Menikah Muda atau Menikah Mapan?

 

13 November 2013

3282-000063

Image courtesy of Sara Valentini/ Gettyimages.com

Tadi pagi, dalam perjalanan menuju ke kantor, salah satu stasiun radio kesayangan mengangkat topik “Menikah Muda atau Menikah Mapan”. Beberapa penelpon yang masuk pun mencoba mengungkapkan alasan-alasannya, baik yang pro menikah muda maupun yang memilih menikah mapan.

Pada kesempatan ini saya mencoba mengungkapkan pandangan saya mengenai topik di atas.

Dari sudut pandang ilmu psikologi, menurut Robert J. Havighurst (Turner dan Helms, 1995), tugas perkembangan manusia pada tahap dewasa awal (usia 21 – 40 tahun) antara lain:

1.Mencari dan menemukan Calon Pasangan hidup; perkawinan

2.Membina kehidupan rumah tangga; berumah tangga dan mandiri secara ekonomi

3.Meniti karir dalam rangka memantapkan kehidupan ekonomi rumah tangga; mencapai puncak prestasi, penuh semangat, dan idealis serta pekerja keras

4.Menjadi warga negara yang bertanggung jawab; keinginan hidup tenang, damai, dan bahagia di masyarakat.

Dari sudut pandang kesehatan, pernikahan mensyaratkan kondisi fisik dan psikis tertentu agar dapat mencapai manfaat yang optimal.

Nah menurut pendapat saya, saat menikah yang tepat adalah pada saat seorang laki-laki dan perempuan berada pada rentang usia 21 – 28 tahun. Kenapa? Karena pada rentang usia tersebut biasanya seseorang telah matang secara emosional dan memiliki tanggung jawab dalam bertindak dan mengambil keputusan. Di sisi lain, pada usia tersebut biasanya seseorang telah merampungkan studi S1-nya dan sedang mulai meniti karir atau usahanya.

Loh kan usia segitu belum mapan, belum punya apa-apa? Betul, justru karena belum punya apa-apa itu seseorang, terutama laki-laki memiliki cita-cita/impian yang besar, yang ingin diwujudkan bersama pasangannya. Sedemikian besarnya sehingga mereka pun akan menangis haru ketika sedang membicarakannya.

Cita-cita yang besar tersebut tentu harus diwujudkan, untuk mewujudkannya diperlukan fisik yang sehat optimal, kemauan bekerja keras dan rajin berdoa. Di rentang usia tersebut manusia berada pada fase emas kondisi fisik dan emosional yang optimal.

Lalu persiapan apa yang paling utama dibutuhkan oleh pasangan yang hendak melangsungkan pernikahan? Satu hal yang paling utama, setelah memiliki calon pendamping hidup, yang paling dibutuhkan adalah niat untuk melangsungkan pernikahan dengan dasar ibadah, sebagai wujud menyempurnakan agama yang kita anut (ISLAM). Subhanallah… ketika niat sudah ditetapkan, seluruh alam semesta mendukung dengan cara yang luar biasa.

Pada awal usia pernikahan, apakah segala sesuatu berlangsung dengan mudah? Jawabnya tentu saja tidak, kedua insan yang baru saja disatukan tersebut harus melakukan penyesuaian-penyesuaian secara aktif, bisa jadi untuk sepanjang hidupnya. Hanya pasangan yang mampu memegang teguh komitmennya dengan kuatlah, yang mampu bertahan dalam biduk rumah tangga dalam kondisi seburuk apapun. Dan di situlah seni menjalani pernikahan dimulai.

Bagaimana dengan menikah muda?Katanya juga baik dari sudut pandang agama, karena menghindari perbuatan dosa. Menurut saya pribadi, menikah muda sah-sah saja sepanjang syarat kesiapan fisik dan psikologis seseorang telah terpenuhi. Apa gunanya menikah muda, dengan menampilkan foto-foto pre-wedding yang bagus, acara resepsi yang megah, namun ketika menghadapi ujian kehidupan berupa kesulitan finansial atau kesulitan dalam merawat dan mendidik anak, kedua pasangan tersebut bersikap emosional dan tidak memiliki kemampuan untuk memecahkan permasalahan dengan baik. Akibat yang mungkin ditimbulkan ketika ada masalah tersebut adalah ‘flight’, lari dari kenyataan dengan melakukan tindakan-tindakan yang disukai seperti kongkow dengan teman, nge-mall, dan sebagainya. Ketika sampai di rumah, toh persoalan ternyata belum teratasi.

Kadang-kadang kita sebagai manusia suka menggampangkan suatu persoalan tanpa melalui telaah pemikiran yang panjang, akibatnya ketika dihadapkan pada persoalan yang sebenarnya, sikap dan tindakan yang kita ambil masih jauh dari kematangan. Lagi-lagi pengalaman adalah guru yang terbaik. Jadi jangan sungkan dan ragu untuk belajar dari pengalaman orang-orang terdahulu di lingkungan sekitar kita, agar kita dapat memiliki ‘model’ yang terbaik yang bisa kita anut.

Bagaimana jika sampai usia lewat 30 tahun saya belum menemukan jodoh saya? Jangan khawatir, sesungguhnya Allah itu Maha Adil dan Bijaksana. Yakinlah bahwa DIA sedang merencanakan sesuatu yang besar lagi baik untuk diri Anda. Jika pada akhirnya Anda menemukan jodoh, satu hal yang mesti disadari, kondisi fisik Anda dan pasangan bisa jadi sudah tidak lagi muda, sehingga perlu untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian yang agar tetap meraih kebahagaiaan dalam biduk rumah tangga.

Jadi setelah sedikit paparan saya di atas, semoga pembaca sudah memiliki bayangan tentang pilihan keputusan yang hendak diambil, menikah muda atau menikah mapan.

Salam!

pp_wied

Wijanarko Dwi Utomo

Alumni Fakultas Psikologi Unpad 1997, gemar menulis, dan belajar dari tulisan orang lain.

http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2013/11/13/menikah-muda-atau-menikah-mapan-610317.html

(Visited 53 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments