Internet dan Anak: Steril? Atau Smart?

29 April 2013

Internet seakan telah menjadi oksigen dalam kehidupan sehari-hari kita. Tak hanya selalu ada di sekitar kita, tapi juga memang kita butuhkan. Sekarang ini, mana tahan hidup sehariiiii aja tanpa internet. Ada yang perlu untuk kirim imel bisnis yang harganya ratusan juta, ada yang butuh internet untuk mencari referensi ilmiah yang sangat signifikan untuk kualitas penelitiannya, ada yang menderita kalau gak ada internet karena gak bisa apdet status, hahaha….

Tak hanya pada orang dewasa, paparan internet terhadap anak-anak kita pun tampaknya semakin sulit untuk dihindari. Ada warnet, bb, ipad, wifi di banyak tempat…itulah realitanya sekarang. Apalagi di kota besar. Apalagi di Bandung.

Internet memiliki karakteristik:

  • Borderlessness
  • Geographical Independence
  • Limited language
  • One to many
  • Low Threshold information distribution
  • Widely Used
  • Portability
  • Lack Of Reliable Geographical Identifiers
  • Reactive Nature
  • Lack Of Central Control
  • Convergence
  • Ubiquitous
  • Anonymity

Karakteristik-karakteristik di atas bagaikan mata pisau yang bisa menguntungkan, namun bisa juga merugikan. Yang menguntungkannya…udah nggak usah dibahas lah ya…seribu satu manfaat yang didapat dari internet. Nah, yang seru bahas yang merugikannya nih…bisa dilihat dari data berikut ini:

  • Rata-rata anak berkenalan dengan internet pornografi berumur 11 tahun. Namun konsumen terbesar pada anak yang berumur 12-17 tahun. Penelitian di Jadebotabek menyebutkan 85 % anak berusia 9-15 tahun telah mengakses pornografi di internet.
  • Penelitian KPAI terhadap 2500 responden anak SMP dan SMU di 12 kota besar—97 % mereka mengakses pornografi.
  • 90% anak berusia 8-16 tahun mengakses pornografi ketika mengerjakan Pekerjaan Rumah.
  • Situs pornografi terhubung ke nama-nama tokoh idola anak-anak—sekitar 26 nama karakter, misalnya Naruto, Pokemon, Spidermen dll.

Serem ya…..jadi…. kita sterilisasi aja gituh, anak-anak kita dari makhluk yang namanya internet itu?

Tanpa mengurangi rasa hormat pada yang berpendapat demikian, saya tidak setuju untuk mensterilisasi anak-anak kita dari internet. Jujur saja, saya dapat segambreng manfaat dari internet. Yang terasa sekali akhir-akhir ini adalah untuk membantu belajarnya Azka. Sebagai emak yang banyak urusan, mengajarkan Azka untuk mencari jawaban PR-PR rumitnya di google amat sangat membantu. Sehingga ketika ibu sampai di rumah, PRnya sudah beres dan ibu punya waktu untuk kegiatan yang sifatnya lebih “afektif”. Demikian juga mendampingi belajar amat sangat terbantu oleh Mas Youtube. Gempa tektonik itu kayak gimana sih? tinggal klik aja di youtube. Beragam kegiatan edukatif buat Hana pun bisa didapat dari situs-situs edukasi semisal cbeebies, disney junior, dll.

Image courtesy of photostock/ FreeDigitalPhotos.net

Image courtesy of photostock/ FreeDigitalPhotos.net

Tentu, tentu saja harus kita waspadai efek negatifnya. Konon katanya ada 3 Cara bagaimana kita sebagai orangtua dalam mengawasi agar anak mengakses internet secara sehat:

1) Ikut terlibat dalam kegiatan online anak. Check aplikasi apa yang digunakan anak, ikut lihat kontennya, kenalkan dengan hal-hal yang “berbahaya” di internet

2)Dorong anak untuk menggunakan internet secara seimbang dengan kegiatan offline. Teknisnya….. (ini sederhana tapi penting banget)… jangan simpan komputer/laptop di kamar anak. Simpanlah di ruang keluarga. Arahkan anak kita menggunakan internet untuk membantu kegiatan akademiknya atau untuk penelusuran hobi.

3)Gunakan beberapa aplikasi untuk “menyaring” informasi negatif dari internet. Misalnya menggunakan parental lock, dll.

Tentunya kita tak selamanya ada bersama anak saat mereka mengakses internet. Apalagi anak remaja. Oleh karena itu, perlu juga mengajarkan anak untuk SMART dalam menggunakan internet.

  • SECRET : Bersikap hati-hati dan tidak memberikan informasi-informasi yang pribadi ketika berinteraksi di internet.
  • MEETING :Bertemu langsung dengan seseorang yang dikenal dari internet adalah berbahaya kecuali didampingi orang tua.
  • ATTACHMENTS : Menerima atau membuka e-mail dari orang yang belum dikenal dapat berbahaya sebab mungkin berisi virus atau kata-kata SARA.
  • RELIABLE :Semua orang dapat menaruh konten apapun yang disukai di internet dan mungkin sekali seseorang berbohong dalam chat rooms.
  • TELL :Katakan pada orang tua atau guru jika seseorang atau sesuatu membuatmu kuatir dan tidak nyaman.

Jadi, saya pilih SMART dibanding STERIL.

http://fitriariyanti.wordpress.com/2013/04/29/internet-dan-anak-steril-atau-smart/

fitri ariyanti

Fitri Ariyanti Abidin. Dosen Fakultas Psikologi UNPAD. Menempuh pendidikan S1, Profesi Psikolog dan Magister Psikologi Majoring Klinis Anak di Fakultas Psikologi UNPAD. Psikolog di Biro Pelayanan dan Inovasi Psikologi Fakultas Psikologi UNPAD. Salah satu penulis buku “Diary Tumbuh Kembang Anak” (DAR!Mizan, 2006). Ibu dari 4 anak, aktif menulis di blog fitriariyanti.wordpress.com.

(Visited 58 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments