The Battle of Wits

15 Juli 2013

mother daughter fight

Image courtesy of Jamie Grill/ Gettyimages.com

Kurang lebih setahun ini saya mulai merasa ada yang aneh dengan anak saya, Si Eneng. Mendadak ia berubah menjadi anak yang, ehm, berbeda. Seakan-akan ada serigala yang memangsa anak saya yang manis dan penurut.

Sekarang, semua dipertanyakan, hal kecil bisa menjadi besar, dan banyak pertentangan yang terjadi. Phiew, perasaan dulu saya tidak begini-begini amat deh. Atau, iya ya? Terus terang, ingatan ketika saya berusia 10 tahun sudah buram. Yang bisa saya ingat adalah di kelas 4 SD, sudah ada gank anak perempuan dan sempat berantem di antara keduanya. Saya nggak ikutan. Beneran. Karena… arah pulang saya berbeda dengan kebanyakan teman. Kalau barengan, ya, nggak tau juga ya *senyum manis*. Sempat ada anak baru (perempuan) di kelas 4 SD yang dijodoh-jodohin dengan teman sekelas saya juga. Terus, ikut lomba-lomba, dan pindah rumah. Pindah sekolah juga.

Tidak adil sebenarnya kalau membandingkan jaman saya kecil dengan anak saya saat ini. Dulu, buah-buahan hanya untuk dimakan. Sekarang? Berita dari belahan dunia yang berbeda bisa tersebar dalam hitungan detik. Polemik bisa beredar layaknya trend tertentu. Dan, ini jaman anak saya, dimana saya jadi ibunya. Ibu yang dulu kenal lagu bahasa Inggris pertama kali melalui lantunan suara Tommy Page : a shoulder to cry on di kelas 6 SD dan bela-belain beli kasetnya untuk tahu lirik, sementara anaknya kelas 4 SD sudah lancar nyanyi lagu genjrang-genjreng hanya karena mendengarkan radio di mobil jemputan dari sekolah ke rumah.

Baiklah, kembali ke topik semula.

Di awal kelas 4, saya sudah mulai sadar dengan masa pubertas. Secara alamiah, prosesnya mulai terjadi. Diskusi-diskusi mengenai ketubuhan dan perawatan tubuh juga mulai dilakukan. Aman. Anak bisa menerima dengan baik, saya juga tidak terlalu puyeng dibuatnya. Lalu, hormon mulai bekerja. Mood swing. Aduh.

Kolaborasi antara mood dan akal itu bisa luar biasa. Sesaat ia bisa jadi malaikat yang manis dengan sikapnya yang ramah seperti anak yang saya kenal sejak lahir, lalu semenit kemudian, Duar! Ngomel-ngomel, menghentakkan kaki, menatap tajam, dan intonasi suara yang makin meninggi, bibir manyun 5 cm, muka merengut ditekuk-tekuk. Kalau ibunya sedang sadar dan waras mengenai masa yang sedang dialami si anak, maka si Ibu bisa dengan nada suara tenang menjawab dan memberikan kesempatan si anak untuk berpikir. Kalau tidak? Ya, tahulah apa yang terjadi. Terus, bisa juga tuh tiba-tiba setelah masa time out (seringkali ibunya yang me-time out– kan diri), biasa lagi seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

Perseteruan, ini yang saya rasakan, biasanya adalah tentang value, tentang nilai.”Kenapa kok begini? Kenapa nggak boleh? Tapi ‘kan aku mau! Pokoknya aku gak mau!” Lalu kalau ditanya alasan, dijawab dengan enteng, “Nggak mau aja! Nggak tau!” Arrrghhhh… *garuk-garuk lantai* Kalau di awal-awal, saya memilih bersitegang asal tuntas. Maksudnya, yang penting saya yang lega dengan nyerocos mengenai pertentangan yang terjadi. Biarin abis itu dia yang mikir. Ternyata tidak efektif. Beneran.

Ada yang bilang, masa pra remaja ini mirip dengan Terrible Two-nya anak usia 2 tahunan. Hmm… Menurut saya sih beda ya. Kalau anak usia 2 tahunan ngamuk, kita bisa hanya diam saja atau paling banter gendong. Sekarang suruh gendong anak ini? Enggak deh. Kalau kita hanya diam saja, dia bisa mencari seribu satu cara untuk membuat kita terpancing.

Rentang anak usia 2 tahunan tidak akan lebih dari 30 menit, dia sudah akan teralih perhatiannya. Kalau usia 2 tahunan, biasanya perseteruan akibat benda, kalau sekarang, sudah lebih pintar sedikit. Dia sudah tahu taktik merayu untuk benda yang diinginkan, bukan cuma dengan cemberut dan ngambek yang jelas tidak akan berhasil. Ya, paling tidak, kita sudah melalui masa dua tahunan itu. Jadi sudah ada persiapannya *berpikir positif*. Meskipun, ketika dulu dia berusia 2 tahun, saya tidak mengalami masa tantrum, karena rambu-rambunya saat itu sudah jelas, bisa diantisipasi.

Masa ini betul-betul seperti main layangan. Tarik. Ulur. Geser kiri. Geser kanan. Jongkok. Whatever. Asal layangannya gak putus. Bukan lagi menang kalah dengan layangan lain. Mempertahankan layangan ini bisa terbang dan bertahan dari tiupan angin yang berubah-ubah saja rasanya sudah gak karuan kok.

 

Ada beberapa hal yang saya amati dan syukuri dari perjalanan setahun ini. Ya. Perjalanan saya belum usai, belum bisa dikatakan berhasil, masih saya (dan dia, semoga) nikmati. 

Ekspresi Diri

Kalau tingkah laku anak saya terjadi di masa saya kecil, waduh, dijamin dapat cap sebagai anak nakal, pembangkang, susah diatur, dan semacamnya akan ter-stempel di kening. Dulu, pakemnya adalah anak harus nurut, terutama sama orangtua. Titik. Sekarang, saya menyadari bahwa anak yang menjadi tanggung jawab saya ini adalah individu mandiri, yang punya perasaan, dan punya kemampuan untuk mengekspresikan dirinya. Ia punya kemauan, punya kemampuan. Karena saya secara sadar menerapkan pola pengasuhan terbuka, maka ketika hasilnya adalah anak yang ekspresif terhadap emosi yang ia rasakan, tidak masalah. Selama ia masih berada di dalam batasan nilai (norma) keluarga.

Saya mulai paham bahwa ada area yang dianggap anak saya sebagai wilayah kekuasaannya. Wilayah yang selama ini aturannya ditetapkan oleh orangtua, sekarang ingin diambil alih untuk diaturnya sendiri. Ada yang dengan cara terang-terangan (pakai ngambek segala), ada yang dengan sukarela mau dibantu persiapannya. Tarik. Ulur.

Perkembangan Berpikir

Alhamdulillah, dengan mampu mempertanyakan dan mempertentangkan, tandanya anak saya berpikir. Tidak hanya menelan dan menerima informasi yang ia dapatkan. Masalah biasanya muncul pada ‘cara’ menyampaikan pertentangan dan pertanyaannya. Kadang saya merasa seperti ada lompatan-lompatan listrik yang sangat cepat dan kuat yang berada di kepalanya. Bzz..bzzz begitu. Tidak kasat mata, tentu. Beberapa kali saya melihat dia sendiri tidak mampu mengendalikan ‘bzz..bzzz’-nya, sehingga akhirnya dia menyerah dengan “terserah deh” atau makin ngambek dan minta time out sendiri.

Peran Berubah

Peran saya berubah. Dari Ibu dari seorang anak menjadi Ibu seorang (pra) remaja. Well, it’s about the time *sembunyikan KTP* Bukan pribadi yang berubah, tapi perannya. Mungkin dulu saya lebih banyak berjalan di depan, menyibakkan rintangan sehingga anak saya dapat melangkah dengan aman.

Sekarang, karena kemampuannya juga berkembang, saya dapat berjalan bersamanya. Sama-sama berpikir, berdiskusi, dan bertindak untuk menjalani kehidupan. Dia menjalani kehidupannya. Bukan saya yang menjalani kehidupannya. Saya yang harus siap bahwa ternyata anak saya punya gaya sendiri, punya pemikiran sendiri, punya pendapat sendiri, punya keinginan sendiri. Saatnya main layangan.

Saatnya ia memilih sendiri layangannya, belajar menerbangkannya, dan berlatih untuk mengarahkan. Layangannya sendiri, kehidupannya sendiri. Bukan saya yang tetap memegang kendali dan berusaha memegangi benang agar layangan yang membandel ke kanan dan ke kiri tetap di arah yang saya mau. Bukan saya yang kemudian berpikir bahwa layangan ini adalah rebelliousridiculous, atau bahkan, hillarious.

Saya akan menemani anak saya menerbangkan layangan. Selama ini ia sudah tahu cara dan aturannya secara teoretis. Ia tahu peran apa yang harus ia jalankan. Ia tahu ia memiliki kemampuan dan ingin mencoba kemampuannya. Ia tahu ia punya keinginan. Ia tahu bahwa akan ada orang di sampingnya yang mengingatkan tentang angin, tentang hujan, tentang layangan lain, tentang banyak hal.

Ia tahu bahwa orangtuanya ada di sampingnya untuk ditanyai, untuk diajak diskusi, untuk membantunya mengatasi ‘bzz..bzzz’-nya, untuk mengendalikan emosinya yang sama sulitnya dengan mengendalikan ‘bzz’ itu. Ia harus bisa memutuskan kapan layangan itu terbang mengikuti angin atau disimpan dahulu sampai situasi nyaman. Ia harus mampu memegangi benang erat-erat (dan, ya, ia bisa meminta bantuan saya untuk memeganginya). Ia tahu bahwa ia perlu latihan. Tapi, ia harus tahu dan mampu memegang benangnya sendiri, berkuasa atas layangannya sendiri. Sebelum akhirnya ia menerbangkan layangannya seorang diri. Kelak.

alzena

Alzena Masykouri, M. Psi-Psikolog Anak & Remaja – Pendidikan.

Alzena merupakan alumni Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran angkatan 1995. Melanjutkan studi di Magister Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dengan spesialisasi Klinis Anak dan Psikologi Pendidikan dan lulus di tahun 2002, Alzena saat ini aktif menjadi narasumber perihal psikologi anak di media massa. Ia dapat dihubungi di Bestariku (www.bestariku.co.id), Pusat Edukasi Anak dan Keluarga di daerah Bintaro, Tangerang Selatan.

(Visited 34 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments