Belajar “Bangga” dari Si Franklin….

 

Franklin the turtle YT

Image courtesy of Youtube

Empat tahun yang lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk diskusi intensif dengan seorang teman yang telah melakukan penelitian mengenai pengenalan emosi pada anak. Salah satu hasil penelitiannya adalah, bahwa anak-anak yang menjadi sampel penelitiannya “tidak biasa” atau “kurang mengenali” emosi “bangga”. Mungkin karena orang dewasa di Indonesia jarang mengekspresikan kata “I’m proud of you…” seperti yang biasa kita dengar dalam adegan-adegan percakapan ibu/guru dengan anak di film barat. Atau mungkin juga karena dalam kultur Indonesia, “bangga” dikonotasikan dengan “sombong”.

Padahal menurut saya, rasa “bangga” penting untuk dirasakan anak. menurut penghayatan saya, pada anak rasa bangga inilah yang menjadi cikal bakal kepercayaan dirinya, dan itu adalah hal yang sama sekali berbeda dengan “sombong” atau “tidak rendah hati”.

Simak saja salah satu definisi pride yang saya kutip dari wikipedia.org ini:
Pride is “a pleasant, sometimes exhilarating, emotion that results from a positive self-evaluation” (Lewis, 2002). “The standard view of pride was that it results from satisfaction with meeting the personal goals set by oneself. Pride involves exhilarated pleasure and a feeling of accomplishment. Pride is related to “more positive behaviors and outcomes in the area where the individual is proud”(Weiner, 1985).

Menurut saya, rasa “bangga” ini lebih berkaitan dengan apresiasi. Apresiasi yang anak dapat dari lingkungan, yang kemudian akan ia pelajari sehingga ia bisa mengapresiasi dirinya sendiri. Bukankah konon masalah yang dihadapi oleh anak-anak atau orang dewasa di Indonesia adalah karena ia “kurang PD” dalam persaingan di kancah Internasional? Padahal dari segi kemampuan mereka tak kalah?

Naaah…berkaitan dengan hal itu, ada satu buku bagus yang sejak kemunculannya dalam bentuk film di TV, sangat saya suka. Sebagian besar teman-teman pasti sudah mengenalnya : FRANKLIN. Tokoh utamanya, si Franklin adalah seekor kura-kura. Tokoh-tokoh yang lain adalah binatang-binatang. Ada Bear si beruang, Beaver si berang-berang, Pak Guru Owl, dll. Sejak pertama kali menemani anak saya menonton film ini di TV beberapa tahun lalu, saya sudah memberi bintang 5. Sayang, sekarang si Franklin ini sudah tak tayang lagi. Begitu pula CDnya, sekarang di Gramedia sudah tak ada lagi. Saya hanya sempat membeli 1 CDnya. Tapi bukunya masih banyak di Gramed. Saya mengoleksinya.

Waaah… saya bisa menulis panjang lebar dan out of context kalau bicara tentang kehebatan cerita si FRANKLIN ini. Intinya sih terangkum dalam kalimat yang saya dapat dari situs http://www.franklin.ecsd.net mengenai pengarangnya yaitu Paulette Bourgeois: “Her stories tend to validate that children have the power of imagination, the power of creativity and the the power of finding solutions.”

Berkaitan dengan topik yang saya tulis, yaitu apresiasi dan rasa bangga pada anak, langsung bisa kita temukan di halaman pertamanya. Berikut saya kutip kalimat-kalimat pertama dalam buku “Kelahiran Adik Franklin”: Franklin sudah bisa berhitung dan mengikat tali sepatunya. Ia bisa menyebutkan nama-nama hari dalam seminggu, nama-nama bulan dalam setahun, dan nama-nama musim dalam setahun. Dan kita bisa menemukan kalimat “Franklin sudah bisa……” pada setiap halaman pertama dari buku si FRANKLIN ini.

Jujur… menurut saya ini hebat sekali. Memulai suatu kisah, suatu masalah, kesulitan yang dihadapi si FRANKLIN sebagai tokoh utama, dengan mengapresiasi apa yang sudah bisa dilakukan oleh tokoh tersebut. Itu kehebatan pertama. Kehebatan kedua: tidak setiap orang dewasa menganggap “bisa mengikat tali sepatu, bisa menyebut nama-nama hari dalam seminggu, dll…” sebagai sesuatu prestasi, “kebisaan” yang perlu diapresiasi. Bukankah seringkali itu adalah “hal biasa” buat kita sebagai orang dewasa? Kita baru akan mengapresiasi saat melihat anak usia 4 tahun pintar memainkan melodi Mozart, atau menjadi juara ini-itu.

Padahal menurut pengamatan saya, kemampuan untuk mengapresiasi, baik mengapresiasi diri atau orang lain, memiliki rasa bangga terhadap apa yang telah dicapai diri maupun orang lain adalah hal yang menentukan kesuksesan seseorang, dibanding apa yang secara objektif telah bisa dicapainya.

fitri ariyanti

Fitri Ariyanti Abidin. Dosen Fakultas Psikologi UNPAD. Menempuh pendidikan S1, Profesi Psikolog dan Magister Psikologi Majoring Klinis Anak di Fakultas Psikologi UNPAD. Psikolog di Biro Pelayanan dan Inovasi Psikologi Fakultas Psikologi UNPAD. Salah satu penulis buku “Diary Tumbuh Kembang Anak” (DAR!Mizan, 2006). Ibu dari 4 anak, aktif menulis di blog fitriariyanti.wordpress.com.

 

(Visited 196 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments