Alasan Orang Tua Marah pada Anak

angry son

Image courtesy of David Castillo Dominici/ FreeDigitalPhotos.net

Oke, jadi sebetulnya perilaku anak yang umumnya menjadi alasan orangtua untuk marah adalah perilaku yang wajar ya? Yes, tampaknya begitu. Lalu mengapa orangtua akhirnya menjadi marah walaupun semua anak lainnya berperilaku yang sama dengan anak mereka? Sebagian besar alasan orangtua kira-kira sebagai berikut:

  • Orangtua merasa takut.

Merasa takut apa? Takut anaknya jatuh, anaknya terluka, takut anaknya sakit, takut anaknya tidak bisa naik kelas, takut rumah menjadi kotor, dan seterusnya.

  • Orangtua sedang stres.

Sedang banyak pekerjaan, sedang ada masalah dengan keluarga, stres dengan pekerjaan rumah tangga sehingga takut bertambah cucian kotor/lantai kotor/makanan yang dimasak terbuang-buang, dan seterusnya.

  • Orangtua sedang lelah.

Lelah secara fisik seperti tidak cukup tidur, tidak cukup makan, pulang larut malam, dan lain-lain.

  • Orangtua ingin anaknya menjadi ideal.

Orangtua memiliki gambaran ideal mengenai anak, misalnya ingin anaknya jadi yang paling pintar, anak sudah bisa membaca di usia tertentu, anak terlihat rapi dan selalu enak dilihat, dan lain-lain.

 Jadi sebab orangtua marah (pada anak usia dini) umumnya adalah diri mereka sendiri. Karena belum bisa mengendalikan ekspektasi diri terhadap anak. Orangtua perlu memahami dulu sebab mereka terpicu emosi marahnya, apakah diri sendiri dalam kondisi yang baik? (fisik dan psikologis); atau apakah anak sedang butuh diarahkan (jika perilakunya bisa membawa kerugian pada diri mereka). Jadi, apakah marah perlu?

Tentu kita boleh merasa marah. Marah adalah bentuk emosi yang membawa manfaat pada diri, bermanfaat untuk membela diri, membentuk sikap perlawanan pada situasi yang dirasa tidak adil, serta memunculkan energi yang besar. Yang harus dilatih adalah cara ekspresi marahnya. Apakah anak sudah perlu tahu, bahwa orangtuanya sedang marah (baca: apakah anak sudah bisa memahami apa itu “marah” serta sebab dan akibatnya?). Hal-hal ini (sebab, akibat dan konsekuensi konteks/situasi) menjadi tujuan ekspresi marah yang efektif. Ekspresi marah orangtua menjadi efektif (dan konstruktif) jika ia bisa: membuat anak paham sebab mereka menjadi marah; membuat anak paham hal yang tidak baik dari situasi yang terjadi serta konsekuensi negatif yang mungkin muncul; serta membuat anak belajar/paham cara penyelesaian masalah yang sesuai bagi anak.

Sebut saja pada anak usia 10 bulan yang kerjanya menumpahkan makanan saat berlatih menyendok, rasanya orangtua tidak perlu marah. Karena selain itu merepotkan diri sendiri, mengajarkan bentuk ekspresi emosi yang negatif pada anak, toh si anak tidak mengerti dan kemungkinan besar tidak akan menghentikan latihan menyendoknya. Sehingga makanan akan tetap jatuh ke lantai dan lantai tetap akan kotor. Yang bisa orangtua lakukan adalah.. yah, mungkin menaruh koran bekas saja supaya tidak susah membersihkan kotoran makanan? Atau malah mengajarkan anak untuk berlatih mengelap tumpahan makanan? rasanya itu lebih bermanfaat, kan?

 Salam Indonesia Bahagia,

 dianda azani

Dianda Azani, M.Psi

Psikolog pendidikan, ibu dari 1 orang anak dan saat ini sedang mengandung. Direktur INsight Consulting, lembaga yang terdiri dari para konsultan psikologi di bidang klinis dan organisasi, yang memfokuskan diri pada peningkatan kesejahteraan diri dan keluarga.

(Visited 583 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments