“Critical Periods” VS “Sensitive Periods”

 

mother and daughter

Image courtesy of Ambro/ FreeDigitalPhotos.net

8 Nov 2012

Dalam dunia perkembangan manusia, kita mungkin sering mendengar frase “critical periods”  atau “masa kritis” (biasanya paling sering kita denger di iklan ya..;). Secara umum, biasanya frase ini dimaknai sebagai “waktu dimana stimulasi untuk aspek tertentu perlu dilakukan. Jika waktu tersebut sudah terlewati, ya sudahlah……”. Misalnya, diyakini bahwa usia 0-5 tahun adalah waktu kritis untuk daya ingat anak, sehingga di rentang usia ini, ibu-ibu yang ingin anak-anaknya menjadi hafidz, harus mulai program menghafal AlQur’an bagi anak-anaknya. Karena kalau sudah lewat usia 5 tahun, sudahlah….

Saya lebih sependapat dengan Susan Noelen-Hoeksema dan kawan-kawannya yang menyusun buku “Atkinson& Hilgard’s Introduction to Psychology 15 edition, 2009″ yang menyatakan bahwa “critical period” lebih tepat digunakan untuk aspek fisik dalam perkembangan. Sesuai dengan definisinya: “critical periods is crucial time periods in person’s life when specific events occur if development is to preceed normally” . Keyword dari critical periods adalah “irreversible”.

Sedangkan untuk aspek psikologis, frase yang lebih tepat untuk digunakan adalah “sensitive periods”, yaitu “periods that are optimal for a particular kind of development. If a certain behaviour is not well established during this sensitive period, it may not develop to its full potential”. Misalnya, usia 0-1 tahun adalah sensitive period untuk terbentuknya ikatan emosional-attachment- antara anak dan orangtuanya. Attachment ini diyakini akan menjadi “basic trust” bagi anak untuk menjalani kehidupan di masa depannya. Nah, jika di usia 0-1 tahun ini karena satu dan lain hal ikatan emosionalnya  belum terbentuk, maka jangan ragu untuk memulainya di usia yang lebih lanjut.

Konsep sensitive periods ini juga tampaknya senada dengan penelitian mutakhir di bidang biopsikologi, yang semakin menemukan bukti bahwa otak manusia ini, sangatlah plastis. Dosen biopsikologi saya pernah menceritakan ada pasien yang sebelah otaknya rusak, namun ajaibnya, belahan otak yang satunya, bisa mengcover “tugas” dari belahan otak ynag rusak. Tentu tidak optimal seperti kalau kedua belahan otaknya berfungsi baik, namun… itu menunjukkan bahwa otak itu begitu plastis.

So…..the good news nya buat aplikasi di dunia parenting adalah…..
It’s never too late to stimulate our childrens !!! Kalau ibu baru tau sekarang, baru dapet ilmu sekarang, jangan menyerah…. jangan pesimis…. kita baru terlambat dalam menumbuhkembangkan dan mengajarkan sesuatu pada anak kita saat…..otak anak kita sudah mati.

Yang waktu anaknya masih bayi kurang sering meluk, peluk-peluk anaknya sekarang…..yang waktu usia prasekolahnya belum dilatih untuk belajar menahan keinginan, mulai aja sekarang…..

It’s never too late….

http://fitriariyanti.wordpress.com/2012/11/08/critical-period-vs-sensitive-period/

fitri ariyanti

Fitri Ariyanti Abidin. Dosen Fakultas Psikologi UNPAD. Menempuh pendidikan S1, Profesi Psikolog dan Magister Psikologi Majoring Klinis Anak di Fakultas Psikologi UNPAD. Psikolog di Biro Pelayanan dan Inovasi Psikologi Fakultas Psikologi UNPAD. Salah satu penulis buku “Diary Tumbuh Kembang Anak” (DAR!Mizan, 2006). Ibu dari 4 anak, aktif menulis di blog fitriariyanti.wordpress.com.

(Visited 104 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Comments