diberikan oleh pihak luar dan bisa timbul dari dalam diri sendiri. Yang kedua, lebih sulit dilatihkan daripada yang pertama. Itu menurut saya.

Menurut saya, ada nilai-nilai yang bergeser di masyarakat saat ini. Kemudahan akses terhadap segala hal tampaknya memiliki kontribusi juga terhadap faktor kompetisi, ambisi, dan motivasi ini. Perhatikan jalan di sekitar anda. Seringkah Anda menemui anak di bawah umur yang mengendarai motor sendiri. Tanpa helm, tanpa SIM pastinya, bahkan sambil memencet-mencet ponsel. Jawabannya, sering. Begitu mudahnya motor seharga 15 jutaan setara nasibnya dengan sepeda yang mungkin kurang dari 1 juta. Tidak usah dibahas lagi mengenai ponsel atau gadget lain yang dimiliki oleh anak. Bagaimana pemanfaatannya? Bagaimana cara perolehannya? Ah, kayaknya saya saja yang sinis dan terlalu memikirkan ini dan itu-nya ya. Toh orangtua mereka tidak pusing dan tidak keberatan. ‘Kan orangtua bekerja untuk anaknya. Untuk apa pergi pagi pulang petang bila tidak bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya, termasuk memenuhi permintaan anaknya?’

Jaman memang cepat berubah. Masa sekarang adalah jaman dimana orang yang berhasil menjual diri atau mengembangkan branding dirinya yang berhasil untuk dikenal dan diakui performanya. Untuk apa pintar kalau tidak bisa bekerja. Bukan hanya bekerja dengan orang lain, bekerja sendiri alias wirausaha tidak semudah yang dibayangkan. Persaingan makin ketat. Tidak hanya dengan sesama bangsa, tapi lintas benua. Lalu saya teringat dengan sebuah buku milik ayah saya “Teach your child how to think” (Edward de Bono). Bukan tugas guru. Tapi, tugas orangtuanya untuk mengembangkan kemampuan berpikir anak. Bukan sekedar membekali dengan keterampilan bahasa, keterampilan matematika, dan segudang keahlian akademis. Ada sebuah proses alamiah yang harus disadari agar dapat dipelajari dan dilatihkan agar anak mengembangkan dirinya. Yang ditanamkan adalah software-nya agar anak dapat mempelajari hal-hal baru, mengenali dirinya, dan mengembangkan dirinya. Sehingga pada saatnya, anak-anak kita memiliki nilai jual yang membuatnya unggul dibandingkan yang lain. Dan, itu tugas orangtua, sebagai bagian dari mendidik dan mengasuh anak. Bukan tugas sekolahan.

Lah terus untuk apa sekolah?

Ah, ‘kan kita yang ingin anak kita kelak hidup berbahagia ‘kan?

… and They will live happily ever after

Alzena Masykouri, M. Psi-Psikolog Anak & Remaja – Pendidikan.

Alzena merupakan alumni Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran angkatan 1995. Melanjutkan studi di Magister Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dengan spesialisasi Klinis Anak dan Psikologi Pendidikan dan lulus di tahun 2002, Alzena saat ini aktif menjadi narasumber perihal psikologi anak di media massa. Ia dapat dihubungi di Bestariku (www.bestariku.co.id), Pusat Edukasi Anak dan Keluarga di daerah Bintaro, Tangerang Selatan.

(Visited 41 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments