Evaluasi Nilai Investasi Pelatihan dengan ROTI

Beberapa waktu lalu saya Praktek Kerja Profesi Psikolog di sebuah BUMN pembuat Pupuk di Bontang. Tidak perlu saya sebut merk lah ya. Saya dulu pernah membahas salah satu makanan kesukaan saya, yaitu roti. Nah, di kota kecil ini saya menemukan roti yang juga enak (saya usahakan menulis tentang ini nanti) dimakan. Entah saya berjodoh dengan roti atau bagaimana, kebetulan saya juga menggarap project pengembangan tools penghitungan ROTI. Nah, jadi meskipun siang tadi bulan puasa, selama praktek kerja saya tetap harus mengadon dan mengunyah roti. Roti apa yang saya maksudkan? Berikut saya kopi saja dari blog yang yang isinya lebih serius:

Seringkali, training dianggap sebagai sebuah pengeluaran. Pandangan ini menyebabkan banyak manajemen perusahaan yang menomorduakan kebutuhan training bagi karyawannya karena menganggap hanya buang-buang dana dan waktu. Pandangan lain yang menganggap bahwa training merupakan bentuk investasi dituntut untuk dapat membuktikan secara objektif bahwa training memang menghasilkan benefit yang dapat dihitung secara finansial.

man using tablets

Image courtesy of Kamruzzaman Rattan/Gettyimages.com

Bertahun-tahun nilai investasi (ROI/ return on investment) untuk pelatihan diasumsikan tidak mungkin untuk dihitung. Pada akhirnya Return on Training Investment (ROTI) dikembangkan menjadi sebuah alat untuk menjawab apakah suatu pelatihan dapat dievaluasi dilihat dari sisi nilai ekonomis atau tidak.

Return on Training Investment (ROTI) adalah perhitungan keuntungan secara finansial Nilai Rupiah Hasil Training dibandingkan terhadap Modal atau biaya Training yang telah dikeluarkan.

Menurut Phillips (2013), proses evaluasi ROTI terdiri dari empat tahapan umum, yaitu perencanaan, pengumpulan data, analisis data, dan pelaporan hasil. Dalam tahap perencanaan dilakukan rencana evaluasi dan mengumpulkan informasi mengenai data awal dan latar belakang penyelenggaraan pelatihan.

Pada tahap pengumpulan data, dilakukan evaluasi yang menghasilkan data mengenai kepuasaan terhadap pelatihan, hasil belajar yang diperoleh, aplikasi hasil pelatihan dalam pekerjaan, dan dampak dalam kinerja.

Tahapan analisis data membuat konversi nilai benefit training ke dalam bentuk keuangan (rupiah) sehingga dapat dihitung dalam bentuk angka. Hasil dalam bentuk angka tersebut akan disampaikan sebagai hasil akhir dalam proses evaluasi ROTI.

 

Langkah menghitung ROTI

Secara praktis, langkah penghitungan nilai ROTI dapat dibagi menjadi lima tahapan, yaitu:
i. Identifikasi pelatihan. Data yang diidentifikasi antara lain, kurikulum pelatihan, tempat dan waktu pelaksanaan, fasilitator, peserta, dan unit analisis.

ii. Daftar alasan pelatihan dilakukan. Dalam hal ini mengumpulkan data mengenai latar belakang dan tujuan pelatihan, manfaat pelatihan yang diperoleh baik yang bersifat tangible maupun intangible

iii. Kalkulasi biaya pelatihan. Biaya pelatihan yang dihitung mencakup:
a) analisa kebutuhan (TNA) dan perencanaan
b) pengembangan materi dan kurikulum
c) biaya registrasi
d) fee trainer dan konsultan
e) peralatan dan perlengkapan
f) fasilitas
g) akomodasi
h) gaji selama pelatihan

iv. Kalkulasi benefit pelatihan. Benefit pelatihan dapat dikategorikan menjadi:
a) Penghematan waktu
b) Peningkatan produktifitas/ ouput
c) personnel savings
d) peningkatan kompetensi
e) Nilai tambah pekerjaan

v. Kalkulasi nilai Return On Training Investment (ROTI)
Nilai ROTI dapat dilihat dari benefit-cost ratio atau nilai ROI. Adapun rumus perhitungan ROTI yang digunakan adalah:

Benefit-cost Ratio (BCR) =      Total Net Benefit

                                                     Total Training Cost

 

ROI ( % ) = ( Total Net Benefit – Total Training Cost ) x  100%

                                          ( Total Training Cost)

Dimana:
BCR merupakan nilai perbandingan antara manfaat yang diperoleh dengan keseluruhan biaya yang dikeluarkan.Nilai BCR yang menguntungkan adalah jika lebih dari 1.
Persentase ROI merupakan perbandingan antara selisih nilai manfaat pelatihan dan biaya pelatihan dibandingkan dengan biaya pelatihan.ROI dinyatakan dalam bentuk persentase.Nilai ROI dikatakan menguntungkan jika nilianya lebih dari 100%.
TotalNet Benefits merupakan keuntungan bersih yang diperoleh dari hasil penerapan pelatihan setelah memperhitungkan faktor isolasi. Sedangkan Total training cost adalah jumlah total biaya pelatihan yang dikeluarkan.

 

Faktor Isolasi

Dengan melihat begitu banyaknya hal yang mungkin berpengaruh pada kinerja seseorang maka sebagai peneliti kita harus memastikan bahwa faktor pengetahuan dan skill yang diperoleh dari pelatihan merupakan hal yang berpengaruh terhadap peningkatan kinerja seseorang dan bukan faktor lain. Untuk memastikan hal tersebut Phillips (2003) menganjurkan beberapa metode. Berdasarkan pengalaman penulis, ada dua metode yang relatif mudah diterapkan di lapangan, yaitu dengan control groups atau skala keyakinan pengaruh pelatihan.

Control Groups sebenarnya merupakan metode isolasi yang paling akurat, yang dilakukan dengan cara membandingkan kinerja antara kelompok yang mengikuti program training dengan kelompok lain (control groups) yang tidak mengikuti program training. Hanya saja, metode ini juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain sangat sulitnya untuk mendapatkan control groups yang benar‐benar identik dengan kelompok yang mengikuti program training selain dari pengaruh training itu sendiri. Kelemahan lainnnya adalah apabila kelompok‐kelompok yang dibandingkan tersebut berada di lokasi yang berbeda, maka terdapat pengaruh lingkungan yang berbeda pula.

Cara kedua adalah menggunakan skala keyakinan pengaruh pelatihan. Metode ini dilakukan dengan cara meminta peserta/ responden untuk memperkirakan besarnya pengaruh training terhadap pekerjaannya dalam ukuran persentase. Pertimbangan penggunaan metode ini antara lain adalah bahwa peserta pelatihan merupakan pihak yang terlibat langsung dan oleh karenanya paling mengetahui perubahan apa saja yang terjadi setelah dia mengikuti program pelatihan. Sebagai penguat, atasan dari responden juga diminta untuk memperkirakan persentase dampak pelatihan terhadap perubahan kinerja responden yang bersangkutan.

 

Nah, ada gambaran tentang ROTI ini? Jika tertarik atau ingin diskusi lebih lanjut saya silakan kontak saya:)

http://rifzann.blogspot.com/2013/11/evaluasi-nilai-investasi-pelatihan.html

M. Rifzanniardi Luthfi

Penulis adalah alumni Fakultas Psikologi Unpad angkatan 2004. Ia adalah konsultan SDM di Idea Consultant. Sebelumnya menjadi Training & Development Specialist di PT. Santosa Agrindo, anak perusahaan JAPFA Group. Saat ini mengambil kuliah Magister Profesi Psikologi Industri dan Organisasi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dapat dikunjungi di blognya rifzann.blogspot.com.

(Visited 373 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Comments