Mengeluh

02 September 2013

Belakangan ini, ditunjang dengan maraknya media sosial di dunia maya. Saya dengan mudah menemui orang-orang yang sedang mengeluhkan keadaan yang sedang dihadapinya. Apakah tidak boleh seseorang mengekspresikan keluhannya di media sosial? Ya, tentu saja boleh, itu hak pribadi masing-masing orang. Hanya saja saya jadi berpikir, apa iya saya juga harus ikut mengumbar keluhan saya di tembok maya?

social media two people talk

Image courtesy of renjith krisnan/ FreeDigitalPhotos.net

Saya jadi teringat pepatah, “Mulutmu Harimau-mu”, yang berarti segala perkataan yang terlanjur kita keluarkan apabila tidak dipikirkan dahulu akan dapat merugikan diri sendiri.

Saya sangat menyadari sepenuhnya bahwa setiap manusia yang hidup pasti memiliki masalah, namun ketimbang menganggap masalah sebagai masalah, saya lebih condong membahasakan masalah sebagai ujian. Jadi kalimat pertama di paragraf ini saya ubah menjadi, “Saya sangat menyadari sepenuhnya bahwa setiap manusia yang hidup pasti akan mendapat ujian kehidupan.”

Ujian kehidupan yang hadir bisa jadi merupakan buah dari keputusan-keputusan kecil yang telah kita ambil sebelumnya. Sebuah keputusan lahir dari rangkaian pemikiran yang kompleks, yang didalamnya telah dikaji sebab dan akibatnya. Sehingga pada akhirnya, seorang manusia yang sedang diuji, menurut saya tidak boleh lagi mengeluhkan situasi yang sedang dihadapinya saat ini.

Ketika saya dan istri memutuskan untuk membeli rumah dengan cara KPR, kami sadar betul bahwa bila pengajuan kredit kami disetujui maka penghasilan kami akan terpotong banyak untuk kewajiban membayar cicilan. Karena sudah melalui pemikiran bersama yang matang, maka ketika proses cicilan berjalan kami tidak pernah mengeluhkan keadaan keuangan kami yang agak tertekan. Saya pribadi lebih suka untuk memutar otak saya untuk mencari peluang-peluang lain yang dapat menghasilkan, agar kondisi keuangan kami bisa survive.

Mengeluh, menurut saya pribadi adalah sebuah ekspresi kurang akan rasa syukur terhadap hal-hal yang sudah diterima dari sang Maha Pencipta. Nikmat yang Allah berikan kepada manusia, sungguh tak terkira banyaknya. Kalau lah kita mau sedikit melihat ke bawah, masih banyak saudara-saudara kita yang kondisi lebih tidak beruntung dibanding kondisi kita saat ini.

Tulisan ini tercetus setelah melihat status seorang kawan yang sedang mengeluhkan kondisi keuangannya.

Salam!

pp_wied

Wijanarko Dwi Utomo

Alumni Fakultas Psikologi Unpad 1997, gemar menulis, dan belajar dari tulisan orang lain.

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/09/02/mengeluh-588989.html

 

 

(Visited 31 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments