“Lingkaran Setan” Bullying

Image courtesy of David Castillo Dominici/ FreeDigitalPhotos.net22 Mei 2013

Berbincang dengan seorang psikolog senior, kami mendapati bahwa kini kasus bullying anak semakin marak. Dalam beragam bentuknya. Kalau kami tidak langsung berhadapan dengan klien, pastilah kami tak percaya ada beragam cerita bullying di kalangan anak SD. Tapi, begitulah kenyataannya.

Saya sendiri, beberapa kali diminta membantu anak yang menjadi korban bullying, membantu orangtua dari anak yang menjadi korban bullying, membantu anak yang menjadi “pelaku bullying”, membantu orangtua yang anaknya “pelaku bullying”. Saya sepakat dengan ibu psikolog senior tersebut, bahwa bullying harus direduksi dan dihilangkan oleh seluruh elemen dari sekolah. Oleh value yang dikembangkan sekolah itu. Mengapa? Karena dalam kasus bullying, masing-masing pihak yang terkait di dalamnya, yaitu orangtua-anak-teman-guru; memiliki peran yang berkontribusi pada terjadinya atau tidak terjadinya kasus bullying.

Dalam tulisan ini, saya ingin menyoroti konteks yang lebih luas. Bagaimana masalah bullying ini bisa meluas menjadi besar dan panjang serta menjadi lingkaran setan bila tak diselesaikan dengan arif. Dan fokus dari tulisan ini adalah pesan pada orangtua.

Ibu-ibu dan teman-teman orangtua, saya yakin tidak ada yang mencintai anak kita lebih besar dari kita sebagai ibunya. Oleh karena itu, saya yakin….apabila suatu saat anak kita dibully oleh temannya, beragam rasa negatif kita hayati. Sedih dan marah, pasti kita rasakan. Insting melindungi anak kita, pasti langsung terbangkitkan. Mungkin kita tersulut oleh luka fisik yang dialami anak-anak kita yang amat kita sayangi itu, atau oleh ekspresi sedih dan luka hati yang dirasakan anak kita. Itu wajar.

Namun, pada saat emosi itu kita rasakan, berhenti dulu sejenak. Tenangkan diri. Jangan langsung marah. Jangan langsung bertindak. Yang sebaiknya dilakukan adalah:

  • Memberikan dukungan emosi pada anak kita. Misalnya kalau anak kita menangis, kita peluk, kita “terima” kesedihannya.
  • Cari informasi seluas-luasnya. Bisa jadi anak kita, sebagai “anak” punya persepsi yang subjektif terhadap peristiwa yang dialaminya. Sebuah peristiwa itu, pada dasarnya merupakan rangkaian aksi-reaksi. Alangkah baiknya kita memahami rangkaian peristiwa itu secara utuh. Jangan hanya memfokuskan perhatian pada perisiwa “aku dipukul” , “aku didorong”. Cari informasi pada guru, untuk memahami  situasinya secara objektif.
  • Setelah mendapatkan informasi yang utuh, baru tentukan tindakan. Misalnya memberi masukan ke gurunya untuk lebih tanggap terhadap situasi yang terjadi di kelas kalau memang  kita menilai sikap guru membuka peluang terjadinya peristiwa itu.
  • Pikirkan matang-matang bagaimana caranya memberikan tanggapan pada anak kita. “Menyepelekan” perasaan dan persepsi anak kita atau terlalu membesar-besarkan situasi yang terjadi dan habis-habisan membela anak kita….dua2nya adalah perilaku yang efeknya sama negatifnya pada anak kita. Kalau kita menyepelekan situasi itu, anak akan merasa “sendirian” dan itu akan berbekas pada kepribadian dan cara anak memandang lingkungan. Kalau kita terlalu berlebihan membela anak kita, juga kita akan menumbuhkembangkan kebencian anak kita pada teman yang membullynya.

Sebaliknya…..JANGAN….saya mohon…JANGAN lakukan hal ini:

  • Memarahi anak yang membully anak kita, apalagi di depan teman-temannya. Selain itu artinya kita membully anak lain dan efeknya bisa negatif ke anak yang bersangkutan, efek sampingnya juga, bisa jadi bumerang buat anak kita. Apalagi kalau anak kita cukup besar. Bisa jadi dia tidak akan terbuka lagi sama kita karena “malu” atas perilaku kita.
  • Menghasut anak kita dan teman-temannya untu me”reject” anak yang melakukan perilaku bullying pada anak kita, misal “biarin dia jangan diajak main”…
  • Menggalang kekuatan orangtua untuk “menyingkirkan” anak yang melakukan bullying pada anak kita.

Mengapa saya sampai pake kata MOHON?

Karena saat saya menulis tulisan ini, terbayang jelas  wajah seorang gadis kecil. Meskipun bertahun-tahun lalu, tapi masih saya ingat dengan jelas wajahnya. Anak ini, karena situasi orangtua yang kurang kondusif, beberapa kali tidak bisa menahan emosi negatifnya. Ditambah dengan guru yang kurang bisa memanage kelas dengan baik, terjadilah perilaku ia membully temannya. Memukul, menendang….Orangtua anak yang dibully, menggalang kekuatan dan membuat petisi yang mengultimatum pihak sekolah untuk mengeluarkan anak ini karena “keamanan anak kami sudah terganggu”. Tidak hanya orangtua yang kekuatannya digalang, si anak yang dibully pun menggalang kekuatan teman-temannya, sehingga tak ada seorangpun anak yang mau menemani si gadis kecil tadi.

Saya masih ingat wajah si gadis kecil, saya masih bisa mendengar teriakannya di sela isak tangisnya: “seluruh sekolah ini benci aku…gak ada yang sayang sama aku, gak ada yang peduli sama aku…aku mau bunuh diri aja…”. Saat itu, saya hanya bisa memeluknya. Saya tidak ingin jadi psikolog saat itu. Lewat pelukan saya, saya hanya ingin mengatakan bahwa dia tidak sendirian. Bahwa … ia melakukan kesalahan, tapi tidak layak diperlakukan demikian oleh orang dewasa…bahwa saya mengerti, yang ia butuhkan adalah bantuan, bukan kebencian….

Begitulah….saya tidak bisa membayangkan….bagaimana kalau benar-benar kejadian si gadis kecil ini dikeluarkan dari sekolah. Bagaimana persepsinya terhadap dunia…Lalu para orangtua…sebenarnya tidak menyelesaikan masalah..hanya menghilangkan masalah. Anak-anak  mungkin akan puas “musuh”nya sudah tidak ada. Tapi apakah ia belajar sesuatu? tidak…

Kalaulah anak yang “bermasalah” itu sebuah apel yang sebagiannya busuk, maka buang saja bagian busuknya…jangan buang apelnya….

http://fitriariyanti.wordpress.com/2013/05/22/lingkaran-setan-bullying-jangan-terjebak/

fitri ariyanti

Fitri Ariyanti Abidin. Dosen Fakultas Psikologi UNPAD. Menempuh pendidikan S1, Profesi Psikolog dan Magister Psikologi Majoring Klinis Anak di Fakultas Psikologi UNPAD. Psikolog di Biro Pelayanan dan Inovasi Psikologi Fakultas Psikologi UNPAD. Salah satu penulis buku “Diary Tumbuh Kembang Anak” (DAR!Mizan, 2006). Ibu dari 4 anak, aktif menulis di blog fitriariyanti.wordpress.com.

Image courtesy of David Castillo Dominici/ FreeDigitalPhotos.net

(Visited 85 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments