Mengenal Depresi

10 October 2012

Image courtesy of Stuart Miles / FreeDigitalPhotos.net

Image courtesy of Stuart Miles / FreeDigitalPhotos.net

Sebagai seseorang yang pernah belajar di Fakultas Psikologi, saya baru mengetahui bahwa hari ini, 10 Oktober 2012, diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia.  Mendengar kata kesehatan mental, saya jadi ingat sebuah mata kuliah berjudul sama, dan sebuah diktat berjudul sama yang ditulis oleh salah seorang dosen sebagai bahan ajar di kelas. Hal itu menginspirasi saya untuk membuat tulisan kali ini.

“Depresi: Suatu Krisis Global” adalah tema yang diangkat tahun ini.

Apa itu Depresi? Depresi dalam konteks Psikologi adalah suatu keadaan perasaan yang merosot seperti muram, sedih, dan perasaan tertekan. (Wikipedia)
Atau menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), Depresi adalah keadaan sakit serius yang berpengaruh negatif terhadap bagaimana perasaan, cara berpikir dan tingkah laku kita.

Depresi memiliki beberapa gejala, namun yang paling umum adalah perasaan sedih yang mendalam atau hilangnya minat dan kesenangan terhadap sesuatu sama sekali.

Gejala lainnya:

  • Perubahan nafsu makan, yang berdampak pada penurunan berat badan atau kenaikan berat badan.
  • Insomnia atau tidur yang berlebihan.
  • Lemas atau kelelahan yang amat sangat
  • Merasa tidak berguna atau merasa bersalah secara berlebihan
  • Kesulitan berpikir, sulit berkonsentrasi dan sulit mengambil keputusan
  • Berpikir tentang kematian, berpikir tentang bunuh diri atau melakukan percobaan bunuh diri

Depresi sesungguhnya adalah hal yang umum. Ini terjadi pada 1 diantara 10 orang dewasa setiap tahun, dialami wanita 2 kali lebih banyak dibanding laki-laki. Sangat penting untuk dicatat bahwa Depresi dapat menyerang kapan saja, namun rata-rata, awal kemunculannya terjadi pada masa remaja akhir sampai pertengahan usia 20 tahun. Depresi juga biasa terjadi pada orang dewasa. Untungnya Depresi sangat mudah untuk ditangani.

Apa perbedaan Depresi dan Rasa Sedih

Kematian orang yang dicintai, kehilangan sebuah pekerjaan atau berakhirnya sebuah relasi adalah sebuah pengalaman yang sulit bagi setiap orang yang mengalaminya. Pada kondisi seperti ini perasaan sedih atau kehilangan muncul sebagai upaya untuk mencari keseimbangan dari peristiwa tadi. Perasaan sedih dan depresi tidaklah sama. Perasaan sedih akan berangsur hilang seiring dengan berjalannya waktu, namun gangguan depresi bisa berlanjut hingga berbulan-bulan bahkan menahun.

Penyebab

Depresi bisa dialami oleh siapa saja, bahkan pada seseorang yang kelihatannya sudah hidup pada kondisi yang ideal. Beberapa faktor yang bisa memicu, antara lain sebagai berikut:

Kimia Tubuh Kelainan pada dua unsur kimia di dalam otak, serotonin dan norepinephrine, dapat memicu timbulnya gejala depresi, termasuk kecemasan, penyesuaian diri dan kelelahan. Para ilmuwan masih berusaha meneliti secara intensif di area ini.

Genetik. Depresi dapat diturunkan secara genetik.
Kepribadian
Seseorang dengan rasa percaya diri yang rendah, memiliki toleransi rendah terhadap stres atau seseorang yang pesimis, umumnya sangat mudah mengalami depresi.
Faktor Lingkungan
Berada dalam lingkungan yang penuh kekerasan, diabaikan, disalahgunakan atau berada dalam kemiskinan dapat membuat seseorang mengalami depresi. Kondisi medis, seperti tumor otak atau kekurangan vitamin juga dapat memicu terjadinya depresi. Oleh karenanya amat penting agar kondisi seseorang yang diduga mengalami depresi, diperiksa oleh ahli di bidangnya untuk penanganan lebih lanjut.

Terapi
Bagi kebanyakan orang, depresi tidak selalu dapat diatasi melalui latihan, perubahan makanan atau dengan berlibur. Namun demikian, di antara gangguan jiwa lain yang mudah untuk ditangani, mayoritas penderita depresi dapat merasakan manfaat setelah menjalani serangkaian terapi.

Sebelum menyarankan sebuah model terapi, seorang psikiater harus melakukan serangkaian diagnostik, terdiri atas wawancara, pemeriksaan fisik yang bertujuan untuk mendapatkan informasi yang spesifik sehingga dapat diputuskan terapi yang tepat untuk penanganannya.
Pengobatan
Antidepresan mungkin menjadi resep pilihan untuk mengimbangi kondisi kimia tubuh di dalam otak. Jenis pengobatan ini tidak menyebabkan ketergantungan. Umumnya obat antidepresan tidak memiliki dampak jika diberikan kepada seseorang yang tidak mengalami depresi.

Psikoterapi
Psikoterapi atau terapi bicara, kadang digunakan secara mandiri untuk penanganan depresi level menengah. Tak jarang dikombinasikan dengan pengobatan antidepresan. Psikoterapi tidak hanya diterapkan pada pasien tunggal, namun juga dapat melibatkan orang lain untuk membantu seseorang keluar dari kondisi depresi.

Depresi tidak pernah normal dan selalu menghasilkan perasaan menderita. Dengan diagnosa yang tepat, penanganan yang tepat, mayoritas penderita depresi dapat mengatasinya. Jika anda merasakan gejala depresi sebagaimana ditulis di atas. Temui dokter atau psikolog di Rumah Sakit terdekat.

Salam!

pp_wied
Wijanarko Dwi Utomo
Alumni Fakultas Psikologi Unpad 1997, gemar menulis, dan belajar dari tulisan orang lain.

Artikel asli di http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2012/10/10/mengenal-depresi-500146.html

(Sumber American Psychiatric Association)

(Visited 42 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments