Apa Itu “Bete”?

bad mood

Image courtesy of Catherine Lane/ Gettyimages.com

Rekan, apakah Anda masih sering menggunakan kata “bete” dalam pembicaraan sehari-hari? Kata yang unik ini sudah menjadi kata yang melambangkan ekspresi emosi sejak lebih dari satu dekade lalu. Walaupun digunakan sehari-hari, tidak banyak yang tahu asal-muasal kata unik ini. Selain itu, makna emosi dari kata “bete” juga ambigu, mungkin karena tidak ada standar kesepahaman yang nyata diungkapkan. Well, tahun 2006 lalu saya meneliti tentang makna kata gaul ini, berikut ulasannya:

Bete” termasuk dalam kata gaul/kata prokem. Menurut Wikipedia, bahasa gaul adalah dialek bahasa Indonesia non-formal yang terutama digunakan di daerah perkotaan umumnya oleh kalangan remaja, dan kalangan muda di Indonesia, khususnya daerah perkotaan. Bahasa ini pada mulanya berasal dari bahasa percakapan yang biasa digunakan kalangan-kalangan tertentu, seperti homoseksual dan waria (www.wikipedia.com).

Ternyata, kata ”bete” atau yang sering disingkat ”bt” adalah warisan dari jaman pubernya angkatan era 1990-an, yang merupakan saduran dari kata bad tripping. Kata bad tripping ini sering dipakai remaja di dunia barat yang menandakan pengalaman tripping yang tidak menyenangkan. Ya, tripping, alias kondisi melayang, high karena penggunaan obat-obatan terlarang. Mengingat era jaman itu, saya hanya terbayang satu obat, yaitu ekstasi yang konon dipakai sambil berdisko dengan gaya kepala geleng-geleng, dengan satu jari telunjuk diangkat di depan muka. Apa ada yang masih ingat? Hehe.

Jadi konon, penggunaan obat-obatan yang umumnya mengakibatkan bad tripping ini adalah obat-obatan yang termasuk dalam kategori LSD (Lysergic acid diethylamide). Obat-obatan jenis ini memberi efek besar pada sistem psikologis seperti proses berfikir, kemampuan visual mata, kesadaran waktu dan pengalaman spiritual. Efek samping dari obat ini adalah reaksi kecemasan, paranoid dan delusi. Nah, jadi kondisi bad tripping yang dimaksud oleh remaja bule saat itu adalah saat sedang high dan asik menikmati sensasi obat LSD, mereka dikejutkan/terkena stimulasi lain sehingga perasaan/mood menjadi turun. Turunnya mood ini membuat munculnya perasaan marah, kesal, dan berbagai perasaan lain yang tidak diharapkan. Akibat efek samping obat-obatan, perasaan ini cenderung bertahan lebih lama dan sulit dihilangkan.

Penggunaan kata bad tripping ini diadopsi oleh pemakai LSD di Indonesia, dan kemudian penggunaanya meluas ke banyak kalangan. Kata yang kemudian disingkat menjadi kata ”bete” ini digunakan sebagai salah kata ekspresi emosi yang terkesan simpel, ringkas dan tidak basa-basi. Menurut sejumlah mahasiswa yang saat itu saya wawancara, kata ”bete” ini merupakan singkatan dari berbagai kata, antara lain bad mood, bad temper, bad temperament dan lain-lain. Berdasarkan wawancara tersebut, saya mendapat hasil sebagai berikut:

Makna utama dari kata “bete” adalah:

  1. Kata “bete” memiliki makna utama emosi negatif.

  2. Kata ini termasuk kata emosi yang simpel dan bisa mewakili hampir seluruh emosi negatif.

  3. Ada 17 kata emosi yang bisa diwakilkan satu kata “bete” ini! Termasuk emosi bosan, kesal, sebal, marah, bad mood, capek, malas, tidak ada perkembangan, kecewa, monoton, gelisah, muak, gondok, ngambek, mumet, sedih dan stres.
  4. Bagi sampel mahasiswa, ada tiga emosi dasar utama yang paling pas diwakilkan oleh kata “bete”, yaitu bosan, kesal dan marah.

 Selain makna-makna pengganti, ternyata ada pula profil konteks situasi yang membuat orang merasa bete (ditandai dengan kata emosi “bete”). Ciri situasi tersebut adalah:

  1. Dirasakan tidak menyenangkan

  2. Dirasakan tidak adil

  3. Dirasakan tidak dapat dihindari

  4. Dirasa tidak ada pihak yang bersalah/dapat disalahkan

  5. Dirasakan tidak dapat diubah

Jadi kesimpulannya, kata bete menunjukkan perasaan yang muncul pada situasi dimana seseorang merasa mendapat hal yang tidak diharapkan, tidak ia sukai, tidak menyenangkan, namun ia merasa tidak dapat merubah situasi dan hampir-hampir pasrah (tidak muncul dorongan energi seperti halnya emosi marah). Sehingga, perilaku yang muncul saat mengungkapkan kata “bete” lebih ke ngedumel dan mengeluhkan situasi pada orang lain.

Sekilas info, kenapa saya repot-repot mau meneliti makna emosi dari kata gaul? Begini, sebetulnya, kata emosi yang kita pakai untuk mewakili perasaan internal memiliki efek dalam cara pandang kita terhadap kondisi diri dan permasalahan yang dihadapi. Ujung-ujungnya, hal ini berpengaruh pada cara kita memilih/membentuk jalan keluar dari masalah itu. Misalnya saja, setelah mendapat nilai ujian yang jelek, remaja A merasa bahwa ia sedih. Lalu, ia menghibur diri dengan bermain bersama teman dan jalan-jalan. Tapi kemudian ada perasaan lain yang muncul belakangan, yaitu perasaan bersalah. Perasaan ini bisa disebut sebagai perasaan efek samping. Rupa-rupanya (setelah remaja A melakukan introspeksi) ia lebih banyak merasa kecewa pada dirinya karena merasa kurang keras dalam belajar. Maka, alih-alih ia menghibur diri, seharusnya ia bisa memulihkan rasa kecewanya dengan berusaha lebih giat, atau menghubungi guru untuk kesempatan perbaikan, dan lain-lain.

Jadi, pemahaman kita akan emosi diri, dan pemberian makna emosi yang sesuai merupakan hal yang penting dalam proses pemahaman masalah serta pemilihan jalan keluar. Coba introspeksi makna dan penggunaan emosi “bete” rekan-rekan masing-masing, apakah sesuai dengan hasil di atas? atau berbeda?

dianda azani

Dianda Azani, M.Psi., Psi. Alumni Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran dan melanjutkan pendidikannya di Magister Profesi Psikologi Universitas Tarumanegara. Merupakan Direktur INsight Consulting, konsultan psikologi yang berkantor di Pejaten, Jakarta Selatan.

(Visited 1,843 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments