Tiga Cara Sukses Jadi Pembicara Todongan

Anda diundang pada suatu acara. Rencananya hanya sebagai peserta, penggembira yang ikut memenuhi ruangan. Namun, apa daya, ada penyelenggara yang mengenali Anda, dan menilai Anda layak untuk jadi lebih dari sekedar pengunjung.

Maka Anda ditodong jadi pembicara, apakah itu sambutan, keynote speech, atau pemberi penutup. Apa yang harus dilakukan? Anda belum menyiapkan bahan apapun!

Bagi Anda yang pernah ada di posisi tersebut, jangan khawatir, kali ini kita akan bahas beberapa cara untuk bisa selamat dari jebakan pembicara todongan.

Teknik ini cukup baku sehingga bisa digunakan pada acara formal, seperti pembukaan seminar, event, rapat, atau acara seremonial lainnya. Namun, teknik ini juga cukup cair untuk bisa diterapkan pada acara yang lebih santai seperti sambutan acara ulang tahun, reuni, atau sekedar kumpul-kumpul keluarga.

Setidaknya ada tiga cara yang bisa kita gunakan saat diminta menjadi pembicara mendadak. Teknik impromptu sederhana yang tetap berkesan walau dengan persiapan minim. Teknik Pertama adalah “mengorbankan orang lain.” Kemudian ada juga teknik “kembali ke masa lalu.” Lalu terakhir adalah “menerima.”

Mari kita bahas satu per satu.

  • Teknik “mengorbankan” orang lain

Maksud mengorbankan disini bukanlah Anda meminta orang lain saja yang menjadi pemberi sambutan. Anda tetap menjadi orang yang memberi sambutan, namun yang kita sampaikan adalah membahas orang lain, yang juga hadir di ruangan.

Misalnya kita diminta oleh panitia acara seminar untuk memberi sambutan. Kebetulan kita kenal dengan pembicaranya, atau kenal dengan ketua panitianya, atau siapapun yang berkaitan dengan acara. Maka kita bisa memberi sambutan yang membahas sisi lain orang tersebut yang bisa jadi tidak banyak orang lain ketahui.

Kata dalam kurung adalah komentar saya, kata-kata yang bisa Anda ucapkan adalah yang dicetak miring. Silakan sesuaikan dengan situasi dan kondisi yang Anda hadapi.

Terima kasih saya telah diberi kesempatan berbicara di sini. Sungguh kehormatan bagi saya bisa  berbicara dihadapan Anda. (ini pembukaan standar, Anda bisa menambahkan dengan kata-kata pembukaan standar lainnya seperti “yang saya hormati” dan seterusnya, hindari minta maaf, apalagi bilang-bilang kalau jadi pembicara dadakan).

Acara ini sungguh berkesan bagi saya karena dihadiri oleh seseorang yang memiliki kisah perjuangan panjang, yaitu ibu Hesti, beliau adalah yang nanti akan menjadi pembicara pada kegiatan ini. Diantara Anda mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa beliau ini sudah gagal dalam 41 jenis usaha, namun pada percobaan ke 42 usaha yang dipilihnya akhirnya berhasil. Maka saya yakin betul bahwa apa yang akan beliau sampaikan adalah sesuatu yang sangat praktis dan memiliki landasan pengalaman yang kuat. (Silakan cari hal yang relevan dari orang tersebut terkait dengan tema acara)

Atau apabila kita kenal dengan ketua panitianya.

Acara ini saya yakin akan bermanfaat bagi Anda karena dikelola oleh seseorang yang memiliki pengalaman event organizing yang mumpuni, yaitu pak Sufyan, beliau adalah ketua panitia pada kegiatan ini. Di antara Anda mungkin sudah mengenal kegiatan pelatihan menulis karya ilmiah populer, workshop laporan efektif, dan lain sebagainya, semuanya berjalan sukses, ini menunjukkan bahwa beliau juga tentunya telah berusaha keras membuat Anda mendapat manfaat sebanyak-banyaknya dari acara ini. Saya yakin betul acara ini akan berjalan sukses dan memberikan kesan positif bagi kita semua.

Teknik ini menarik karena membuat fokus pendengar bukan hanya pada kita sebagai pembicara namun juga pada orang lain. Selain itu juga membuat peserta lebih mengenal orang yang kita angkat profilnya dan membuat kesan positif pada acara secara keseluruhan.

  • Teknik kembali ke “masa lalu”

“Waduh, saya tidak punya orang yang dikenal di acara tuh”

Apabila ini yang menjadi kendala, maka cara kedua ini bisa Anda coba untuk lepas dari todongan. Sederhananya adalah ceritakan saja bagaimana proses Anda sampai mengambil keputusan untuk hadir. Manusia senang sekali dengan cerita, dan ini adalah salah satu cerita personal Anda yang bisa Anda bagi dan membuat peserta berempati dengan Anda.

Contohnya seperti berikut:

Pertama kali saya mendapat informasi tentang acara ini melalui email dari rekan saya. Saya sudah sering mengikuti acara seperti ini dan saya tidak terlalu tertarik sebenarnya. Namun kemudian saya melihat bahwa acara ini memakan waktu jauh lebih panjang dari pelatihan serupa. Saya penasaran, apa yang membuat waktunya sedemikian panjang?

Ternyata lingkup pembahasannya jauh lebih mendalam dari yang selama ini pernah saya ikuti. Hal ini menarik saya untuk ikut hadir pada acara ini. Bagi Anda yang juga memilih untuk hadir pada hari ini, saya ucapkan selamat, karena Anda sudah memilih acara yang pembahasannya lebih mendalam dan komplit.

Aplikasi pada kegiatan yang lebih tidak formal:

Waktu itu saya baru saja selesai meeting, tiba-tiba ada telepon dari nomor yang tidak saya kenal. Saya tidak biasanya mengangkat telepon dari nomor asing, namun, entah mengapa saya merasa ingin mengangkatnya. Ternyata kang Ryan yang menelepon, mengabarkan akan ada acara ini.

Saya langsung menyanggupi. Sudah sangat lama sebenarnya saya menantikan ada acara reuni seperti ini. Saya tidak mengharapkan banyak yang hadir, namun ternyata yang bisa datang jauh melebihi harapan saya.

Sajak awal terbayang saya akan bertemu dengan teman-teman seangkatan dari SMAN 8 Bandung. Mengenang berbagai kisah bersama yang pernah kita lalui, sekaligus menjalin kembali hubungan, siapa tahu ada perbaikan masa depan yang bisa dilakukan bersama.

Teknik ini membuat peserta merasa senasib dengan kita sebagai pembicara. Karena mereka juga pasti melalui serangkaian pertimbangan sebelum akhirnya mengambil keputusan untuk hadir. Apa yang kita sampaikan akan menguatkan mereka bahwa keputusan mereka untuk hadir sudah tepat. Dampaknya mereka akan merasa nyaman untuk terus mengikuti acara.

  • Teknik menerima

Kita diminta menjadi pemberi sambutan pada dasarnya ya memang untuk menyambut. Maka sederhananya yang perlu kita lakukan adalah menerima tamu. Cek kehadiran, sampaikan terima kasih atas kehadiran, berikan sambutan hangat, lalu sambungkan dengan acara inti.

Begini kurang lebih contohnya:

Selamat datang di Hotel Vertikal ini di acara seminar public speaking yang diadakan oleh PT Bina Insan Performa, terima kasih Anda sudah menyempatkan hadir dari berbagai tempat di seluruh Indonesia. Tadi saya melihat ada yang datang dari Surabaya, Balikpapan, Malang, dan berbagai tempat lain.

Saya ingin tahu mohon beri isyarat dengan tangan siapa saja yang dari Surabaya (acungkan tangan kita untuk memberi contoh, lalu tunggu respon pendengar, amati siapa saja yang mengacungkan tangan)

Kalau yang dari Malang siapa saja ya? (acungkan tangan kita untuk memberi contoh, lalu tunggu respon pendengar, amati siapa saja yang mengacungkan tangan)

Ada yang dari Bali? (acungkan tangan kita untuk memberi contoh, lalu tunggu respon pendengar, amati siapa saja yang mengacungkan tangan, Anda bisa mengulangi untuk beberapa daerah yang jumlah kehadirannya cukup banyak)

Sebuah kebahagiaan bisa bertemu dengan Anda sekalian. Jauh-jauh dari berbagai daerah. Kami harap selama keberjalanan acara ini Anda merasa nyaman dengan layanan panitia.  Apabila ada yang kurang berkenan, kami harap Anda bisa langsung saja sampaikan pada panitia yang bertugas, supaya segera dapat ditindak lanjuti.

Acara ini akan segera kita mulai, mari kita siapkan diri kita untuk mendapatkan manfaat sebanyak-banyaknya dari acara ini.

Teknik ini akan membuat peserta merasa “dianggap” kehadirannya. Ini baik bagi semangat peserta, terutama mereka yang sudah jauh-jauh meluangkan waktu untuk hadir dari lokasi yang jauh.

Nah, begitulah tiga tips yang bisa Anda gunakan saat ditembak jadi pembicara dadakan. Jadi tidak perlu lagi grogi dan khawatir kalau ada yang mendekati kita lalu berkata “punten Kang, bisa jadi yang ngasi sambutan nggak?”

ervan abu

Ervan Abu Nangim

Alumni Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, CEO PT. Bina Insan Performa, Public speaker, trainer, dan pengelola blog Ervan’s Lair (www.ervanabu.com)

(Visited 300 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments