Apakah Perlu Marah Pada Anak?

mother angry son

Image courtesy of David Castillo Dominici/ FreeDigitalPhotos.net

Akhir-akhir ini saya tergelitik dengan pola umum pengasuhan anak pada keluarga muda di ibukota tercinta, Jakarta. Mengapa? Karena hampir setiap saya berjalan-jalan ke tempat umum, selalu terlihat orangtua yang melakukan sejumlah kekerasan pada anak. Setidaknya sejumlah perilaku ini yang saya lihat: membentak anak dengan keras di depan umum; mengancam akan melakukan/melarang sesuatu jika anak tidak menuruti; menggerutu atau mengejek anak tentang perilaku yang tidak disukai; dan sesekali ada perilaku fisik seperti cubitan di tangan.

Walaupun bukan saya yang dimarahi, tapi toh saya merasakan apa yang dirasakan para anak: sedih, takut, malu, marah, dendam, dan lain-lain. Mengapa saya berani bilang itu tindak kekerasan pada anak? Merujuk pada sejumlah pakar, definisi terbaru dari kekerasan tidak hanya terbatas pada perilaku yang memberi bekas pada anak secara fisik, tapi juga secara psikologis, seperti gaya pengontrolan yang agresif dari orangtua (lihat Howe, 2005). Nah, jadi dari definisi terbaru ini, perilaku apapun yang membuat anak merasa sakit hati termasuk dalam kategori kekerasan pada anak.

Kekerasan pada anak sendiri punya banyak jenis, ada kekerasan fisik; kekerasan emosional/psikologis; kekerasan seksual dan kekerasan verbal. Berikut keterangannya:

  • Kekerasan fisik tentunya yang melibatkan perilaku fisik: cubit, pukul, jewer, tampar, sentil, sundut (rokok), tusuk (jarum dst), cekik, dorong, tendang, dan lain-lain.

  • Kekerasan emosional/psikologis adalah segala perilaku yang menimbulkan tekanan secara psikologis, seperti ancaman, memanipulasi anak, mempermainkan emosi diri agar dapat menguasai anak, dan lain-lain.

  • Kekerasan seksual adalah segala perilaku yang melecehkan meliputi perilaku seksual, mulai dari sentuhan, rabaan, hingga intercourse yang dilakukan tanpa persetujuan anak. (Kalaupun ada anak yang katanya setuju, mungkin bisa dicek apakah ada indikasi kekerasan emosionalnya).

  • Kekerasan verbal, perilaku kekerasan meliputi perilaku verbal dengan kata-kata kasar dan tidak senonoh, seperti bodoh, bego, dan seterusnya. Mengagetkan anak dengan cara melempar/memukul barang dengan keras (walaupun tidak mengenai/melukai anak) termasuk pada kategori kekerasan ini.

 Mungkin rekan-rekan jadi mengernyitkan dahi saat membaca definisi di atas, karena sepertinya kalau begitu, otomatis tidak ada ruang untuk ekspresi perasaan marah orangtua pada anak bukan? Tapi orangtua bisa menarik nafas lega, karena sebetulnya ekspresi marah seperti yang tergolong dalam definisi kekerasan di atas tidak perlu dilakukan dan tidak ada manfaatnya.

Apa betul tidak ada manfaatnya? Mengapa saya berani bilang begitu? Nah, sebagai penjelasan saya ambil contoh orangtua pada anak usia dini. Berdasarkan riset pustaka dan lapangan (orangtua dari anak usia PAUD), saya menemukan bahwa alasan utama orangtua marah pada anak mereka adalah karena menurut mereka, anak mereka nakal. Nakal karena tidak mau menuruti perintah orangtua (tidak mau mandi, tidak mau makan, dst); nakal karena selalu ingin bermain (lari, lompat, lempar, panjat, teriak-teriak); nakal karena tidak mau belajar dan lain-lain.

Padahal, kalau dilihat dari tugas perkembangan anak usia dini (3 s.d 6 tahun), usia tersebut adalah saatnya mereka mengembangkan otot-otot besar. Sehingga, muncul dorongan tenaga yang besar dan perilaku yang muncul (selalu) berlari, melempar, melompat, berteriak-teriak dan seterusnya. Perilaku ini juga pada akhirnya meningkatkan keseimbangan tubuh, menunjang keterampilan diri dan kemandirian dan menjadi sarana latih sosialisasi dengan teman. Soal bermain, anak usia ini tugasnya adalah bermain, yaitu untuk belajar bersosialisasi, belajar aturan bermain, belajar berbagi dan lain-lain. Lalu mengapa anak seringkali menolak mandi dan makan? Nomor satu tentu kita harus lihat, sebetulnya bagaimana cara orangtuanya mengajak anaknya untuk makan? Yah… siapapun tidak akan suka dan mau melakukan apapun kalau di bawah ancaman, bukan begitu? Hal lainnya adalah, munculnya perilaku membangkang sebagai tanda pembentukan ego diri. Ego ini dasarnya pembentukan pribadi anak.

Baca juga tulisan Alasan Orang Tua Marah pada Anak

Salam Indonesia Bahagia,

dianda azani

Dianda Azani, M.Psi

Psikolog pendidikan, ibu dari 1 orang anak dan saat ini sedang mengandung. Direktur INsight Consulting, lembaga yang terdiri dari para konsultan psikologi di bidang klinis dan organisasi, yang memfokuskan diri pada peningkatan kesejahteraan diri dan keluarga.

(Visited 71 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments