Menambah Masa Cuti Mengurangi Resiko Depresi Pasca Melahirkan

12 Desember 2013

mom with baby work

Image courtesy of franky242/ Freedigitalphotos.net

Sciencedaily.com pada akhir 2013 lalu mengungkapkan hasil penelitian dari University of Maryland, yang dilakukan oleh Dagher, McGovern, dan Dowd, perihal implikasi kebijakan cuti melahirkan terhadap terjadinya depresi pasca melahirkan (Post Partum Depression). Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa semakin lama masa cuti melahirkan yang diambil oleh seorang wanita setelah ia melahirkan, akan menurunkan resiko wanita tersebut mengalami apa yang disebut depresi pasca melahirkan. Dr. Rada K. Dagher merupakan asisten profesor administrasi pelayanan kesahatan di University of Maryland School of Public Health.

Di Amerika Serikat, sebagian besar wanita kembali bekerja segera setelah mereka melahirkan. Sebagian besarnya tidak mengambil cuti melahirkan lebih lama dari tiga bulan,” kata Dr. Dagher. “Namun hasil penelitian kami menunjukkan bahwa wanita yang kembali bekerja lebih cepat dari enam bulan setelah bayi lahir memiliki resiko yang lebih tinggi mengalami gejala depresi pasca melahirkan.” Penelitian ini dipublikasikan di Journal of Health Politics, Policy, and Law.

Tahun pertama setelah melahirkan menampilkan adanya tingkat resiko depresi yang tinggi pada wanita, yaitu sekitar 13 persen dari semua ibu mengalami depresi pasca melahirkan, dengan gejala-gejala yang melemahkan penderitanya, serupa dengan depresi klinis. Penelitian ini adalah penelitian pertama yang meneliti hubungan antara masa cuti melahirkan dan gejala depresi pasca melahirkan pada wanita selama setahun setelah melahirkan. Gejala-gejala depresi diukur dengan Skala Edinburgh Postnatal Depression Scale, sebuah alat yang digunakan secara luas untuk melakukan screening terhadap gejala depresi, dan telah diadaptasi dan divalidasi dalam banyak bahasa.

Penelitian ini menggunakan data dari Maternal Postpartum Health Study, yang dikumpulkan oleh Dr. Patricia McGovern, profesor University of Minnesota School of Public Health dan wakil peneliti dari studi ini. Dr. McGovern mengikuti sekelompok wanita yang terdiri dari lebih 800 orang di Minnesota selama setahun pasca mereka melahirkan, dan mengumpulkan data perihal gejala depresi dan kondisi kesehatan mental dan fisik pada minggu keenam, minggu kedua belas, bulan keenam, dan bulan kedua belas pasca melahirkan. Pada minggu keenam, minggu kedua belas, dan bulan keenam, para wanita yang mengambil cuti melahirkan memiliki skor depresi pasca melahirkan yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan wanita lainnya yang telah kembali bekerja.

Tahun 2013 merupakan ulang tahun kedua belas dari terwujudnya Family and Medical Leave Act (FMLA) di AS, sebuah kebijakan cuti federal yang memberikan tunjangan bagi ibu warga negara tersebut yang memiliki bayi. Namun, kebijakan tersebut hanya memberikan kesempatan cuti tanpa tunjangan maksimum 12 pekan bagi para karyawan yang bekerja untuk membayar karyawan lainnya (mis. Perusahaan dengan karyawan berjumlah 50 orang atau lebih). Karena banyak wanita yang tidak memenuhi persyaratan dari FMLA, atau tidak memiliki dana yang cukup untuk dapat mengambil cuti tanpa tunjangan, maka sebagian besar wanita kembali bekerja jauh lebih cepat dari waktu yang ideal bagi kesehatan ibu pasca melahirkan. Dalam studi ini, sekitar 7 persen ibu kembali bekerja setelah 6 pekan, 46 persen setelah 12 pekan, dan 87 persen setelah 6 pekan. AS tertinggal dari negara industri lainnya dalam hal kemurahhatian memberi kebijakan cuti bagi orang tua. Faktanya, riset terhadap 181 negara di dunia menunjukkan bahwa AS adalah satu dari hanya tiga negara yang tidak memberikan tunjangan cuti melahirkan (negara lainnya adalah Papua New Guinea dan Swaziland).

Penelitian ini menyimpulkan bahwa “durasi cuti melahirkan yang diberikan oleh Family and Medical Leave Act, yaitu selama 12 pekan, mungkin tidak cukup bagi para ibu sehingga mereka berada dalam resiko mengalami depresi pasca melahirkan” dan debat kebijakan cuti di masa yang akan datang harus mempertimbangkan kondisi kesehatan pasca melahirkan bagi para ibu. Lebih jauh lagi, “para pemilik usaha harus mulai berpikir untuk memberikan masa cuti lebih panjang dari 12 minggu waktu cuti tanpa tunjangan yang diberikan FMLA, dengan menambah masa cuti atau memberikan cuti berbayar atau keduanya,” seperti yang diungkapkan Dr. Dagher.

Sumber:

Bahan untuk cerita ini didapat dari University of Maryland, dan diedit sesuai keperluan, ditulis ulang dan diterjemahkan dari Science Daily.com, MLA APA Chicago, University of Maryland. “Longer maternity leaves lower women’s risk of postpartum depression.” ScienceDaily. ScienceDaily, 12 December 2013. <www.sciencedaily.com/releases/2013/12/131212100140.htm>

Referensi Jurnal:

R. K. Dagher, P. M. McGovern, B. E. Dowd. Maternity Leave Duration and Postpartum Mental and Physical Health: Implications for Leave Policies. Journal of Health Politics, Policy and Law, 2013; DOI: 10.1215/03616878-2416247

hesti 2013

Hesti Farida Al Bastari, adalah Sarjana Psikologi dari Universitas Padjadjaran, bekerja part time sebagai associate untuk Konsultan HR di Jakarta. Dengan rekan-rekannya sesama alumni, tahun 2013 ia mengembangkan blog psikologi Psychologythoughts.com

(Visited 58 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments