Cara Menjadi Ayah yang Berkualitas bagi Anak

dad with kid in the park

Image courtesy of Jade Brookbank/ Gettyimages.com

Seorang ayah memiliki peran yang penting dalam tumbuh kembang anaknya. Baik menurut agama, menurut akal sehat, dan kini, secara empiris terbukti melalui beragam penemuan ilmiah. Karena itulah, pemahaman “aku harus melibatkan diri dalam pengasuhan anak” sudah dimiliki banyak ayah sekarang, terutama ayah-ayah muda. Namun demikian, tak dapat disangkal ada sekian banyak faktor yang menjadi pertanyaan serta hambatan yang dirasakan ayah, yang membuat niat untuk terlibat menjadi tak benar-benar terwujud secara nyata. Dalam focus group discussion yang saya lakukan pada 11 orang ayah di Bandung Oktober 2012 lalu, hambatan utama yang dirasakan para ayah untuk lebih terlibat dalam pengasuhan anaknya adalah “kurangnya waktu”. Dengan fungsi utama ayah sebagai pencari nafkah, maka wajar hal tersebut dirasakan.

How much is enough?” “How much time and attention do I need to give my child to ensure she or he grows up healthy?” begitu mungkin kurang lebih pertanyaan para ayah.

 

Palkoviz (2002) menjawab pertanyaan para ayah: Instead of counting how many minutes you spend with your child as a measure of “good” fathering, ask yourself, “What do I do with my child with the time that I have?” Researchers generally find the quality and type of activities that you do with your child are far more important than the amount of time you spend with them.

Ada beberapa poin penting yang bisa “dipegang” para ayah saat ingin melibatkan diri dalam hidup anak-anaknya:

(1) Usahakan adanya waktu berkualitas bersama anak.

Apa tanda bahwa waktu kebersamaan ayah dan anak adalah waktu yang berkualitas? Bagi para ayah, pertanyaan-pertanyaan ini membantu mengidentifikasinya.

  • Apakah anak menjadi pusat perhatian Anda? Atau… Anda hanya berusaha membuat anak sibuk saat Anda mengerjakan hal lain?

  • Selama bersama dengan anak, apakah Anda benar-benar terlibat sehingga baik Anda maupun anak menikmatinya?

  • Apakah Anda meluangkan waktu secara sengaja untuk menstimulasi aspek-aspek perkembangan anak Anda?

  • Apakah Anda benar-benar merencanakan waktu kebersamaan dengan anak?

  • Apakah Anda merasa bahagia saat bersama dengan anak Anda meskipun kegiatan Anda dan anak “tidak bertujuan?”

(2) Terlibatlah dalam setiap fase kehidupan anak.

Siapa bilang anak hanya butuh orang tuanya pada fase kehidupan tertentu saja? Anak membutuhkan orang tuanya dalam setiap fase kehidupannya. Hanya bentuk kebutuhannya saja yang berbeda.

  • Pada fase bayi dan pra sekolah, keterlibatan ayah bisa berbentuk bantuan mengurus secara fisik seperti mengganti popok, memangku/menggendong, meninabobokan, serta mengajak bermain (Bronte-Tinkew et al., 2008).

  • Pada fase anak sekolah, keterlibatan ayah bisa berbentuk mengantar anak menjalani kegiatan di sekolah, menemani belajar, dll.

(3) Jangan merasa bahwa pemenuhan kebutuhan fisik anak adalah yang paling utama.

Being a good father doesn’t mean making sure your child has all the best toys, or lives in the best neighborhood. It means making sure your child has all the benefits of having you in his or her life.

Dalam sejarahnya, meskipun kini disadari bahwa peran ayah bukanlah peran “pembantu” dalam tumbuh kembang anak, namun rekonstruksi budaya telah menempatkan ayah tidak berada di garis depan dalam hidup anak-anaknya. Maka, jangan heran kalau seringkali seorang anak (yang telah tumbuh dewasa), kesulitan untuk mengingat kenangan manis bersama ayah. Dan akibatnya, pola asuh ayah terhadap dirinya pun cenderung terulang dalam caranya mengasuh anak-anaknya. Tak akan ada yang menyalahkan jika seorang ayah menghabiskan seluruh waktunya untuk bekerja, sampai tak punya waktu dengan anak.

Namun, pengalaman menjadi seorang ayah adalah pengalaman berharga yang tak akan terbeli dengan apapun.

Tampaknya akan ada banyak situasi yang bisa jadi alasan untuk tak punya waktu untuk “hanya” bersama anak. Akan ada banyak kegiatan lan yang lebih “penting” untuk dilakukan. Namun sadarilah,

as you become more involved in your child’s life, you may become less involved in other areas of your life. You may not be able to work as many overtime shifts or stay as late at work. You may have to say no to an outing or two with the guys, take a season off from your bowling or soccer league. Know that in the end, most fathers agree that the benefits that they receive through building their relationship with their child far outweigh these sacrifices. Last, these benefits influence the development of your child into a successful adult and future parent.”

“Semakin Anda melibatkan diri dalam kehidupan anak Anda, waktu untuk terlibat dalam kegiatan lain di kehidupan Anda akan berkurang. Anda mungkin tidak dapat mengerjakan lebih banyak waktu lembur atau pulang malam dari tempat kerja. Anda mungkin harus berkata tidak pada sebuah atau dua buah ajakan keluar kota bersama teman-teman pria Anda, menghabiskan musim libur dengan bertanding bowling atau bermain sepak bola. Ketahuilah bahwa pada akhirnya, sebagian besar ayah menyetujui bahwa keuntungan yang mereka dapatkan dari membina hubungan dengan anak mereka jauh melebihi segala pengorbanan ini. Terakhir, keuntungan-keuntungan ini mempengaruhi perkembangan anak Anda menjadi orang dewasa dan orang tua yang sukses di masa depan.”

http://fitriariyanti.wordpress.com/2013/07/08/mau-jadi-ayah-berkualitas-buat-anak-ini-caranya/

Sumber: Artikel Being an Involved Father: What Does It Mean?. Kate Fogarty and Garret D. Evans. 2009.

8 Juli 2013

 fitri ariyanti
Fitri Ariyanti Abidin. Dosen Fakultas Psikologi UNPAD. Menempuh pendidikan S1, Profesi Psikolog dan Magister Psikologi Majoring Klinis Anak di Fakultas Psikologi UNPAD. Psikolog di Biro Pelayanan dan Inovasi Psikologi Fakultas Psikologi UNPAD. Salah satu penulis buku “Diary Tumbuh Kembang Anak” (DAR!Mizan, 2006). Ibu dari 4 anak, aktif menulis di blog fitriariyanti.wordpress.com.

 

 

 

(Visited 159 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments