Help, I Have Creativity Block!

light bulb

Image courtesy of Salvatore Vuono/ Freedigitalphotos.net

Mungkin banyak dari kita yang sering mengalami creativity block. Creativity block ini ditandai dengan tidak mengalirnya ide-ide kreatif atau inspirasi yang kita butuhkan untuk membuat suatu karya atau menyelesaikan masalah tertentu. Kalau deadline sudah mendekat, creativity block ini memang bisa bikin frustrasi, bahkan mungkin bisa berlanjut jadi kecemasan bahwa kita tidak akan mampu menyelesaikan proyek kreatif kita. But creativity block is not the end of the world! Hal pertama yang bisa kita lakukan di antaranya mengenali alasan kebuntuan ini. Berikut alasan-alasan yang paling umum dari creativity block:

1. Terpaku dengan satu cara

Kita terbiasa melihat satu masalah dengan satu cara tertentu. Cara ini bisa jadi efektif waktu digunakan dulu, tapi masalah yang beda mungkin membutuhkan cara melihat yang berbeda juga. Misalnya, kalau orang-orang biasa membaca buku dari depan ke belakang, kita dapat mencoba membaca buku dari belakang ke depan, hanya agar kita melihat sesuatu dengan cara yang tidak biasa dan memperoleh ide kreatif baru.

2. Ketakutan

Menjadi kreatif biasanya membuat kita harus mengeksplorasi hal-hal yang belum pernah dicoba sebelumnya. Kalau kita merasakan tekanan untuk bisa langsung berhasil atau takut dinilai buruk oleh orang lain, kreativitas kita bisa terhambat. Kreativitas digerakkan oleh kata-kata, “Kalau kayak begini, gimana ya?”. Makin banyak hal yang kita coba, makin mudah kita untuk menjadi kreatif. Kalau kita terlalu terpaku untuk menjadi sempurna, menjadi “benar”, kreativitas berhenti mengalir.

3. Kesalahan sistem kerja

Ada waktu-waktu dimana kerja kita menjadi sangat efektif atau kurang efektif. Ada orang yang merasa lebih berenergi di pagi hari, ada juga yang di malam hari. Mengenali waktu paling efektif untuk proses kreatif kita bisa sangat membantu mengatasi kebuntuan. Kalau kita merasa terlalu lelah dan tidak merasa terinspirasi di malam hari, jangan mengerjakan proyek-proyek kreatif kita di malam hari. Coba waktu lain, misalnya di pagi hari sebelum pergi kuliah/bekerja.

4. Ide yang belum terbentuk sempurna

Tidak semua ide bisa mencapai bentuk utuhnya dalam sekali waktu. Mungkin kita punya banyak tumpukan ide yang terlihat saling tidak berhubungan sama sekali, atau satu ide yang masih terasa kurang pas. Yang kita butuhkan adalah waktu untuk tidak memikirkan ide-ide itu dulu, sampai mendapatkan inspirasi untuk melengkapi ide yang sudah kita punya. Biasanya ini disebut sebagai momen “eureka!”. Kita bisa melakukan kegiatan sehari-hari, bersantai, nonton film, jalan-jalan, atau bertemu dan ngobrol dengan orang-orang. Biasanya inspirasi tiba-tiba datang di saat-saat seperti ini.

5. Kurang informasi

Kita sulit mengembangkan proses kreatif kita karena kurang punya informasi tentang subjek yang sedang kita garap. Ketika kita misalnya sedang berusaha menulis skrip film tentang sekte sesat pemuja tiang listrik (oke, itu bercanda, tapi maksudnya sekte sesat apapun, atau tentang tema khusus seperti autism), mungkin kita merasa kurang bisa menulis ceritanya karena masih kurang banyak membaca tentang hal itu. Dalam bidang kreatif, informasi adalah senjata. Makin banyak informasi yang kita punya, makin kaya hasil kreativitas kita.

6. Kebosanan

Ada kalanya kita sudah terlalu lama mengerjakan suatu proyek kreatif, sampai kita betul-betul merasa “muak” dan merasa ingin lari dari proyek itu. Di saat seperti itu, agak sulit untuk punya ide-ide baru yang cemerlang. Kita bisa meninggalkan pekerjaan kreatif kita sejenak.

7. Kelelahan

Kita sudah bekerja terlalu lama dan terlalu keras, sehingga otak kita sudah kehabisan tenaga untuk berpikir jernih. Debbie Millman, seorang pekerja kreatif, menempatkan “tidur” di solusi nomor satu untuk mengatasi kebuntuan kreativitas.

8. Masalah pribadi

Masalah di luar proses kreatif seperti misalnya masalah keuangan atau pertengkaran dengan orang terdekat bisa jadi menghambat kita untuk berpikir kreatif. Kita bisa menyiasati ini dengan menggunakan masalah itu sebagai inspirasi untuk proyek kreatif kita! Tapi kalau terus kepikiran, kita bisa mengesampingkan proyek kita dan menyelesaikan masalah itu terlebih dahulu.

9. Buat apa?

Bisa jadi proses kreatif kita terhambat karena kita juga tiba-tiba merasa proyek kreatif yang kita lakukan tidak ada artinya. Kita sedang mengerjakan novel, dan kita merasa novel itu kurang bagus tidak akan bisa diterbitkan juga nantinya. Ini membuat pikiran kita menghentikan dirinya sendiri. Mengkaji ulang motivasi kita bisa jadi solusi untuk alasan ini. Setelah menemukan alasan kuat untuk melanjutkan proyek, kita bisa lebih lama bertahan untuk menemukan dan mengeksekusi ide-ide terbaik kita.

 

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi creativity block, dan semuanya tergantung pada apa yang sedang kita butuhkan saat itu. Mudah-mudahan setelah alasannya ditemukan, dan solusinya bisa diaplikasikan, kreativitas kita bisa mengalir lagi.

 

Penulis: Farida Susanty adalah alumni Fakultas Psikologi Unpad angkatan 2008. Saat ini ia bekerja sebagai reporter di majalah remaja ibukota serta masih aktif menekuni dunia fiksi. Telah mengeluarkan dua buku, yaitu novel “Dan Hujan pun Berhenti” (2007) yang mendapatkan penghargaan Khatulistiwa Awards 2006-2007 dan kumpulan cerpen “Karena Kita Tidak Kenal” (2010) yang salah satu cerpennya difilmkan di LA Lights Indie Fest 2011 serta menjadi nominasi FFI 2012. Farida juga ikut menulis di buku-buku kolaborasi, seperti Empat Elemen volume 2 (2011), The Journeys (2011), dan A to Z by Request (2013). Bisa disapa di Twitter-nya, @faridasusanty.

(Visited 35 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Comments